Dark
Light
Dark
Light

Ragam Dukungan Psikososial bagi Penyintas Bencana Alam

Ragam Dukungan Psikososial bagi Penyintas Bencana Alam

Dalam situasi pascabencana, luka yang paling sulit disembuhkan kerap bukan yang terlihat oleh mata. Trauma, kecemasan, dan rasa kehilangan kerap menetap jauh setelah reruntuhan dibersihkan. Karena itu, dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan penyintas bencana.

Demikian terungkap dalam artikel jurnal berjudul Penggunaan Layanan Dukungan Psikososial sebagai Sarana Trauma Healing pada Korban Bencana Alam.

Para peneliti yakni M Rizky (Universitas Budi Luhur, Jakarta); Hayatul Khairul Rahmat (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati, Cirebon); dan A Said Hasan Basri (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta) mengungkapkan menurut Citra et al. (2024) setidaknya ada lima pendekatan utama yang dapat dilakukan sebagai bentuk dukungan psikososial bagi korban bencana. Pendekatan-pendekatan ini dirancang untuk membantu penyintas kembali menemukan rasa aman, harapan, dan kemampuan menjalani kehidupan secara normal.

Salah satu pendekatan yang paling awal diberikan adalah Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.

PFA merupakan bentuk bantuan awal yang diberikan segera setelah bencana terjadi, dengan tujuan mengurangi dampak psikologis negatif dan mempercepat proses pemulihan korban. Menariknya, PFA tidak hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan mental, tetapi juga oleh siapa saja yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Pekevski (dalam Damayanti & Avelina, 2018) menjelaskan bahwa PFA merupakan metode penanganan kondisi kegawatan atau situasi bencana yang bertujuan meminimalkan dampak psikologis pada individu. Pendekatan ini dikembangkan oleh National Child Traumatic Stress Network bersama National Center for PTSD di Amerika Serikat (Brymer et al., dalam Damayanti & Avelina, 2018).

Agar efektif, Forbes (dalam Kharima et al., 2022) menegaskan bahwa PFA harus mencakup delapan komponen penting, mulai dari membangun kontak dan keterlibatan dengan penyintas, memastikan rasa aman dan nyaman, melakukan stabilisasi emosi, hingga menghubungkan korban dengan dukungan sosial dan layanan kolaboratif. Komponen lain yang tak kalah penting adalah pengumpulan informasi terkait kebutuhan dan kekhawatiran korban, pemberian bantuan praktis, serta penyediaan informasi tentang cara-cara mengatasi stres.

Dalam praktiknya, sebagaimana diuraikan oleh Fitriyani dan Anjaly (2023), PFA dilakukan melalui tahapan-tahapan sederhana namun penuh empati. Relawan memulai dengan mendekati penyintas secara santun, memperkenalkan diri, dan memastikan kesiapan korban untuk berbicara.

Penyintas kemudian diajak ke tempat yang lebih aman, didampingi tanpa paksaan, diberi ruang untuk menenangkan diri, serta didengarkan dengan penuh perhatian. Relawan berperan sebagai pendamping yang membantu korban mengidentifikasi kekhawatiran, memahami perasaannya, dan mencari langkah-langkah praktis untuk menghadapi situasi yang dihadapi, terutama ketika korban diliputi kecemasan terkait kondisi keluarga dan masa depan yang belum pasti.

Intervensi psikososial
Selain PFA, intervensi psikososial menjadi bentuk dukungan lanjutan yang tak kalah penting. Intervensi ini mencakup dukungan sosial, emosional, dan psikologis, termasuk penguatan spiritual keagamaan serta upaya penyembuhan trauma. Astuti et al. (2022) membagi intervensi psikososial ke dalam dua bentuk utama, yakni intervensi berbasis individu dan intervensi berbasis kelompok.

Intervensi berbasis individu diarahkan untuk membantu korban tetap memiliki semangat hidup dan mencegah trauma emosional berkembang menjadi lebih berat. Bentuknya beragam, mulai dari pencarian informasi melalui media daring, hingga intervensi yang bertujuan memperbaiki perilaku, pola pikir, emosi, dan aktivitas fisik, sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi korban terhadap lingkungan pascabencana.

Namun, jenis intervensi yang diberikan sangat dipengaruhi oleh reaksi psikologis tiap-tiap individu. Yuwanto et al. (dalam Astuti et al., 2022) mengelompokkan reaksi tersebut ke dalam tiga tingkat, yakni distress psikologis ringan yang ditandai kecemasan atau kewaspadaan berlebihan; distress psikologis sedang yang ditandai penarikan diri dan gangguan emosi; hingga gangguan perilaku dan mental berat seperti PTSD, depresi, gangguan kecemasan, fobia, atau gangguan perilaku lainnya.

Di sisi lain, intervensi berbasis kelompok juga memiliki peran strategis, terutama dalam konteks komunitas terdampak bencana. Intervensi ini umumnya menggunakan pendekatan terapeutik kelompok atau sosioterapi, yang bertujuan memperkuat ketahanan sosial dan emosional penyintas. Di lingkungan sekolah, misalnya, guru dapat berperan memberikan dukungan psikososial melalui sistem pendidikan formal. Kegiatan kelompok yang mendorong partisipasi aktif juga terbukti membantu meningkatkan daya lenting korban bencana.

Salah satu contoh penerapan intervensi psikososial berbasis spiritual dilakukan di Desa Sumber Wuluh, Kabupaten Lumajang, pada 2021, pascaerupsi Gunung Semeru. Amrullah et al. (2022) mencatat bahwa dukungan psikososial bagi pelajar dilakukan melalui penguatan nilai-nilai keagamaan.

Kegiatan meliputi penyuluhan tentang pengelolaan emosi, pemahaman diri dalam situasi bencana, permainan interaktif untuk mengurangi kecemasan, hingga muhasabah yang menekankan kesadaran akan kebesaran Tuhan. Pendekatan ini terbukti efektif menurunkan tingkat kecemasan para pelajar.

Pendekatan berbasis komunitas
Pendekatan lain yang tak kalah penting adalah pendekatan berbasis komunitas, yang menekankan pemberdayaan masyarakat serta pemanfaatan kearifan lokal. Dalam penanganan trauma pascagempa Lombok 2018, misalnya, pendampingan terhadap penyintas di Desa Kayangan, Lombok Utara, dilakukan dengan memanfaatkan permainan tradisional sebagai media pemulihan.

Setiawan et al. (2021) mencatat bahwa pendampingan berbasis kearifan lokal ini dilaksanakan melalui tahapan observasi, koordinasi, pendataan relawan, penyediaan alat permainan, hingga pendampingan berkelanjutan. Setelah delapan kali pendampingan, trauma penyintas—terutama anak-anak—berhasil berkurang secara signifikan, dan mereka dapat kembali beraktivitas secara mandiri.

Ragam pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga tentang memulihkan jiwa manusia yang sempat terguncang.

Dukungan psikososial yang tepat, berkelanjutan, dan kontekstual menjadi kunci agar penyintas mampu bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan lebih kuat.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo