Orang tua mana yang tak ingin menjadi idola bagi anak-anaknya? Meski sadar atas kelemahan diri, tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang tua pasti ingin menjadi orang tersayang dan paling dicintai oleh anak-anak mereka. Setiap orang tua tentu ingin menjadi idola sebelum sang buah hati mengenal banyak sosok hebat dalam bidang yang sejiwa dengan bidang yang diminati anak.
Mungkin suatu saat anak kita akan mengenal tokoh-tokoh masa silam yang kemudian diidolakan. Misalnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tokoh pejuang pluralisme yang membela kaum yang terpinggirkan oleh sistem dalam pergaulan sosial.
Atau Buya Syafii Maarif, pemikir Muhammadiyah yang cerdas dan sederhana. Barangkali RA. Kartini, perempuan Jepara yang menyuarakan kesetaraan dalam pentas global di mana negerinya pada zamannya terjebak dalam kungkungan feodalisme.
Bisa jadi pula, anak-anak era kini akan mengidolakan person-person yang populer di beragam kanal media sosial, terkenal karena sisi kesuksesan materi atau banyak dikenal karena pemikirannya yang cemerlang. Seperti Ria Ricis, youtuber yang sangat diminati oleh generasi masa kini.
Ada juga Bagus Mulyadi, akademisi yang sukses di Inggris. Atau para penganjur pemikiran logis seperti Cania Cita, Fery Irwandi, dan kawan-kawannya.
Pada intinya, meski banyak orang-orang hebat yang sesuai dengan jiwa dan pandangan visioner anak-anak yang kemudian diidolakannya, orang tua tetap ingin menjadi sosok sentral panutan bagi anak-anaknya. Apakah orang tua harus sehebat individu-individu yang disebutkan di atas?
Tentu saja tidak. Setiap orang punya visi hidup yang berbeda-beda dan kepakaran di area yang tak mungkin semuanya sama. Tapi, ada nilai-nilai yang sama yang perlu menjadi hiasan kebaikan bagi diri agar pantas menjadi seorang idola.
Menjadi orang tua idola berarti pula menjadi sosok yang selalu dirindukan dan nasihatnya kerap menjadi rujukan pijakan tingkah laku dan cara anak berbicara dengan orang lain dengan penuh sopan dan santun.
Ada lima langkah praktis agar Anda, sebagai orang tua atau guru akan diidolakan oleh anak-anak walaupun era keberlimpahan informasi seringkali menjadikan rasa percaya anak-anak terhadap orang dewasa sangat rendah.
1. Kenali Diri
Sebagai orang tua, sering-seringlah melangkah ke dalam diri. Temukan kesadaran terdalam yang akan memancarkan pencerahan batin. Mengenali diri adalah upaya jujur pada diri sendiri bahwa kita adalah manusia, sejatinya manusia adalah pada fitrah kebaikan. Jika itu yang kita yakini, maka kita akan melangkah dengan ringan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah sebuah proses seumur hidup.
Maka yang kita upayakan sebaiknya tidak pada pencapaian instan melainkan keyakinan bahwa belajar itu mulai sejak dalam kandungan, ayunan pertama, hingga nanti penutup proses belajar adalah hembusan napas kita yang terakhir.
Mengenali diri ini juga terkait kewajiban kita seperti yang diperintahkan oleh Tuhan untuk senantiasa mengarusutamakan proses berpikir (tafakkur) dan merenungi atau berefleksi diri (tadabbur). Betapa agama menganjurkan kita untuk berpikir mendalam menggunakan akal untuk mengenal isi dunia, mengenal diri, yang pada gilirannya nanti mengenal Tuhan.
Jika kita telah mengenal diri, sudah pasti akan mengingat-ingat perjalanan hidup diri pribadi. Jika sewaktu masa kanak-kanak kita tak suka dimarahi bukankah seharusnya kita juga menghindari marah kepada anak. Sewajarnya, orang yang mengenal diri akan memilki rasa penerimaan diri yang tulus, menerima anak apa adanya. Absennya rasa penerimaan yang sungguh-sungguh kerap melahirkan target-target capaian yang ambisius tanpa melihat perkembangan psikologis anak.
Orang tua yang mengenal diri juga akan optimis dan sabar. Kita yakin bahwa anak-anak adalah sosok yang pasti sukses, saleh, dan cerdas. Jika kita sudah optimis, sikap turunannya adalah kesabaran. Sabar menjadi penting sebab dunia anak-anak adalah dunia permainan yang mengasyikkan.
Dalam menjalani peran sosial yang didominasi permainan dan aktivitas yang dipicu oleh imajinasi, sering memunculkan tindakan yang membikin kita berdebar, menggemaskan, mengkhawatirkan, atau mungkin pula mengecewakan. Namun dengan kesabaran hal-hal seperti itu dapat diminimalisir. Hebatnya, jika kita belajar untuk mengenali diri, kita akan menghindari sikap-sikap seperti kecewa terhadap anak, menghakimi, dan berkuasa.
2. Kenali Anak
Setelah mengenali diri, mari melangkah keluar yakni mengenali anak. Kita tak boleh hanya menuntut anak berperilaku sesuai kehendak orang tua, namun tak mencoba mengenali pedalaman batinnya. Anak adalah subjek yang memiliki berjuta keunikan yang menggambarkan kapasitasnya mengelola daya berpikir dan imajinasinya.
Dengan mengenal anak, mestinya kita bisa menatapnya dengan kasih. Cinta menjadi kemasan sudut pandang yang diberikan tanpa syarat. Cinta adalah cinta, ia bukan sebentuk hadiah yang diberikan karena anak telah mencapai prestasi tertentu. Cinta bukan seperti itu. Semua yang dilakukan anak pada dasarnya itulah cermin kecerdasannya. Jika yang ditampakkan oleh anak adalah sesuatu yang buruk, itu hanya persoalan bahwa anak belum mengenal baik dan buruk secara konseptual.
Cara mengenali anak adalah denga cara mendengar aktif dan melakukan dialog yang lembut. Mendengar aktif adalah sungguh-sungguh menempatkan diri menyimak cerita anak dari A sampai Z. Pada diri anak akan timbul kepercayaan yang mendalam kepada orang tuanya. Pada waktu yang pas, ulurkanlah tawaran apa yang harus orang tua bantu.
Dari sanalah dialog yang lembut dan produktif akan tercapai. Jika sudah berjalan seperti ini, hubungan kedekatan antara orang tua dan anak adalah hubungan cinta yang awet dan akan berlangsung seumur hidup.
3. Jadilah Teladan/Idola
Jadilah cermin kebaikan dan hindari menjadi cermin keburukan. Pendidikan karakter hanya akan mewujud jika keteladanan menjadi poros utama. Kebaikan yang hanya dikhotbahkan kepada anak, alih-alih menjadi bentu nyata dala perbuatan, yang ada hanya lewat dan sambil lalu saja.
Jika suara dan nada bicara orang tua seperti orang yang sedang marah, maka sikap itu pula yang mudah menempel menjadi karakter anak. Jika dalam pekerjaan orang tua bukan tipe orang yang disiplin, maka itu pula yang akan muncul dalam karakter anak. Sikap tidak baik yang diketahui atau tidak diketahui oleh anak, sejatinya itu contoh yang akan diam-diam ditiru oleh anak.
Dalam semboyan yang populer, Ki Hadjar Dewantara memosisikan keteladan sebagai pondasi yang paling awal dalam mendidik anak, Ing Ngarso Sung Tulodho. Sebagai seorang pemimpin yang patut menjadi panutan, orang tua atau guru harus menjadi teladan kebaikan. Percuma kita sampai marah-marah kepada anak yang terpaku pada gadgetnya jika orang tua juga tak mengenal waktu dalam mengakses gadget.
4. Dorong Kekuatannya
Orang tua idola akan senantiasa mendorong kekuatan anak dalam hal apapun. Agar kekuatan dan potensi baiknya muncul, bermurahlah untuk memberikan apresiasi. Berbeda dengan hadiah barang, apresiasi adalah pujian yang fokus pada fakta tindakan anak. Tidak perlu memuji berlebihan yang tidak nyambung dengan perbuatan baik sang buah hati.
Misalnya, jika anak-anak mampu secara mandiri mengerjakan tugas sekolah, sewajarnya kita mengatakan, “Keren kamu, Nak, sudah mandiri mengerjakan PR." Hindari melakukan bias pujian yang tertuju pada sifat atau fisik mereka. Misalnya hanya dengan ucapan, “Anak mama memang pintar."
Ucapan yang mengapresiasi pada karakter sifat tanpa menyebut perbuatan baik yang dilakukan anak bisa menyebabkan keliru pada konsep diri. Hanya ingin dianggap pintar lalu melupakan pada aktivitas produktif.
Selain itu, agar kekuatan dan potensi unik anak dapat muncul, orang tua perlu menghindari sikap yang gampang mengoreksi tindakan anak-anak. Jika kita memahami bahwa anak, secara keseluruhan perilakunya adalah proses belajar, maka yakinlah kesalahan adalah bagian dari dinamika proses belajarnya. Bukankah mengalami kesalahan itu penting agar anak menguatkan kesadaran diri?
5. Berikan Kepercayaan
Yakinlah anak pasti bisa. Maka, hindari sikap yang meragukan atau meremehkan anak-anak. Mempercayai anak pasti bisa melakukan sesuatu adalah salah satu makna dari semboyan Ki Hadjar Dewantara, Tut Wuri Handayani.
Masih ingatkah saat mendengar kata pertama yang muncul dari mulut sang anak? Betapa belajar adalah sealami itu. Tugas orang tua hanya terus berupaya memberikan stimulus yang menghadirkan kebahagiaan dan kegembiraan untuk anak. Kemampuan anak yang muncul adalah keniscayaan jika itu semua dijalani. Selamat menjadi orang tua idola yang selalu dicintai anak.
Editor: Kendi Setiawan


