Anak-anak berbakat tumbuh di lingkungan yang memberikan ruang kebebasan kepada mereka untuk menuangkan segala macam gagasan yang muncul tanpa campur tangan dan aturan yang kerap membelenggu. Ruang kebebasan ini penting, sebab proses belajar bukanlah perjalanan linier seperti naik tangga.
Proses belajar merupakan tahapan yang seringkali berlangsung tidak teratur. Ada momen seorang anak mengalami kemajuan pesat, di saat yang lain laju kemajuannya turun, kadang stagnan, tak jarang pula terjun bebas ke arah minus. Kendati begitu, proses yang naik turun itulah justru akan menjadikan anak semakin menguasai pada bidang yang ia minati.
Intervensi orang tua yang ingin terburu-buru anaknya naik podium juara dan mempertahankannya selama mungkin justru bisa berdampak pada kelesuan dan kebosanan belajar. Seorang pakar pendidikan, Munif Chatib, menyebutnya sebagai Down Shifting. Prestasinya mandek sebab semangat belajarnya macet total. Ini dialami oleh anak-anak yang meraih panggung prestasi akibat orang tuanya yang menggebu-gebu.
Saya pernah membawakan acara khusus anak-anak di sebuah mall sebagai rangkaian promosi kunjungan ke mall tersebut. Salah satu agendanya adalah lomba melukis langsung di lokasi. Di akhir lomba, salah satu pemenang memasang wajah datar, tampak tidak segembira kawan lainnya.
Saat menaiki panggung untuk menerima hadiah, saya berbisik kepadanya, "Haii... Kak, semangat, mana senyumnya?" Sapa saya. Dan jawabannya cukup mengagetkan,"Ssenyumnya diwakili mama saja, ini demi dia," jawabannya lugas.
Anak sekreatif itu kelak bisa mengalami kebosanan dalam belajar jika ia tidak menjalani proses belajar dengan natural, berada di bawah bayang-bayang kemauan orang tuanya yang ingin anaknya selalu tampil di panggung prestasi.
Supaya Anda tidak terlalu khawatir dengan prestasi anak-anak, berikut ini 7 sifat anak-anak kreatif, dikutip dari buku Mengembangkan Kreativitas Anak karya Amal Abdussalam Al-Kahlili. Hal yang perlu diingat adalah sifat ini dapat dibangun melalui hubungan dan komunikasi yang natural dan menyenangkan.
1. Tidak kekanak-kanakan
Anak yang kreatif justru kerap terlihat tidak kekanak-kanakan. Lihat contoh anak yang memenangkan lomba melukis di atas, ia dengan tenang menyadari apa yang menggembirakan bagi dirinya dan mana yang bukan. Ia tampak dewasa menempatkan dirinya di hadapan orang tuanya.
Anak-anak kreatif juga pandai menyenangkan teman-teman mainnya. Ia tak segan membuat lelucon atau membuatkan barang keterampilannya untuk kegembiraan kawannya.
2. Anak kreatif idenya sering tak terduga
Anak-anak kreatif pada suatu waktu dianggap aneh. Padahal ia sedang berupaya mewujudkan apa yang ada di dalam imajinasinya. Misalnya, anak yang sedang bermain lego membangun rumah-rumahan. Ia berkata-kata, menciptakan dialog, dan merekayasa adegan imajinatif.
Ia membangun parit, jalan, dan gedung-gedung sambil mulutnya tak berhenti mengeluarkan dialog hayalan yang seru. Ini adalah kemampuan kreativitas yang perlu dipupuk dan didukung. Sebab, gambaran imajinasi yang bisa dituangkan melalui gerak, suara, dan karya lainnya akan membuat anak-anak punya pemikiran kreatif yang semakin matang.
3. Anak kreatif memiliki kesadaran terhadap berbagai problematika
Anak-anak kreatif sangat menyukai jika dilibatkan dalam penyelesaian persoalan tertentu. Ia akan merasa eksistensinya dihargai. Semakin ia sering dilibatkan, daya kreativitasnya semakin terasah. Namun, tentu saja disesuaikan dengan usia mereka.
Anak kreatif selalu ingin hadir dan menjadi pencetus salah satu alternatif solusi dari persoalan yang muncul, baik dalam pergaulan dengan teman-temannya, dengan gurunya, atau saat bersama dengan keluarga di rumah. Misalnya, orang tua ingin merencanakan liburan keluarga.
Orang tua ingin memilih lokasi liburan yang tepat dan kegiatan apa saja selama di sana. Anak-anak kreatif akan antusias jika turut serta urun gagasan. Dan, hal ini baik untuk mengasah keberanian dan kepercayaan diri mengutarakan ide-idenya yang murni.
4. Mampu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami
Anak-anak kreatif selalu mempunyai pilihan kata yang enak jika sedang berbicara. Biasanya, anak-anak kreatif adalah anak-anak yang haus akan pengetahuan baru. Mereka suka membaca buku atau menyaksikan tayangan di layar gadget informasi yang mengandung nilai manfaat.
Sangat mungkin pula, anak-anak seperti ini suka dibacakan dongeng oleh orang tuanya. Maka, jangan meremehkan aktivitas sederhana yang besar manfaatnya, yaitu mendongeng untuk si buah hati.
5. Memiliki pemikiran yang luwes/fleksibel
Walaupun sering ingin tampil jadi yang utama di forum mana pun, panggung, kelas, permainan, dan sirkel pertemanannya, anak-anak kreatif umumnya tidak egois memaksakan ide-idenya. Ia kerap menunjukkan sikap yang lebih demokratis. Pemikirannya juga tak kaku hanya fokus di satu pilihan. Ia bisa bernegosiasi menyeleksi pilihan gagasan terbaik yang dimaui oleh banyak orang.
6. Memiliki daya ingat yang kuat
Anak-anak kreatif sebagian besar daya ingatnya memukau. Ia memiliki kemampuan pemikiran asosiatif, menghubungkan informasi yang satu dengan lainnya. Mencatolkan informasi pada objek lain agar mudah diingat. Namun uniknya, anak kreatif umumnya justru tak suka menghapal.
Untuk mengingat informasi, peristiwa, dan berbagai pengetahuan, ia akan memaknai informasi itu sehingga pengetahuan yang melekat di otak menjadi lebih hidup. Anak-anak kreatif sangat terampil menyimpan pengetahuan dengan cara menghubungkan pengetahuan itu dengan pengetahuan lainnya dan mencari pola hubungan yang sesuai dari banyak informasi, sehingga anak-anak kreatif malah tidak perlu menghapal.
Editor: Kendi Setiawan


