Jakarta, Arina.id — Penelitian berjudul Pengaruh Idul Fitri terhadap Kesejahteraan Psikologis oleh Wulan Afriyana dari IAIN Pontianak mengungkapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat hubungan sosial dan meredakan konflik di tengah masyarakat.
Penelitan yang telah dimuat dalam Jurnal Pendidikan, Kebudayaan, dan Keislaman tersebut dilakukan pada 10–15 April 2024 di dua wilayah berbeda, yakni kawasan perkotaan di Tanjung Hilir, Pontianak Timur, dan wilayah pedesaan di Parit Masigi, Sungai Ambawang Kuala, Kabupaten Kubu Raya.
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa suasana Lebaran mampu menghadirkan kembali kedekatan yang sempat renggang, sekaligus mendorong lahirnya sikap saling memaafkan.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 55 persen responden mengaku selalu merasa terhubung dengan keluarga maupun teman selama Idul Fitri. Sementara itu, 30 persen responden menyatakan sering merasakan kedekatan tersebut, 10 persen menjawab kadang-kadang, dan hanya 5 persen yang merasa jarang terhubung.
Penelitian melibatkan 50 responden berusia 18 hingga 60 tahun, dengan komposisi 60 persen perempuan dan 40 persen laki-laki. Dari sisi pekerjaan, responden terdiri atas 40 persen pekerja swasta, 30 persen pegawai negeri sipil, 20 persen wiraswasta, dan 10 persen mahasiswa.
Temuan ini menegaskan bahwa Idul Fitri menjadi ruang sosial yang efektif untuk menyambung kembali relasi yang sempat terputus. Tradisi silaturahmi yang menguat pada momen ini dinilai mampu menciptakan suasana yang mendukung rekonsiliasi, baik dalam lingkup keluarga maupun pertemanan.
Tak hanya mempererat hubungan, Idul Fitri juga terbukti membantu meredakan konflik emosional yang telah berlangsung sebelumnya. Perasaan negatif seperti iri, dengki, hingga dendam yang mungkin masih tersimpan sebelum Ramadan, perlahan mencair seiring datangnya suasana saling memaafkan.
Sebagian besar responden mengakui hal tersebut. Sebanyak 60 persen menyatakan lebih mudah memaafkan dan melupakan konflik setelah Idul Fitri. Sementara 25 persen responden merasa tidak pasti, dan 15 persen lainnya menyatakan tidak mengalami perubahan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dampak Idul Fitri tidak berhenti pada kebahagiaan sesaat. Momentum ini dinilai mampu mengurangi stres yang muncul akibat rutinitas harian yang padat. Aktivitas khas Lebaran seperti berkumpul dengan keluarga, berbagi makanan, hingga bersedekah turut memberikan efek positif bagi kesehatan mental.
Kegiatan sosial selama Idul Fitri bahkan menjadi salah satu faktor penting dalam meredakan tekanan psikologis. Sebanyak 45 persen responden menyatakan sangat setuju bahwa aktivitas sosial dapat mengurangi stres, disusul 35 persen yang setuju, 15 persen tidak pasti, dan 5 persen yang tidak setuju.
Lebih jauh, Idul Fitri juga dipandang sebagai titik refleksi yang mendorong perubahan dalam diri individu. Perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai akhir dari Ramadan, tetapi juga sebagai awal baru untuk memperbaiki sikap, cara pandang, dan arah hidup ke depan.
Optimisme pasca-Lebaran pun terlihat cukup kuat. Sebanyak 50 persen responden mengaku merasa lebih optimistis dalam meraih masa depan setelah merayakan Idul Fitri. Sementara 30 persen menyatakan tidak pasti, dan 20 persen lainnya merasa tidak ada perubahan yang berarti.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa Idul Fitri memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar tradisi tahunan. Selain sebagai perayaan keagamaan, momen ini juga berfungsi sebagai mekanisme sosial dan psikologis yang membantu masyarakat memperbaiki hubungan, mengurangi beban emosional, serta menumbuhkan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.
Editor: Kendi Setiawan


