Dark
Light
Dark
Light

Hari Anak Nasional dan Sunyi yang Dibutuhkan Anak untuk Membaca

Hari Anak Nasional dan Sunyi yang Dibutuhkan Anak untuk Membaca

Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli, kerap dirayakan dengan gegap gempita. Ada panggung-panggung hiburan, aneka lomba, pembagian hadiah, hingga pementasan seni dari dan untuk anak. Semua itu tentu baik dan membahagiakan.

Di balik euforia itu, muncul pertanyaan mendalam: apakah anak-anak kita masih memiliki waktu untuk mengalami sunyi? Apakah mereka masih memiliki ruang tenang untuk membaca, merenung, dan membentuk imajinasi?

Di zaman yang serba cepat ini, banyak anak dijejali aktivitas sepanjang hari: sekolah formal, kursus tambahan, les privat, hingga bermain gawai. Rutinitas ini, meski bertujuan "baik", kerap menyingkirkan satu hal esensial dalam pertumbuhan anak: keheningan. Padahal, dari keheningan itulah, banyak hal besar bisa bertunas. Di tengah perayaan Hari Anak Nasional, mari kita pertimbangkan kembali: sudahkah kita menghadiahkan ruang sunyi untuk anak-anak kita, terutama dalam hal membaca?

Sunyi: Ruang untuk Tumbuh, Bukan Kosong yang Harus Dihindari
Keheningan sering disalahpahami sebagai kondisi negatif. Sunyi dianggap sepi, membosankan, atau bahkan mengkhawatirkan. Padahal dalam dunia pendidikan dan psikologi perkembangan anak, sunyi justru penting untuk memperkuat kemampuan berpikir, menumbuhkan refleksi, dan mematangkan emosi.

Maria Montessori, pelopor pendidikan anak, menyatakan bahwa anak-anak membutuhkan keheningan untuk dapat tumbuh sesuai irama mereka sendiri: "Children need solitude to grow in their own rhythm" (Montessori, The Secret of Childhood, 1936). Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang yang subur bagi tumbuhnya kreativitas dan imajinasi.

Dalam keheningan, anak belajar menghadapi dirinya sendiri. Ia menyusun makna dari pengalaman-pengalaman hidupnya, membangun dialog batin, dan merasakan emosi secara utuh. Susan Cain, dalam bukunya Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking (2012), menulis: "Children learn more from moments of quiet and self-directed reflection than from constant stimulation." Artinya, anak-anak belajar lebih banyak dari momen sunyi dan refleksi pribadi dibanding dari stimulasi yang terus-menerus. Sunyi bukan sesuatu yang perlu dihindari, tetapi justru harus dihadirkan.

Namun, realitas hari ini menunjukkan hal sebaliknya. Anak-anak dibesarkan dalam dunia yang bising: iklan televisi, notifikasi ponsel, video pendek yang terus berganti, dan jadwal yang padat. Dalam keramaian itu, anak kehilangan kemampuan untuk berlama-lama dalam cerita. Sunyi tergantikan oleh sensasi.

Membaca: Aktivitas yang Butuh Sunyi dan Kedalaman
Membaca bukan hanya aktivitas mengenali huruf dan kata. Membaca sejati adalah memasuki dunia teks, menyelami cerita, berdialog dengan tokoh-tokohnya, dan menemukan makna yang tersembunyi. Aktivitas ini hanya mungkin dilakukan dalam suasana batin yang tenang dan penuh konsentrasi. Sunyi adalah syaratnya.

Penelitian dari Scholastic (2019), dalam laporan berjudul Kids & Family Reading Report, menyebutkan bahwa anak-anak yang memiliki waktu membaca dalam keheningan cenderung menunjukkan tingkat empati, konsentrasi, dan kemampuan berbahasa yang lebih tinggi. Mereka juga lebih mampu mempertahankan minat membaca jangka panjang dibanding anak-anak yang membaca sambil terdistraksi.

Sayangnya, banyak program literasi di Indonesia lebih menekankan aspek kuantitatif: berapa banyak buku yang dibaca, berapa halaman, dan berapa menit per hari. Jarang sekali kita membicarakan suasana batin saat membaca. Padahal, membaca bukanlah aktivitas mekanis; ia butuh ruang emosional, butuh kondisi tenang agar imajinasi dapat tumbuh.

Dulu, banyak anak menikmati cerita sebelum tidur. Suasana rumah menjadi hening menjelang malam, dan cerita dari ibu atau ayah menjadi jembatan menuju dunia mimpi. Kini, banyak rumah diisi dengan suara televisi yang tidak mati, atau anak yang tidur ditemani layar ponsel. Sunyi tak lagi hadir, bahkan saat seharusnya ia datang.

Realitas Anak Indonesia: Bising Gadget, Sepi Buku
Data dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca anak Indonesia masih tergolong rendah di Asia Tenggara. Sementara itu, survei dari KPAI (2022) mencatat bahwa rata-rata waktu layar (screen time) anak usia sekolah dasar di Indonesia mencapai 4–6 jam per hari. Ironisnya, sebagian besar waktu tersebut dihabiskan untuk menonton video pendek dan bermain gim daring, bukan untuk membaca.

 

Selain itu, akses terhadap buku bacaan yang berkualitas juga masih menjadi persoalan. Di banyak daerah, anak-anak tidak memiliki akses yang memadai ke perpustakaan, toko buku, atau komunitas baca. Bahkan di sekolah sekalipun, perpustakaan sering kali hanya menjadi ruang kosong tanpa aktivitas. Tidak ada upaya menciptakan ruang sunyi yang kondusif untuk membaca.

Di sisi lain, banyak rumah tangga tidak memiliki budaya membaca. Anak-anak tumbuh di lingkungan yang lebih akrab dengan suara televisi daripada bisikan kata-kata dari buku. Padahal, budaya literasi bukan hanya soal buku, melainkan juga suasana yang mendukung: ketenangan, dukungan orang tua, dan ruang sunyi.

Merayakan Hari Anak Nasional: Membangun Ruang Sunyi untuk Membaca
Hari Anak Nasional seharusnya bukan hanya ajang festival atau kompetisi. Ia bisa menjadi momen reflektif untuk mengembalikan hak anak atas keheningan. Dalam keheningan itulah, anak-anak bisa menemukan dirinya, mengembangkan daya khayal, dan mencintai buku dengan tulus.

Ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menciptakan ruang sunyi bagi anak:
1. Sudut Sunyi di Rumah
Ciptakan ruang khusus di rumah yang bebas dari gawai dan suara bising. Letakkan beberapa buku cerita, karpet, dan lampu hangat. Biarkan anak membaca tanpa distraksi.

2. Jam Baca Tenang di Sekolah
Sekolah bisa mengalokasikan waktu 30 menit membaca diam setiap pagi. Aktivitas ini akan melatih anak menghargai sunyi dan membangun kebiasaan membaca yang mendalam.

3. Ruang Hening di Komunitas
Komunitas literasi bisa mengembangkan taman baca atau rumah baca yang memfasilitasi keheningan. Bukan tempat ramai penuh lomba, tetapi ruang nyaman untuk membaca bersama dalam tenang.

4. Keteladanan Orang Tua
Anak-anak meniru perilaku orang dewasa. Jika orang tua membaca buku di rumah tanpa gangguan, anak akan menirunya. Sunyi pun menjadi kebiasaan yang dicintai.

Contoh baik bisa kita temukan di Purwokerto. Komunitas Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) yang digagas oleh Heru Kurniawan tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menciptakan ekosistem yang kondusif untuk membaca. Di sana, anak-anak diajak membaca dalam suasana tenang, dikelilingi oleh teman, buku, dan kehangatan. Heru menyampaikan, “Anak-anak tidak hanya butuh buku, mereka butuh ruang untuk menyerap isi buku dalam sunyi yang menyejukkan.”

Komunitas seperti RKWK menjadi teladan bagaimana keheningan bisa dirayakan bersama anak-anak. Bukan dalam kesepian, tetapi dalam keakraban dengan buku dan teman.

Sunyi adalah Hadiah untuk Masa Depan Anak
Sunyi bukan kekosongan, bukan kemalasan, dan bukan ketertinggalan. Sunyi adalah ruang hening tempat benih-benih makna disemai. Dalam dunia yang semakin riuh ini, menghadirkan sunyi kepada anak adalah hadiah yang sangat mahal.

Hari Anak Nasional tidak hanya tentang pesta dan tawa. Ia juga tentang keberanian orang dewasa untuk memberi anak waktu tanpa gangguan. Untuk duduk diam, membuka buku, membaca perlahan, dan menemukan makna. Sunyi yang demikian tidak akan melahirkan kekosongan, tetapi justru menumbuhkan kekayaan batin.

Jika kita ingin melihat masa depan bangsa ini cerah, maka lihatlah bagaimana anak-anaknya membaca hari ini. Dan lebih jauh lagi, lihatlah: apakah mereka membaca dalam sunyi atau dalam kebisingan?

"If you want to understand the future of a nation, look at how its children read in silence today." —Anonim.

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo