Di dalam artikel 10 Alasan Mengapa Orang Tua Harus Menumbuhkan Cinta Baca kepada Anak saya menjelaskan 10 alasan mengapa anak-anak harus memiliki rasa mencintai buku. Ya, membaca buku adalah syarat penting agar anak-anak bisa membuka cakrawala pengetahuan yang tercecer di belantara semesta. Tanpa membaca, ilmu pengetahuan selamanya akan menjadi misteri bagi dirinya. Paling jauh, ia hanya mendengar kata orang, dan hal itu sama sekali berbeda rasanya jika ilmu pengetahuan itu dicerap oleh akal budi sendiri.
Sering kali orang dewasa berkata, "Tapi saya bukan tipe orang yang suka membaca."
Hati-hati dengan alibi semacam ini, apalagi jika alasan ini muncul dari diri sendiri. Itu pertanda bahwa diri telah mengalami mental block bahwa membaca sungguh-sungguh racun yang harus dihindari.
Jika itu terjadi, bahaya yang lebih besar tengah mengancam. Apa itu? Pribadi seperti ini akan mudah terombang-ambing dalam panggung dunia yang semakin riuh. Banjirnya informasi akan membawa hanyut daya kritis dan analisis kita. Tanpa itu, kita bisa kehilangan makna hidup sekaligus kehilangan diri.
Pertanyaan lainnya, "Tapi saya suka menyaksikan video-video pelajaran hidup dari para tokoh hebat."
Lagi-lagi, jangan mudah terkecoh oleh perasaan yang menyesatkan. Aktivitas membaca dan mendengar jelas berbeda. Hanya dengan menyaksikan video-video ceramah dari kanal media sosial, dialog dua arah jarang sekali terjadi. Kita malah kebanyakan terbius oleh kata-kata yang melulu mementaskan kebaikan-kebaikan. Mendengar ceramah cenderung bersifat pasif, pengetahuan yang didapat kerap gampang lupa dan dangkal.
Dengan membaca, ada ruang dialog imajinatif antara pembaca dan penulis buku. Kadang-kadang kita jeda untuk sekadar mempertanyakan kembali apakah yang ditulis ini benar? Atau, sering juga, gegara membaca buku tertentu, kita terpacu membaca buku lain yang berseberangan ide. Dari sana kita kaya akan pilihan-pilihan. Kita bisa menyetujui ide penulis satu, menolak lainnya, atau kita mampu membangun gagasan sendiri perpaduan antara buku yang satu dengan lainnya.
Sedemikian pokoknya kecintaan membaca ini, maka saya sarikan 10 kiat utama menumbuhkan cinta membaca untuk anak-anak, dikutip dari buku Mary Leonhardt yang judulnya 99 Cara Menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca.
1. Beritahu Anak Anda, Tujuan Utama Pendidikan adalah Membaca
Pastikan bahwa kecintaan membaca adalah tujuan pendidikan yang terpenting bagi anak-anak. Saya sering berdiskusi dengan para aktivis literasi bahwa, apabila kecintaan membaca telah tumbuh subur pada anak didik kita hari ini, betapa separuh tujuan pendidikan telah tercapai. Sebab, seperti dalam penjelasan Mary Leonhardt, anak-anak yang suka membaca akan mendapatkan lebih mampu merumuskan ide walaupun ia bersekolah di sekolah yang bukan favorit. Demikian sebaliknya.
2. Jadilah Teladan Membaca bagi Anak Anda
Tunjukkan bahwa anda menghargai membaca, tidak hanya sekadar lewat kata-kata. Keteladanan menjadi kunci keberhasilan menancapkan sikap positif apapun, termasuk membaca.
Jika generasi hari ini cenderung malas membaca, betapa itu menggambarkan kondisi generasi di atasnya.
3. Jangan Kaku Mengatur Waktu, Kapan Anak harus Membaca
Jangan terlalu cemas tentang penetapan jadwal membaca bagi anak-anak anda. Kalau mereka mencintai membaca, mereka akan meluangkan waktu untuk melakukan hal itu.
Anak-anak memiliki dunianya sendiri. Ia akan melakukan apapun yang mereka senangi dengan hati yang ringan dan riang. Yang perlu kita dorong adalah kecintaan membaca itu perlu ditumbuhkan dahulu. Begitu rasa senang muncul, tanpa kita jadwalkan untuk membaca, mereka akan meluangkan waktunya sendiri membaca buku.
4. Anak-anak akan Menemukan Sendiri Genre Buku Kesukaannya
Jangan terlalu cemas untuk membuat anak-anak anda hanya membaca buku-buku yang "baik". Tak perlu terlalu dini mengatur bacaan mana yang baik dan tidak untuk anak-anak. Biarkan mereka memasuki pintu gerbang serunya menjumpai hal baru yang ia mampu serap dari buku.
