Jakarta, Arina.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan mengambil alih seluruh Gaza dan bersiap membumihanguskan wilayah yang masih menjadi otoritas Palestina itu. Sumpah Netanyahu tersebut merupakan respons dari cawe-cawe tiga negara: Prancis, Inggris dan Kanada.
Sebelumnya, tiga negara yang semula bersekutu dengan Israel: Prancis, Inggris dan Kanada, berbalik arah mengecam upaya negeri zionis yang terus memperluas eskalasi perang di tengah gencatan senjata dengan para pejuang Palestina. Serangan-serangan mengerikan serdadu Israel dalam beberapa hari kemarin justru menghambat upaya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Seperti dilaporkan Theguardian, Israel yang berniat menjadikan seluruh Kota Gaza sebagai palagan pertempuran, membombardir kota menggunakan pesawat tempur secara gelap mata, menyasar apa dan siapa saja termasuk warga sipil hingga menewaskan lebih dari 60 orang. Menteri Keuangan Zionis Israel, Bezalel Smotrich, menegaskan tentara Israel akan "memusnahkan" apa saja yang tersisa dari Gaza.
Serangan tidak manusiawi Israel inilah yang kemudian dilawan oleh Prancis, Inggris dan Kanada. "Kami tidak akan berdiam diri sementara pemerintah Netanyahu mengejar tindakan mengerikan ini. Jika Israel tidak menghentikan serangan militer yang diperbarui dan mencabut pembatasan bantuan kemanusiaan, kami akan mengambil tindakan konkret lebih lanjut sebagai tanggapan," kata perwakilan pemerintah sekutu dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (19/05/2025) kemarin.
Namun Netanyahu menanggapi pesan itu, mengatakan Israel akan terus berjuang sampai kemenangan total tercapai atas Hamas di Gaza. Ia mengaitkan tekanan tiga negara tersebut terhadap Israel sebagai bentuk dukungan kepada apa yang disebut sebagai "serangan genosida" kepada Israel oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
"Para pemimpin di London, Ottawa dan Paris menawarkan hadiah besar untuk serangan genosida terhadap Israel pada 7 Oktober, sambil membiarkan lebih banyak kekejaman semacam itu," kata Netanyahu membela diri.
Di sisi lain, dunia internasional sampai sekarang terus menekan Israel agar memperlonggar blokade dan mengizinkan bantuan kemanusiaan bisa masuk untuk mencegah krisis kelaparan warga Gaza pada Minggu, 18 Mei 2025. Hampir 24 jam kemudian PBB mengatakan sembilan truk bantuan telah diizinkan untuk masuk.
Namun belakangan, otoritas Israel menegaskan kembali niatnya untuk menguasai Jalur Gaza secara penuh, dan menolak segala bentuk kesepakatan untuk mengakhiri perang. "Setidaknya masih ada 20 sandera yang dipastikan hidup di Gaza, dan sekitar 38 lainnya diyakini telah tewas,” kata Pemimpin Otoritas Israel Netanyahu dalam konferensi pers di kantornya di Yerusalem Barat, Rabu, 21 Mei 2025.
Seperti dikutip dari Antara, saat ini lebih dari 10.100 warga Palestina masih ditahan di penjara-penjara Israel dalam kondisi yang digambarkan oleh organisasi HAM Palestina dan Israel sebagai bentuk penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, sebut laporan media dan kelompok hak asasi manusia.
Netanyahu menyatakan Israel hanya bersedia mempertimbangkan gencatan senjata sementara untuk memulangkan para sandera. "Jika ada peluang untuk jeda sementara demi mengembalikan lebih banyak sandera -- saya tegaskan, jeda yang sifatnya sementara -- kami terbuka untuk itu," katanya.
Sementara itu, gerakan perjuangan Palestina yang menguasai Gaza, Hamas, berulang kali menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seluruh sandera Israel dalam satu pertukaran sebagai imbalan atas penghentian perang, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan tahanan Palestina.
Namun, Netanyahu menolak syarat-syarat tersebut dan justru menuntut perlucutan senjata penuh kelompok perlawanan Palestina, serta menekankan perlunya pendudukan ulang secara total di Jalur Gaza.
Namun pernyataan Netanyahu tersebut justru mendapat respons negatif dari para pemimpin oposisi Israel dan keluarga para sandera. Mereka menuduh Netanyahu memperpanjang perang demi menyenangkan kubu sayap kanan ekstrem dalam koalisi pemerintahannya dan demi melindungi kepentingan politik pribadinya.
Netanyahu juga mengeklaim bahwa pihaknya telah menyusun rencana baru bantuan kemanusiaan untuk Gaza yang disusun bersama Amerika Serikat. Pemimpin oposisi Yair Lapid dalam sebuah video di platform X mengatakan, "pernyataan Netanyahu malam ini berarti pendudukan Gaza selama bertahun-tahun ke depan."
Namun, Lapid juga menyebut bahwa Netanyahu berbohong saat menyatakan bahwa semua kebijakannya telah sepenuhnya dikoordinasikan dengan pemerintah AS. "Netanyahu telah kehilangan simpati dari (Presiden AS) Donald Trump," tegas Lapid.
Yair Golan, pemimpin partai Demokrat dari kubu tengah-kiri, turut mengomentari konferensi pers Netanyahu melalui akun X miliknya. "Apa yang saya lihat hanyalah pertunjukan dari seorang pria yang penuh tekanan, penuh kebohongan, dan terobsesi, yang sibuk menyalahkan orang lain tanpa mau bertanggung jawab," katanya.
"Saya punya dua janji untuk Netanyahu malam ini: saya akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik atas kebohongan yang Anda sebarkan tentang saya, dan kami akan mengalahkan Anda dalam pemilu mendatang."
Forum keluarga sandera Israel juga melontarkan kritik tajam terhadap Netanyahu melalui X. "Kita sedang menuju ‘kesempatan yang terlewatkan abad ini'," tulis pernyataan mereka.
"Setelah lebih dari 19 bulan perang, tidak ada tanda-tanda akhir, tidak ada peluang pemulihan dan rehabilitasi di depan mata," katanya menegaskan.
Netanyahu memang menjadi sentral isu dalam perang Israel vs Palestina ini. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan kepala pertahanan, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait serbuannya di wilayah tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq


