Dark
Light
Dark
Light

Konsep Kebahagiaan Orang Miskin menurut Psikologi Positif Hasil Penelitian UNS

Konsep Kebahagiaan Orang Miskin menurut Psikologi Positif Hasil Penelitian UNS

Di tengah wacana tentang kebahagiaan yang kerap diasosiasikan dengan kemapanan materi, sebuah penelitian mengungkapkan perspektif berbeda.

Riset yang dilakukan tim dari Program Studi Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini menyoroti bagaimana masyarakat miskin memaknai kebahagiaan melalui keseimbangan antara hubungan sosial, keyakinan transendental, dan strategi bertahan hidup.

Temuan tersebut tidak hanya memotret realitas keseharian mereka, tetapi juga mengungkap kearifan lokal dalam menghadapi keterbatasan, mulai dari menjaga keharmonisan keluarga hingga menumbuhkan rasa syukur di tengah minimnya sumber daya.

Studi berjudul Konsep Kebahagiaan Menurut Psikologi Positif ini dilakukan oleh Aulia Rahmafadhila Tanjung, Clarabel Simaremare, Devina Amanda Putri, Fariduddin Attar, dan Suryo Ediyono.

Penelitian tersebut menemukan bahwa kebahagiaan pada masyarakat miskin dipengaruhi oleh tiga aspek utama, yakni hubungan interpersonal, hubungan transendental, serta pemertahanan hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Hubungan Interpersonal Menjadi Faktor Penting
Dalam aspek hubungan interpersonal, partisipan menilai kebahagiaan erat kaitannya dengan kemampuan membangun relasi sosial positif, baik dengan keluarga, teman, maupun tetangga.

Faktor keluarga yang memengaruhi kebahagiaan antara lain pemahaman anak terhadap orang tua, dukungan pasangan, kehadiran cucu, kesehatan keluarga, dan rendahnya frekuensi pertengkaran. Strategi yang digunakan meliputi menasihati anak, meningkatkan komunikasi, berdiskusi, berinteraksi dengan cucu, dan berdoa.

Di sisi lain, hambatan datang dari tekanan anak, perdebatan, keluhan, hingga masalah pernikahan anak. Hubungan dengan teman dan tetangga pun berperan, di mana penghargaan dan interaksi positif seperti saling membantu menjadi pendorong kebahagiaan, sementara sikap meremehkan atau gosip menjadi penghalang.

Menariknya, penelitian ini juga mencatat bahwa perselisihan dianggap hambatan, tetapi proses penyelesaiannya justru dapat menjadi sumber kebahagiaan. Strategi penyelesaian meliputi menghindari pertentangan parah, bermusyawarah, hingga coping dengan cara keluar rumah.

Kesadaran Transendental dan Peran Tuhan
Aspek kedua adalah hubungan transendental. Seluruh partisipan sepakat bahwa kesadaran akan peran Tuhan menjadi sumber kebahagiaan.

Hal ini terwujud dalam keyakinan bahwa Tuhan akan memberi pertolongan, menunjukkan jalan, dan memastikan rezeki selalu ada.

Strategi menjaga kebahagiaan di aspek ini mencakup atribusi fatalistik, kesadaran akan keterbatasan hidup, serta ketaatan pada ajaran agama.

Pemertahanan Hidup dan Gaya Hidup Sederhana
Selain dua faktor tersebut, penelitian juga menyoroti pentingnya strategi pemertahanan hidup. Dalam aspek finansial, masyarakat miskin menjaga kebahagiaan dengan mencari pekerjaan, mengatur keuangan, dan memandang bahwa uang bukan segalanya.

Hambatan utama adalah pemasukan terbatas, banyaknya tanggungan, serta dampak sosio-historis seperti pandemi. Faktor usia dan kesehatan fisik juga menjadi penghalang.

Pemenuhan kebutuhan pokok sering dicapai dengan mengadopsi gaya hidup minimalis, menerima kondisi yang ada, dan melihat hidup dari perspektif yang lebih rendah. Namun, dorongan keinginan pribadi yang tidak terkendali dapat mengganggu keseimbangan tersebut.

Tim peneliti UNS menyimpulkan bahwa kebahagiaan pada masyarakat miskin merupakan hasil keseimbangan antara hubungan interpersonal, hubungan transendental, dan strategi pemertahanan hidup. Sikap sederhana dan penerimaan terhadap kondisi menjadi kunci dalam menjaga kebahagiaan di tengah keterbatasan.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo