Saat seorang anak mengamuk, itu tanda bahwa mereka sedang kesal. Ketika mereka memeluk orang tuanya, artinya mereka sedang senang. Begitulah gambaran sederhana menjadi orang tua yang terlihat di permukaan dan awal pertumbuhan anak.
Namun, seiring anak tumbuh besar, segalanya berpotensi menjadi lebih rumit. Persepsi anak-anak kepada orang tua berubah dan menjadi semakin kompleks.
Sebagai orang tua pastinya kita berharap agar anak-anak tetap menghargai dan menyayangi kita meskipun usia mereka terus bertambah. Lalu bagaimana caranya?
Isabella Chase dalam tulisannya di Geediting.com membagikan 8 kebiasaan para orang tua yang perlu ditinggalkan agar anak-anak tetap menganggap baik saat mereka mulai remaja dan dewasa sebagai berikut:
1. Tidak Membicarakan Topik Sulit
Masa remaja penuh dengan gejolak emosi, tantangan, dan pelajaran berharga. Sebagai orang tua, Anda adalah pemandu mereka. Tapi jika Anda terus menghindari pembicaraan berat, Anda justru menciptakan jarak dan potensi salah paham.
Anak-anak bisa membaca situasi lebih tajam dari yang kita sangka. Mereka bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres atau tidak biasa dari sesuatu yang kita bicarakan.
Apa pun topiknya—mulai dari kesulitan sekolah, pertumbuhan pribadi, hingga kenyataan pahit kehidupan—jangan ragu untuk membahasnya. Memang tidak mudah, tapi sangat diperlukan.
Menghindar mungkin terasa nyaman untuk sementara, tetapi bisa membuat anak mengira Anda tidak peduli atau tidak jujur.
Ringkasnya: Hadapi kenyataan bersama mereka. Tunjukkan bahwa Anda selalu ada, baik dalam suka maupun duka.
2. Merespons Kesalahan Secara Berlebihan
Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Namun, bagaimana Anda menanggapi kesalahan anak justru memiliki dampak yang besar.
"Saya masih ingat ketika anak perempuan saya pulang sekolah dengan wajah panik karena lupa membawa proyek sains dan akhirnya dapat nilai nol. Saya bisa saja langsung marah atau menyalahkannya. Tapi saya memilih untuk tetap tenang, menatap matanya, dan mengatakan bahwa tidak apa-apa," tutur Isabella.
Kita semua bisa lupa, bahkan orang dewasa. Kami pun bersepakat membuat sistem pengingat agar kejadian serupa tidak terulang. Rasa lega yang dia tunjukkan sangat jelas. Menanggapi kesalahan secara berlebihan bisa membuat anak merasa Anda tidak memberi ruang untuk kesalahan. Sebaliknya, jadikan momen itu sebagai sarana belajar.
Tunjukkan bahwa kegagalan adalah bagian dari hidup, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Percayalah, anak akan menghargai cara Anda menghadapi situasi tersebut.
3. Memberikan Kritik Berlebihan
Saat ingin memberikan yang terbaik, kadang kita jadi terlalu banyak menuntut. Meski niatnya baik, terlalu sering mengkritik bisa berdampak buruk.
Penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang sering dikritik lebih rentan mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Mereka juga berisiko rendah percaya diri dan bisa tumbuh jadi pribadi yang juga terlalu kritis.
Yang terbaik adalah menemukan keseimbangan. Apresiasi usaha mereka, rayakan keberhasilan, dan bila mereka melakukan kesalahan – berikan arahan dengan penuh empati.
"Ingat, ucapan Anda sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Pilihlah kata-kata dengan bijak," saran Isabella.
4. Menutupi Kekurangan Diri Sendiri
Sebagai orang tua, kita cenderung ingin selalu tampil sempurna di depan anak. Namun, tidak ada manusia yang sempurna — termasuk Anda. Dan itu tidak masalah.
Mengakui kekurangan dan kesalahan Anda di hadapan anak justru menjadi pelajaran penting. Itu mengajarkan bahwa setiap orang bisa salah, dan penting untuk bertanggung jawab serta belajar darinya. Hal ini menanamkan nilai kejujuran dan kerendahan hati dalam diri anak.
Jadi, jika Anda melakukan kesalahan, jangan tutupi. Biarkan anak melihat cara Anda menanganinya dengan tenang dan bijaksana. Itu contoh nyata yang sangat bermakna bagi mereka.
5. Terlalu Sibuk
Isabella menceritakan dirinya pernah mengalami masa ketika kesibukan pekerjaan dan urusan rumah membuat saya lupa meluangkan waktu untuk anak-anak. Sampai akhirnya anak laki-lakinya bertanya, “Kenapa Mama selalu sibuk dan nggak pernah main?”
"Itulah momen yang membuka mata saya," cerita Isabella.
Ketika Anda terlalu sibuk untuk anak, mereka bisa merasa tidak cukup penting bagi Anda. Dan itu bisa membekas lama.
Isabelaa menceritakan tipsnya bahwa dirinya mulai membuat perubahan kecil, seperti bangun lebih pagi untuk sarapan bersama atau meluangkan waktu di malam hari untuk mendengarkan cerita mereka. Ternyata, itu membuat perbedaan besar.
"Waktu adalah hadiah paling berharga yang bisa Anda berikan kepada anak. Momen-momen inilah yang akan terus mereka kenang hingga dewasa," begitu Isabella berpandangan.
6. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak
Sebagai orang tua, kita punya naluri untuk menyelesaikan setiap masalah anak. Namun, jika selalu turun tangan, kita bisa menghambat mereka belajar menyelesaikan masalah sendiri.
Daripada langsung memberi solusi, cobalah mendorong mereka untuk berpikir sendiri. Tanyakan, “Menurutmu sebaiknya bagaimana?” atau “Apa langkah yang bisa kamu ambil?”
Anda mungkin akan terkejut melihat betapa mandiri dan kreatifnya mereka saat diberi kesempatan. Memberi mereka ruang untuk menghadapi tantangan akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian.
7. Terlalu Melindungi
Naluri untuk melindungi anak adalah hal yang wajar. Namun, perlindungan berlebihan bisa membawa dampak negatif. Jika terlalu membatasi, anak bisa merasa tidak mampu menghadapi dunia. Hal itu juga bisa menghambat keingintahuan alami dan membuat mereka kesulitan mengembangkan keterampilan penting dalam hidup.
Alih-alih membatasi, ajarkan mereka cara bersikap bijak, cara membela diri, serta pentingnya menjaga keselamatan dan kesadaran terhadap lingkungan. Dengan begitu, Anda membekali mereka menghadapi dunia – bukan menjauhkan mereka dari kenyataan dunia itu sendiri.
8. Tidak Menunjukkan Cinta Tanpa Syarat
Menurut Isabella, poin ini merupakan hal yang paling mendasar dan penting. Anak perlu merasa dicintai tanpa syarat oleh orang tuanya. Ini menjadi dasar dari rasa percaya diri, rasa aman, dan pemahaman tentang kasih sayang yang sehat.
"Tunjukkan cinta Anda secara konsisten–bukan hanya ketika mereka patuh atau berhasil. Bahkan saat mereka berbuat kesalahan, pastikan mereka tetap merasa dicintai," lanjut Isabella.
Mencintai tanpa syarat bukan berarti membiarkan perilaku buruk, tetapi mencintai mereka sepenuhnya – dengan segala kelebihan, kekurangan, dan keunikan mereka. Inilah jenis cinta yang menumbuhkan kedewasaan emosional yang sehat dan membentuk pandangan positif mereka terhadap Anda sebagai orang tua.
Editor: Kendi Setiawan


