Dark
Light
Dark
Light

Saat AS Timbang Proposal Gencatan Senjata Hamas, Israel Malah Bersiap Duduki Penuh Gaza

Saat AS Timbang Proposal Gencatan Senjata Hamas, Israel Malah Bersiap Duduki Penuh Gaza

Arina.id - Hamas telah mengusulkan proposal gencatan senjata yang difasilitasi Mesir dan Qatar pada Senin kemarin, 18 Agustus 2025. Proposal gencatan tersebut kini juga sudah diserahkan ke Amerika Serikat (AS).

Akan tetapi posisi Washington sekarang masih menimbang dan terus mendiskusikan gencatan senjata di Jalur Gaza Palestina dengan Hamas dan faksi-faksi perlawanan Palestina itu. Pernyataan ini disampaikan Gedung Putih pada Selasa, 19 Agustus 2025.

"Mengenai proposal yang kini telah diterima oleh Hamas, Amerika Serikat masih membahasnya," kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan, seperti dilaporkan Anadolu.

Leavitt menjelaskan, Presiden AS Donald Trump akan memberikan pendapatnya mengenai proposal tersebut sesegera mungkin. Juru bicara itu juga menyiratkan cuitan Trump di media sosial Truth Social-nya kemungkinan memengaruhi keputusan Hamas, meskipun ia tidak memberikan bukti apa pun.

"Saya tidak berpikir ini suatu kebetulan bahwa Hamas menerima proposal ini setelah Presiden Amerika Serikat mengunggah pernyataan yang sangat tegas tentang konflik ini di Truth Social kemarin," katanya. 

Media Israel melaporkan proposal Hamas mirip dengan kerangka awal yang diajukan oleh utusan AS Steve Witkoff, yang mencakup pembebasan 10 sandera yang masih hidup dan 18 jenazah sebagai imbalan atas gencatan senjata selama 60 hari.

Trump pada Senin menulis bahwa pembebasan sandera hanya akan terjadi ketika "Hamas dihadapi dan dihancurkan," seraya menambahkan bahwa semakin cepat hal ini terjadi, "semakin besar peluang untuk sukses."

Menurut perkiraan Israel, sekitar 50 orang sandera masih berada di Gaza, termasuk 20 yang diyakini masih hidup. Di sisi lain, Israel menahan lebih dari 10.800 warga Palestina di penjaranya dalam kondisi yang memprihatinkan. Kelompok-kelompok HAM melaporkan warga Palestina yang ditahan mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang telah menyebabkan banyak kematian.

Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 62.000 warga Palestina di Jalur Gaza. Kampanye militer tersebut telah menghancurkan wilayah kantong tersebut dan membawa penduduknya ke ambang kelaparan.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait agresinya di wilayah kantong tersebut.

Israel persiapan menduduki Gaza

Sementara itu tentara cadangan Israel mulai menerima panggilan terkait rencana pendudukan Kota Gaza, meskipun Hamas telah menerima usulan gencatan senjata yang diserahkan Mesir dan Qatar, lapor media lokal pada Selasa.

Penyiar Channel 12 mengatakan pasukan Israel telah mengeluarkan perintah darurat yang disebut "Order 8" kepada tentara cadangan untuk melakukan operasi menduduki Kota Gaza.

Laporan itu mengatakan puluhan ribu tentara cadangan diperkirakan akan dipanggil dalam beberapa hari ke depan. Kepala militer Eyal Zamir juga memperpanjang masa tugas prajurit cadangan yang saat ini bertugas.

Media itu menambahkan bahwa langkah militer baru ini merupakan persiapan untuk kemungkinan pendudukan Kota Gaza. Kemudian tentara Israel saat ini juga sedang melakukan semua persiapan akhir untuk melaksanakan rencana pendudukan Gaza.

Channel 12 menekankan, perundingan mengenai pertukaran tahanan dengan Hamas kemungkinan terjadi di tengah serangan, dan militer Israel tidak akan berhenti hingga perjanjian tercapai dan ditandatangani. Selasa pagi, Zamir menguraikan rencana invasi, termasuk meningkatkan kekuatan pasukan Israel di Gaza utara.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo