Musibah bisa menimpa hampir semua orang yang hidup di dunia ini. Musibah tersebut tentu akan membuat kalut, jika hati tidak mengingat tentang kekuasaan Allah. Oleh sebab itu, ketika tertimpa musibah hendaknya selalu ingat bahwa itu semua datang atas kehendak Allah yang mengandung hikmah tersembunyi.
Dalam Islam, sikap ketika menghadapi musibah diarahkan untuk tetap bersabar, tawakal, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Bersabar merupakan salah satu nilai utama yang diajarkan dalam agama Islam.
Rasulullah saw dan para sahabatnya memberikan contoh nyata tentang pentingnya sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Sabar tidak hanya berarti menahan diri dari keluh kesah, tetapi juga menjaga hati agar tetap tenang dan percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik.
Sementara tawakal atau meletakkan kepercayaan sepenuhnya kepada Allah adalah sikap yang juga ditekankan dalam Islam ketika dihadapkan pada musibah. Manusia diberikan kebebasan untuk berusaha dan berencana, namun hasil akhirnya ada di tangan Allah.
Oleh karena itu, tawakal bukan berarti pasif dan tidak berusaha, tetapi lebih kepada usaha maksimal yang disertai keyakinan bahwa Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.
Bentuk usaha dan keyakinan saat menghadapi musibah adalah anjuran untuk berdoa kepada Allah. Rasulullah sudah mengajarkan tentang doa saat menghadapi musibah. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), Halaman 235-236.
Adapun doa ketika tertimpa musibah adalah sebagaimana berikut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
Bismillâḫirraḫamânirraḫîm. Wa lâ ḫaula wa lâ quwwata illâ billâḫil-‘aliyyil-‘adhîm.
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Setelah Rasulullah menyampaikan kalimat doa tersebut, beliau kemudian menjelaskan bahwa dengan wasilah membaca doa tersebut, Allah akan melenyapkan musibah apapun sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.
Rasulullah dalam haditsnya juga mengisyaratkan bahwa musibah yang diterima secara positif akan mendatangkan peluang, ibrah, hikmah dan anugerah. Musibah juga bisa menjadi wujud cinta Allah pada hambaNya. Sebaliknya bila musibah disikapi secara negatif, maka akan menjadi penghalang dari rahmat, sehingga bertindak negatif dan mengutuk ujian yang dapat mengundang azab dari Allah ta’âlâ.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ يُرِدِ للهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ (رواه البخاري)
Artinya: “Orang yang Allah inginkan kebaikan atasnya maka akan diberinya musibah.” (HR al-Bukhari).
Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Faizin


