Pilkada serentak akan segera dilaksanakan. Para bakal calon sudah mendaftar ke KPU. Jadwal kampanye terbuka sudah ditentukan. Upaya lahiriah untuk pemenangan juga sudah dilakukan sejak sebelum tanggal pendaftaran, seperti memasang alat peraga dan lainnya. Upaya batiniah juga tidak tertinggal untuk dilakukan seperti menggelar acara keagamaan dan doa bersama.
Perintah untuk Berdoa
Pada dasarnya Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Ghafir ayat 60 berikut:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ
Artinya: "Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Terkait ayat ini, Al-Baijuri menjelaskan bahwa setiap doa pasti terkabulkan. Hanya saja tidak selalu sesuai dengan yang diminta. Terkadang langsung dikabulkan, terkadang juga membutuhkan waktu yang lama. Terkadang juga dalam bentuk pahala tidak terduga kelak di hari kiamat. Terkadang juga dengan terselamatkan dari mara bahaya. (Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri ala Syarh Ibnil Qasim al-Ghazi, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, tt], juz 1 hal. 5.).
Doa Meraih Kedudukan
Terdapat doa yang ada kaitannya dengan meraih kedudukan. Doa ini tertulis dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 26 berikut:
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Muhammad Amin al-Harari mengutip pendapat Qatadah menjelaskan asbabun nuzul ayat ini adalah ketika Nabi Muhammad meminta kepada Allah untuk menaklukkan kerajaan Romawi dan Persia bagi umat Islam. (Muhammad Amin al-Harari, Hadaiqur Ruh war Raihan fi Rawabi Ulumil Qur’an, [Beirut: Dar Thauqin Najat, 2001], juz 4, hal. 248.).
Terkait Asmaul Husna dalam ayat itu yakni يَا مَالِكَ الْمُلْكِ lebih tepatnya يَا مَلِكُ juga terdapat suatu wirid yang berkhasiat untuk menggapai sebuah kedudukan. Hal ini sebagaimana catatan Ahmad Zarruq al-Fasi berikut:
وَحَاصِيَتُهُ صَفَاءُ القَلْبِ وَحُصُوْلُ الغِنَى وَالإِمْرَةُ وَنَحْوِهَا.
Artinya: "Hasiat membaca asmaul husna Ya Malik adalah bersihnya hati, mendapatkan kekayaan dan kedudukan." (Ahmad Zarruq al-Fasi, Syarh Asma’illahil Husna, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2007], hal. 35.).
Ahmad Zarruq juga menyebutkan terkait hasiat membaca asmaul husna يَا مَالِكَ الْمُلْك, yaitu terwujudnya sebuah kemuliaan bagi orang yang sering membacanya, juga hasilnya harta dan kekayaan. (Ahmad Zarruq, hal. 154.).
Membaca doa dari surat Ali Imran ayat 26 memang bisa digunakan sebagai doa untuk meminta kekuasaan dan kedudukan. Membiasakan membaca wirid Asmaul Husna yakni Ya Malik juga bisa menjadi sebuah usaha batin untuk meraih kekuasaan yang sedang dikompetisikan.
Namun perlu diingat, sebagaimana kutipan doa Ali Imran ayat 26 tersebut, kekuasaan adalah ditangan Allah. Allah yang berhak dan berkehendak memilih siapa yang berkuasa atas sesuatu. Allah juga yang berkehendak dan berhak mencabut kekuasaan seseorang. Oleh karena itu doa ini juga mengajarkan kepada para kontestan Pilkada bahwa bagaimanapun juga kehendak kuasa atas sesuatu itu mutlak keputusan Allah SWT. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


