Banyak orang yang mengira bahwa sukses adalah soal keberuntungan. Kalau memang begitu, semua orang tinggal menunggu 'momen hoki', hidup santai ongkang-ongkang, dan semuanya akan beres. Sayangnya, anggapan itu cuma klise.
Tentu saja keberuntungan turut berperan menentukn kesuksesan. Keberuntungan menentukan di mana dan kapan kita lahir, kesehatan yang kita miliki, latar belakang keluarga, atau bahkan ras.
Dalam skala kecil, keberuntungan bisa datang dengan tiba-tiba, misalnya ketika penumpang di kursi sebelah Anda dalam penerbangan Jakarta–Surabaya ternyata pemilik perusahaan besar yang tertarik dengan produk Anda, lalu memesan dalam jumlah besar dan menyelamatkan bisnis Anda dari krisis.
Tapi masalahnya, keberuntungan semacam itu bersifat acak. Ia bukan sesuatu yang bisa Anda rencanakan atau andalkan setiap saat.
Mengutip laman CNBC Make It, ada 3 faktor yang konsisten menjadi penentu sukses jangka panjang, di luar keberuntungan. Ketiga faktor ini disebut Formula PIE yang terdiri dari Personal Relationships (Hubungan Personal), Ideas (Ide), Execution (Eksekusi).
1. Hubungan Personal
Saat mendengar bahwa hubungan personal adalah penentu kesuksesan, mungkin kita segera membayangkan networking atau jaringan. Dalam konteks ini orang biasanya mengumpulkan kartu nama atau nomor kontak para pihak yang dianggapnya akan memperluas jaringan.
Namun, bukan itu yang dimaksud. Dalam membangun hubungan personal, kuncinya bukan “mengumpulkan kontak” tapi membangun pertemanan tulus dengan banyak orang, di dalam maupun di luar lingkungan kerja, tanpa pamrih.
Kita tidak pernah tahu siapa yang suatu hari bisa membantu, dan jika memang terjadi, dampaknya biasanya jauh lebih besar dibanding sekadar relasi formal.
Suzy Welch, penulis asli artikel ini, menceritakan teman baiknya, Hollis, kebetulan adalah penerbit buku terbarunya Becoming You. "Dia tetap akan menolak naskah saya jika tidak cocok, tapi karena memang suka, proses penerbitannya berjalan supermulus, bahkan pengacara kami nyaris tak punya pekerjaan," tulis Suzy
Di dunia bisnis, teman sejati adalah “modal sosial” yang nilainya luar biasa. Semakin luas dan dalam hubungan yang Anda bangun, semakin kuat fondasi karier.
2. Ide
Sepanjang karier, orang sukses selalu punya setidaknya beberapa ide brilian, meski tidak harus banyak.
Ide yang bagus biasanya orisinal. Lihat saja Jeff Bezos, yang memulai dengan menjual buku secara online, lalu menyadari ia bisa menjual… apa saja. Itu mengubah wajah e-commerce dunia.
Tapi ide hebat tidak selalu harus berskala global. Bisa saja sesederhana menyederhanakan prosedur internal yang bikin proses lebih cepat, menciptakan kampanye pemasaran yang meningkatkan penjualan 3%, atau mendesain ulang produk supaya lebih efisien 5%.
Suzy menceritakan dia kenal seorang sales mobil yang sukses menggandakan penjualan di tahun pertamanya hanya dengan mengubah satu kebiasaan tim: Ketika calon pembeli menawar harga rendah, ia tidak langsung menawar balik.
"Dia bertanya, “Boleh saya tahu bagaimana Anda mendapatkan angka itu?” Strategi sederhana itu mengubah ritme negosiasi, membuat pelanggan lebih terbuka, dan menutup lebih banyak penjualan," tulis Suzy.
3. Eksekusi
Inilah faktor sukses yang sering diremehkan: kemampuan menyelesaikan pekerjaan. Anehnya, justru ini yang paling dicari setiap manajer di dunia.
Di kelas MBA yang Suzy ampu, setiap mahasiswa menjalani 360 Feedback yakni evaluasi dari atasan, rekan sejawat, dan bawahan. Salah satu mahasiswa, Sarah, datang dengan wajah sedih setelah melihat hasilnya. Nilai kepemimpinannya rendah. Ia bilang, “Profesor, ajari saya jadi pemimpin. Nilai saya jelek sekali.”
Itu disebut Suzy sebagai peluang. Hampir semua masukan menyebut Sarah punya eksekusi kelas elit—presisi, tepat waktu, dan tanpa drama. Ia seperti pasukan khusus dalam menyelesaikan proyek.
Suzy lalu bertanya, “Kamu benar-benar ingin jadi pemimpin?” Setelah hening sesaat, Sarah mengaku, “Tidak. Saya benci urusan strategi dan visi. Saya cuma ingin diberi target, lalu bekerja.”
Sarah disarankan mengambil jalur karier sebagai COO (Chief Operating Officer). Karena percaya atau tidak, banyak CEO akan berebut orang seperti Sarah, mereka yang bisa memastikan ide berubah menjadi hasil nyata.
Menjadi Versi Terbaik Diri Anda
Formula PIE ini bukan sekadar teori, melainkan peta jalan untuk menemukan cara Anda bekerja, berinteraksi, dan mengeksekusi.
Tidak semua orang harus jadi CEO. Tidak semua orang harus punya ide revolusioner. Yang penting adalah menemukan di mana Anda bisa bersinar—lalu memainkannya sebaik mungkin.
Pada akhirnya, sukses bukan soal menjadi orang lain. Sukses adalah menjadi versi terbaik dari diri Anda, dengan modal hubungan personal yang tulus, ide yang tajam, dan eksekusi yang konsisten.
Editor: Kendi Setiawan


