Dark
Light
Dark
Light

Agar Pembelajaran di Kelas Semakin Kreatif Guru Harus Jadi Pembaca yang Tekun

Agar Pembelajaran di Kelas Semakin Kreatif Guru Harus Jadi Pembaca yang Tekun

Saat membincang soal pendidikan di Indonesia, kita seperti sedang mengurai benang kusut yang tak kunjung usai mencari simpul kunci sebagai jalan keluar. Akar permasalahannya tentu saja kompleks. Penulis akan menyoroti yang terkait kompetensi guru. Sentuhan kebijakan dari pemerintah tentu saja yang utama, Kendati demikian, sejatinya guru dengan kesadarannya sendiri sebagai insan pendidikan bisa bangkit meningkatkan kapasitas diri di tengah gempuran tantangan dan keterbatasan. Apakah guru mampu mengembangkan dirinya? Bagi yang memiliki tatapan optimistis, tentu saja bisa. 

Dari mana harus memulai? Menurut saya titik awal perubahan pendidikan agar maju adalah gurunya harus cinta membaca. Sebagian besar kita pasti sepaham bahwa tak ada satupun negara maju yang masyarakatnya tidak gemar membaca. Survei PISA sejak tahun 2000 sampai 2020, memperlihatkan bahwa kemampuan matematika, sains, dan membaca anak-anak Indonesia sangat rendah. Indonesia masih saja berada di ranking 10 besar dari bawah dalam kurun dua dekade. Indikator ini menunjukkan pendidikan jalan di tempat. Kita seperti tidak melakukan apa-apa. Maka, sebelum murid, gurulah yang pertama kali harus menjadi pribadi yang gemar membaca. Sedari awal seharusnya terbit kesadaran, begitu jadi guru, titik awal untuk mengembangkan kapasitas diri adalah dengan sebanyak-banyaknya "MEMBACA".

Apakah ada metode pembelajaran terbaik? 

Ada tiga aliran dalam memandang pribadi anak (Yudi Latief: 2020). Pertama, menganggap anak sebagai kertas putih sempurna. Kosong tanpa goresan sedikitpun. Menurut aliran ini, orang tua atau guru bebas mengisi semaunya. Aliran ini dianggap sudah tak relevan. Kedua, aliran negatif, kontras dari aliran sebelumnya, aliran ini justru menganggap bahwa anak itu lahir sebagai sehelai kertas yang sudah ditulisi sepenuhnya sehingga pendidikan dari siapapun tak dapat mengubah watak sang anak. 

Aliran ketiga adalah konvergensi. Menurut aliran ini, anak yang lahir seumpama kertas yang sudah digoresi dasar-dasar sketsa yang masih buram. Aliran ini berpendapat, tugas pendidikan adalah menebalkan sketsa kebaikan agar tampak sebagai budi pekerti yang baik. Pada saat yang sama, sketsa yang menggambarkan elemen buruk hendaknya dibiarkan, jika bisa ditipiskan atau dihilangkan. 

Ki Hajar Dewantara adalah penganut aliran konvergensi. Guru perlu piawai mengenali kedalaman batin anak didiknya. Guru laiknya petani, benih yang akan ditanam unggul atau tidak, petanilah yang mengetahui cara perawatan terbaik. Semacam juru ukir, ia memahami jenis kayu agar teknik mengukir disesuaikan dengan kualitas kayu. Dan anak murid yang beragam bukanlah benih yang sejenis, maka perawatan yang baik adalah menyesuaikan jenis benih yang akan ditumbuhkan. 

Semua metode belajar adalah baik jika yang menerapkan metode itu pandai mengemasnya. Dan agar mampu mengemas metode itu dengan tepat, lagi-lagi hanya bisa dihasilkan oleh mereka yang memiliki wawasan luas dari hasil membaca. Seperti menulis, tanpa pernah membaca, mustahil menghasil tulisan bagus. Juga seni berbicara, tanpa membaca beragam pengetahuan, kualitas bicara kita terbatas. 

Ada beberapa prinsip dalam pembelajaran yang perlu dipahami terkait kedirian manusia. Yudi Latief mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk berkebudayaan. Manusia mempunyai tiga potensi besar sebagai kreator kebudayaan. Ketiga unsur itu adalah cipta (pikiran). Unsur ini membuahkan ilmu pengetahuan. Kedua, rasa, potensi yang mampu menghasilkan keindahan, keluhuran batin, seni, nasionalisme, keagamaan, dan lain-lain. Ketiga, unsur karsa (kehendak). Unsur ini menimbulkan perbuatan dan buatan manusia seperti industri, pertanian, teknologi, arsitektur, dan lain-lain. 

Pembelajaran yang baik, apapun metodenya, ketiga potensi utama itulah yang dikuatkan. Maka, proses belajar yang baik tentu saja menggerakkan pikiran (cipta), menggerakkan kemauan (fisik), dan menggerakkan daya imajinasi (rasa). Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses mengaktifkan badan, pikiran, dan imajinasi. Maka, murid tak boleh hanya duduk, diam, mendengar, menulis, dan sesekali tertidur. Belajar adalah proses aktif berdiskusi, menemukan, merangkai, mengalami, mencoba, berbeda, boleh salah, dan lain-lain. 

Tugas guru bukanlah memberitahu tapi sebanyak-banyaknya belajar, mendengar, bertanya, dan mengapresiasi. Dengan belajar, guru akan memiliki kekayaan pengetahuan yang luas. Dengan banyak mendengar, guru akan mengenali sang murid lebih dalam. Dengan bertanya, guru memberikan stimulus, tantangan agar gagasan anak berkembang. Dengan mengapresiasi, guru menyadari bahwa setiap individu adalah unik. Ia berhak tumbuh sesuai dengan kemauan dan kemampuan terdalam yang bertunas di dalam dirinya. 

Guru juga seorang intelektual. Ia adalah pemikir sejati yang mampu berpikir kritis. Bukan mesin yang dikendalikan oleh algoritma linier jika 'a' maka 'b', sehingga hanya pengekor kebijakan tanpa inisiatif mengembangkan apalagi mengkritisi. Guru juga bukan pemilik kuasa atas diri si murid yang gampang memvonis anak didik dengan dalih aturan administratif. Pembelajaran terbaik bukan karena metodenya yang hebat, melainkan ketulusan gurunya melayani hak belajar siswa sepenuh-penuhnya. 

Pada akhirnya, mutu pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tentu yang paling besar adalah pemerintah melalui kebijakan yang tepat sasaran, tepat pijakan, dan tepat momentumnya, kebijakan yang "bener tur pener". Dari beragam persoalan pendidikan, guru adalah simpul penting terwujudnya tujuan pendidikan seperti pada garis pemikiran Ki Hajar Dewantara, agar anak selamat dan bahagia. Agar itu terwujud, guru bisa melakukan upaya belajar dan membaca, tanpa menunggu lebih dulu terbitnya kebijakan dari pemerintah.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo