Arina.id - Memiliki anak perempuan, sejak dulu hingga kini, masih menjadi sumber kegelisahan dan kekecewaan bagi sebagian orang tua. Tidak sedikit pasangan yang baru menikah dan memulai bahtera rumah tangga lebih menginginkan anak laki-laki terlebih dahulu.
Alasannya beragam, mulai dari anggapan bahwa laki-laki lebih tangguh, bisa menjadi pelindung keluarga, hingga harapan besar bahwa ia kelak menjadi penerus nama dan estafet kepemimpinan keluarga.
Tak hanya itu, anak perempuan juga kerap dipandang sebagai “beban finansial” yang lebih berat. Mulai dari kebutuhan pakaian yang lebih variatif, perawatan diri seperti skincare sejak remaja, hingga persiapan mahar dan pesta pernikahan yang sering kali memberatkan orang tua. Bandingkan dengan anak laki-laki yang dianggap lebih sederhana dalam banyak hal, cukup tampil rapi, tidak banyak tuntutan, dan kelak malah bisa membantu secara ekonomi.
Padahal memiliki anak perempuan dalam Islam mempunyai banyak keutamaan, apa saja? simak penjelasan lengkapnya!
Amalan agar Dikaruniai Anak Perempuan
Bagi pasangan suami istri yang berharap dikaruniai anak perempuan, selain berdoa kepada Allah dan berkonsultasi dengan dokter, ada pula amalan yang diyakini sebagian ulama. Salah satunya adalah berhubungan badan dengan posisi berdiri, sementara sang istri mengangkat kaki kirinya.
Meskipun tidak ada jaminan pasti, amalan ini dapat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar yang disertai niat baik. Namun tetap, hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Allah yang Maha Menentukan segalanya.
إنَّ الْمَرْأَةَ إذَا جُومِعَتْ وَهِيَ قَائِمَةٌ فَإِنْ شَالَتْ رِجْلَهَا الْيُمْنَى أَذْكَرَتْ وَإِنْ شَالَتْ رِجْلَهَا الْيُسْرَى أَنَّثَتْ
Artinya: “Jika seorang wanita berhubungan (dengan suaminya) dalam keadaan berdiri, lalu ia mengangkat kaki kanannya, maka kemungkinan besar akan melahirkan anak laki-laki. Tapi jika yang diangkat adalah kaki kirinya, maka kemungkinan besar akan melahirkan anak perempuan.” (Hasiyyah Bujairami ‘ala al Khatib, [Beirut; Dar al-Fikr, 1995] juz 1 hal. 352)
Keutamaan Memiliki Anak Perempuan dalam Islam
Dalam berbagai literatur hadits, Islam memberikan apresiasi besar bagi siapa pun yang dikaruniai anak perempuan dan mampu bersabar dalam mendidik serta mengasuhnya. Bahkan, ada sejumlah keutamaan yang dijanjikan secara khusus bagi orang tua yang menjalani amanah ini dengan penuh kesungguhan. Setidaknya, terdapat 4 keutamaan luar biasa yang bisa diraih:
Pertama, menjadi perisai dari apai neraka
مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّار
Artinya: ”Siapa yang diuji dengan memiliki anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Imam Muslim)
Kedua, mendapat balasan surga
مَن كان له ثلاثُ بناتٍ أو ثلاثُ أخَوات، أو ابنتان أو أُختان، فأحسَن صُحبتَهنَّ واتَّقى اللهَ فيهنَّ فلهُ الجنَّةَ
Artinya: : "Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, atau tiga saudari, atau dua anak perempuan, atau dua saudari, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengurus mereka, maka baginya surga.” (HR. Imam Tirmidzi)
Ketiga, bersama Rasulullah SAW kelak di surga
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
Artinya: "Barang siapa merawat dua anak perempuan hingga dewasa, maka pada hari kiamat aku dan dia akan bersama seperti ini," (lalu Nabi merapatkan jari-jarinya sebagai isyarat kedekatan)." (HR. Imam Muslim)
Keempat, mendapat pahala seperti berjihad di jalan Allah
مَنْ كَفَلَ يَتِيمًا ذَا قَرَابَةٍ أَوْ لَا قَرَابَةَ لَهُ فَأَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ (وَضَمَّ أُصْبُعَيْهِ) وَمَنْ سَعَى عَلَى ثَلَاثِ بَنَاتٍ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَكَانَ لَهُ كَأَجْرِ مُجَاهِدٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ صَائِمٍ قَائِمٍ
Artinya: "Siapa yang mengasuh anak yatim, baik masih memiliki hubungan keluarga atau tidak, maka aku dan dia di surga seperti ini," (Nabi merapatkan dua jarinya)."Dan siapa yang mengurus tiga anak perempuan, maka dia akan masuk surga dan mendapat pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah, berpuasa, dan sholat malam terus-menerus." (HR. Imam Al Bazzar). Wallahu a’lam bish shawab
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


