Arina.id. Militer Israel mulai sasar Suriah hingga menguasai zona penyangga demiliterisasi yang dibikin berdasarkan gencatan senjata pada tahun 1974. Serangan dilakukan pasca terjadinya kudeta terhadap eks Presiden Suriah, Bashar Al-Assad.
Menurut laporan AP News pada Selasa, 10 Desember 2024, Israel berdalih aksi ini hanya bersifat sementara. Tujuannya demi mengamankan wilayah perbatasan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut pasukan Militer Israel mulai melakukan pergerakan dengan cara mengendalikan zona penyangga demiliterisasi seluas sekitar 400 kilometer persegi di wilayah Suriah.
Zona penyangga antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel itu dibentuk PBB pasca perang di Timur Tengah tahun 1973 silam.
PM Israel Benjamin Netanyahu Kunjungi Dataran Tinggi Golan
Benjamin Netanyahu diketahui sudah mengunjungi kawasan Dataran Tinggi Golan. Katanya, pasukan Suriah sudah meninggalkan posisinya dan penguasaan zona penyangga dirasa penting karena menjadi wilayah pertahanan sementara.
Mengutip Antaranews, Senin, 9 Desember 2024, militer Israel meluncurkan serangan udara sepanjang Minggu (8/12) malam hari. Mereka mentargetkan kurang lebih 100 titik di Suriah usai dilakukan pendudukan atas Gunung Hermon di Dataran Tinggi Golan.
Sebagaimana menurut Channel 12 Israel, serangan dalam skala besar itu menyasar pangkalan militer dan stasiun pertahanan udara.
Kemudian markas intelijen, gudang rudal jarak pendek dan jarak jauh, pusat produksi senjata, hingga persediaan senjata non-konvensional. Belum lagi sejumlah lokasi di Daraa dan Damaskus (Suriah selatan) hingga Masyaf (Suriah utara).
Militer Israel Incar Bandara Damaskus Suriah
Al-Jazeera pada hari yang sama, Selasa, 10 Desember 2024, juga mewartakan pasukan Israel telah melakukan serangan dalam jumlah skala besar di seluruh Suriah.
Mereka disebut mentargetkan tiga bandara utama dan infrastruktur militer strategis lain, termasuk yang letak di Damaskus.
Menurut Pertahanan Sipil Suriah, petugas pemadam kebakaran memadamkan api di Damaskus setelah serangan Israel yang menyasar pusat penelitian ilmiah di pinggiran kota.
"Kami mengkonfirmasi bahwa tidak ada bukti adanya asap beracun yang tidak biasa selama pemadaman api, dan tidak ada kasus mati lemas yang diamati di antara warga sipil," ujar mereka, seperti ditulis via X.
Editor: Abdul Fatah


