Beberapa waktu yang lalu muncul kehebohan di masyarakat adanya fenomena orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan tapi penjualannya sepi. Di media sosial bahkan sampai beredar sebutan rojali dan rohana.
Rojali adalah akronim dari rombongan jarang beli. Sementara rohana adalah akronim dari rombongan hanya nanya. Warganet lalu membuat akronim lainnya yang menandakan berbagai tipe orang yang datang ke pusat belanja tanpa belanja.
Pada faktanya, memang sering terlihat di mall-mall, banyak orang berjalan menyusuri etalase toko, mencoba beberapa sepatu, menyentuh kain-kain halus, mencium aroma parfum yang baru diluncurkan. Namun akhirnya mereka pulang tanpa membawa apa pun.
Fenomena ini juga bukan barang baru, hanya saja warganet baru menghebohkannya belum lama ini. Kita juga dapat mengkaji fenomena tersebut dari beberapa sisi, misalnya daya beli yang menurun, atau masyarakat lebih suka berbelanja online.
Lalu bagaimana aspek psikologi memandangnya?
Secara psikologi, pergi ke tempat belanja tapi tidak berbelanja bukan sekadar “jalan-jalan”, melainkan juga bentuk ekspresi emosional, sosial, dan bahkan kognitif.
1. Window Shopping sebagai Hiburan Murah
Bagi sebagian orang, atau bahkan kita, pergi ke tempat belanja adalah bentuk hiburan yang menyenangkan. Dalam psikologi konsumen, hal ini disebut sebagai experiential shopping. Tujuan utamanya bukan transaksi, melainkan pengalaman itu sendiri.
Suasana atau atmosfer di pusat perbelanjaan, seperti pencahayaan yang hangat, aroma khas dari toko roti atau toko parfum, hingga musik latar yang diputar secara selektif, semuanya dirancang untuk memberikan stimulasi sensorik yang menenangkan.
Tanpa harus mengeluarkan uang, kita bisa merasa “terhibur” hanya dengan berjalan-jalan, menyentuh produk, atau mencoba pakaian di ruang ganti.
2. Keterhubungan dan Kebutuhan Sosial
Bagi banyak orang, pusat perbelanjaan bukan sekadar tempat konsumsi, melainkan juga ruang sosial. Ini menjadi semacam "alun-alun modern", yaitu tempat kita bisa melihat dan dilihat, mengobrol, atau sekadar menikmati suasana ramai.
Dalam psikologi sosial, ada istilah yang disebut social belonging, yaitu kebutuhan dasar manusia untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas, atau bahkan merasa memiliki. Berada di tengah kerumunan, meski tidak berinteraksi langsung, bisa jadi akan dapat mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan suasana hati.
3. Pelarian dari Stres dan Emosi Negatif
Mungkin di antara kita pernah merasa jenuh, lelah, atau stres, lalu tiba-tiba muncul dorongan untuk pergi ke mall? Ini bukan kebetulan. Dalam teori psikologi emosional, aktivitas seperti ini masuk dalam kategori coping mechanism yakni cara tubuh dan pikiran meredakan tekanan.
Pergi ke tempat belanja memberikan rasa kontrol. Ketika hidup terasa tak menentu, bisa memilih-milih barang, mencobanya, dan bahkan menolaknya, memberi sensasi bahwa kita masih memegang kendali atas hidup sendiri.
4. Kepuasan
Mungkin terdengar aneh, tapi ada banyak orang yang merasa puas hanya dengan “bermain-main” di toko. Melihat, menyentuh, atau bahkan membayangkan memiliki barang tertentu bisa merangsang sistem dopamin di otak, zat kimia yang membuat kita merasa senang.
Aktivitas ini memberikan simulasi belanja tanpa konsekuensi finansial. Kita seolah sudah mendapatkan sebagian kecil dari kesenangan memiliki sesuatu, tanpa harus benar-benar membelinya.
5. Eksplorasi dan Perencanaan Sebelum Membeli
Alasan lain yang cukup rasional adalah karena seseorang sedang melakukan riset pembelian. Dalam proses pengambilan keputusan konsumen, sering kali ada tahap observasi dan perbandingan sebelum membeli produk tertentu.
Melihat-lihat toko secara langsung membantu mengevaluasi kualitas barang, membandingkan harga, atau mempertimbangkan kebutuhan. Mungkin saja minggu depan ia akan kembali dan membeli barang itu, atau memutuskan mencari alternatif yang lebih baik.
6. Mencari Inspirasi
Tempat belanja juga menjadi ladang inspirasi visual. Bagi orang-orang yang bekerja di bidang kreatif, seperti desainer, penulis, influencer, atau arsitek, melihat susunan rak, gaya interior, atau desain produk bisa memantik ide baru.
Hal ini sejalan dengan konsep visual thinking dalam psikologi, di mana stimulasi visual dapat meningkatkan kemampuan otak dalam mencipta dan memecahkan masalah.
Maka, jangan heran jika seseorang ke toko furnitur tanpa rencana belanja. Mereka mungkin sedang mencari ide, bukan mencari sofa.
7. Dorongan Penasaran dan FOMO
Promosi besar-besaran, peluncuran produk baru, atau diskon gila-gilaan sering kali memancing rasa ingin tahu. Banyak orang ke mall hanya karena takut ketinggalan tren atau merasa “perlu tahu” ada apa saja yang sedang ramai dibicarakan.
Inilah efek dari FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan psikologis yang membuat kita merasa harus terlibat agar tidak tertinggal dari kelompok sosial kita.
8. Regulasi Emosi
Akhirnya, aktivitas ini juga bisa menjadi bagian dari self-regulation atau pengaturan emosi. Sama seperti orang mendengarkan musik saat sedih atau berjalan di taman saat cemas, window shopping bisa menjadi bentuk self-therapy yang ringan dan mudah diakses.
Hal yang menarik, aktivitas ini tidak selalu impulsif. Justru, banyak yang merasa lebih baik setelah “berjalan-jalan melihat-lihat” karena memberi waktu untuk berpikir jernih, merilekskan tubuh, dan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari rutinitas.
Apakah Ini Buruk?
Pergi ke pusat perbelanjaan meski tidak belanja tidak buruk sama sekali. Selama kamu sadar akan motivasi dan tidak terjebak dalam siklus konsumsi impulsif setelahnya, pergi ke tempat belanja tanpa belanja bisa menjadi aktivitas yang sehat secara mental.
Tetapi, jika kebiasaan ini mulai mengarah pada ketergantungan, misalnya, hanya merasa tenang setelah ke mall, atau justru membuatmu stres karena menahan diri untuk tidak belanja, ada baiknya kebiasaan ini mulai dievaluasi.
Editor: Kendi Setiawan