Lambat laun, dengan imajinasi, daya jelajah analisisnya sendiri, ia akan dipertemukan dengan sejumlah bacaan yang ia sendiri mampu memilih dan memilahnya.
5. Upayakan Fasilitasi Anak dengan Buku-buku Sesuai Kesehariannya
Carilah buku-buku yang akan disukai oleh anak anda. Tentu saja kita mengamati keseharian anak-anak di rumah. Permainan yang dilakukannya, tingkah laku kebiasaannya, dan aktivitas lain yang khas dirinya.
Dari sejumlah aktivitas itu, sesuaikan dengan buku yang bertautan dengan kebiasaannya itu. Misalnya, anak-anak anda adalah pecinta permainan mobil-mobilan. Buku-buku yang memamerkan sejumlah merk mobil pasti akan ia sukai.
6. Jangan Ragukan Kemampuan Anak Memilih Cerita yang Baik
Jangan khawatir bahwa buku-buku yang mengandung kekerasan akan menghasilkan anak-anak yang cenderung kasar. Jangan meremehkan daya analisis anak-anak.
Sebagai orang dewasa, umumnya tidak menyukai sejumlah buku komik, namun bukan berarti bacaan komik itu harus dihindari. Bagaimanapun, pintu pembuka bacaan anak-anak akan membimbing anak-anak itu sendiri pada pencarian buku yang lain. Kekerasan yang ditampilkan dalam sejumlah buku komik tertentu tak perlu risau untuk dikhawatirkan.
7. Jangan Buru-buru Menentukan Buku yang Menurut Anda Berkualitas
Pastikanlah bahwa anak-anak Anda suatu saat nanti akan menyukai buku-buku klasik tanpa harus memaksanya terlalu dini.
Orang dewasanya yang telah membaca banyak buku, kadang suka egois memaksakan buku pilihannya supaya dibaca oleh anak-anak. Padahal, jika ia mau kembali pada masa lalunya, pertama kali menyukai buku, pasti bukanlah buku-buku klasik. Intinya, biarkan anak-anak menempuh dulu jalan pikiran yang ia mau jelajahi melalui buku kesukaannya.
8. Ada Saatnya Anak-anak Butuh Jeda
Jangan khawatir bila ada periode tertentu dalam hidup anak-anak anda ketika mereka kurang bergairah membaca. Ada masanya nanti anak-anak juga mengalami kegundahan dalam jarak tempuhnya bergulat dengan buku.
Kadang mereka perlu menepi sebentat untuk sekadar mengendapkan semua informasi yang ditabung. Ia perlu mencocokkan, mengasosiasikan, dan mensitesiskan hasil bacaanya dengan pemikirannya. Karena ia tahu, pada akhirnya, ia harus membaca kembali agar mendapatkan cara pandang baru.
9. Jangan Menyalahkan Diri Anda
Jika Anda memiliki anak-anak yang sudah beranjak besar yang memang tidak menyukai membaca, jangan salahkan diri Anda. Tumbuh kembang anak dipengaruhi banyak faktor.
Ada yang mengatakan, "Tak perlu buru-buru menginginkan anak langsung jadi shaleh-shalehah." Juga ada yang bilang, "Butuh sekampung untuk mendidik seorang anak." Jadi, kuncinya, sebagai orang tua, kita tak boleh berputus asa mengajak anak untuk hal-hal produktif, termasuk membaca buku.
10. Tak Ada Kata Menyerah Mengupayakan Kebaikan untuk Anak Anda
Jangan pernah menyerah mengupayakan sesuatu kepada anak-anak anda. Yakinlah, bahwa berapa pun usianya, mereka tentu dapat diarahkan untuk mencintai buku.
Sampai di sini, saya justru ingin mengembalikan pada paparan di awal, keteladanan menjadi faktor penting dalam mendidik anak, wabil khusus untuk mengarahkan mereka mencintai buku. Kesabaran dan keuletan merawat kedekatan adalah pangkal keberhasilan yang akan diraih.
Dengan demikian, jangan biarkan anak anda jatuh pada kegagalan berpikir karena anda tak sempat mengupayakan sang buah hati pada kecintaan membaca. Kegagalan berpikir hanya akan melahirkan sikap pengikut pada kebisingan di media sosial.
Anak-anak hanya akan diarahkan pada kebutuhan pasar yang diciptakan oleh pasar itu sendiri. Ia tak punya kesiapan untuk menyeleksi informasi yang sesuai dengan dirinya. Yang ada, ia akan berupaya menyesuaikan diri dengan lingkungannya sebab hilang jati dirinya. Semoga hal itu tak terjadi.
Selamat memetik makna.
Editor: Kendi Setiawan


