Jakarta, Arina.id — Menemukan yang lebih hakiki dan berguna adalah salah satu poin penting dalam filsafat minimalisme. Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz mengemukakan gambaran dari prinsip tersebut dengan pertanyaan: Mengapa sesuatu harus dibersihkan, dibuang, diseleksi, ialah karena tidak hakiki atau tidak berguna.
Mengutip William Morris, Faiz mengatakan: “Jangan engkau memiliki barang yang tidak kau ketahui gunanya, atau tidak kau yakini keindahannya."
Dengan demikian parameter atau ukuran perlunya memiliki atau menggapai sesuatu ada dua yaitu kegunaan dan keindahan..
"Kata Sokrates juga:“Apakah engkau tidak malu begitu peduli pada perolehan uang, ketenaran, dan prestise, ketika kamu tidak berpikir atau peduli tentang kebijaksanaan, kebenaran, dan peningkatan jiwamu?” ujar Faiz dalam tayangan rekaman ceramahnya di akun Suara Filsuf.
Dia mengungkapkan bahwa manusia kebanyakan sering lebih menganggap penting uang, ketenaran, dan prestise (gengsi, nama besar). Manusia sering lebih fokus kepada hal-hal tersebut daripada yang lebih hakiki yaitu kebijaksanaan, kebenaran, dan peningkatan kualitas jiwa.
"Ayo, fokus ke tiga yang hakiki ini, dan buanglah tiga yang awal: uang, ketenaran, prestise. Bukan berarti kita jangan kaya. Bukan berarti kita tidak boleh terkenal. Bukan berarti kita antiprestise. Tapi ingat: itu semua efek saja," imbuhnya.
Jika seseorang serius mengejar kebijaksanaan, kebenaran, dan peningkatan jiwa, kekayaan akan datang dengan sendirinya. Uang otomatis datang, ketenaran juga akan datang, prestise pun akan hadir.
"Tidak usah khawatir, yang sifatnya niscaya, tidak usah kamu kejar. Kalau saya kerja keras, ya otomatis uang datang. Kalau saya ngomong baik-baik dan benar, cocok untuk banyak orang, ya otomatis saya dikenal. Kalau saya melakukan yang baik terus, otomatis nama baik hadir di masyarakat. Itu semua implikasi logis. Tidak harus dijadikan target," kata Faiz.
Selanjutnya, Faiz mendorong agar para pendengarnya mengisi hidup dengan pengalaman, bukan hanya barang. "Milikilah banyak cerita untuk dikisahkan, bukan barang untuk dipamerkan. Jadi, alih-alih ngumpulin barang, yuk ngumpulin pengalaman," ujarnya.
Menambah pengalaman sebanyak mungkin perlu dilakukan, supaya nantinya ada yang bisa diceritakan untuk generasi berikutnya.
"Ayo, koleksi kisah-kisah hebat, tidak sekadar koleksi barang-barang untuk dipamerkan. Masuklah ke hal yang lebih hakiki dan bermakna," ajak Faiz.
Editor: Kendi Setiawan


