Jakarta, Arina.id — Dalam dunia filsafat terdapat beberapa aliran seperti Minimalisme dan Stoikisme. Minimalisme sering dilihat sebagai gaya hidup dan pandangan yang berakar pada ide untuk menyederhanakan harta benda, tindakan, dan pemikiran untuk memberi tumpuan kepada apa yang benar-benar penting.
Adapaun Stoikisme adalah filsafat yang menekankan pengendalian emosi, hidup selaras dengan alam, dan menerima segala hal yang berada di luar kendali kita dengan ketenangan dan kebijaksanaan.
Stoikisme juga mengajarkan cara menghadapi kehidupan dengan tenang dan bijaksana, serta memberikan panduan untuk mencapai makna dalam hidup.
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz mengungkapkan bahwa penjelasannya tentang kebahagiaan sejati dengan hidup sederhana banyak dikaitkan antara minimalisme dengan stoikisme, karena memang gagasan-gagasan stoikisme itu banyak yang relate dengan minimalisme.
Menyaring Keinginan dan Fokus Hidup
Faiz mencontohkan misalnya salah satu kalimat dari Epictetus: “Kekayaan itu tidak terdiri dari memiliki banyak harta, tetapi memiliki sedikit keinginan.”
Menurut Faiz itulah ciri-ciri orang kaya yang sebenarnya.
"Kebalikannya, kata Seneca: Bukan orang yang memiliki terlalu sedikit, tetapi orang yang menginginkan lebih—itulah miskin. Selama kita masih ingin macam-macam dan belum keturutan, sebesar apa pun harta kita, kita masih miskin," terang Faiz dalam rekaman ceramahnya di akun Suara Filsuf.
Kemudian Faiz mengutip Marcus Aurelius: “Energi dan waktumu sama-sama terbatas. Jadi jangan sia-siakan mereka pada apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dikatakan oleh orang-orang yang tidak penting dalam hidupmu.”
Jangan Selalu Menyenangkan Semua Orang
Dia menjelaskan bahwa hal itu berhubungan dengan relasi sosial. Dia meminta pendengarnya untuk tidak salah persepsi sebab minimalisme itu tidak hanya soal barang, tapi juga soal orang.
"Kalau di antara keinginan kita adalah disenangi semua orang, dipuji semua orang, dan kita mati-matian ke sana—kalau versinya Marcus, ya kita sedang memboroskan energi dan waktu kita," terangnya.
Dia memberikan saran agar pendengarnya menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat saja. Bahkan seandainya ada orang yang tidak suka pada aktvitas atau sesuatu yang bermanfaat yang dilakukan, asal kita yakin bahwa itu baik, maka jalani saja.
"Kalau kita meladeni komentar orang, kata-katanya orang, tidak ada habisnya. Tidak mungkin semua orang senang. Misalnya saya ngaji filsafat, kelihatannya semua senang—iya, wong viewer-nya sedikit. Yang tidak senang tidak ngomong. Malas. Jadi tidak berpengaruh. Jadi tidak usah fokus ke sana," Faiz mencontohkan.
Saat kita memikirkan dan merasa terbebani dengan komentar orang, kata Faiz, jangan-jangan waktu dan energi akan habis untuk yang tidak penting.
Bijak Bermedia Sosial: Jangan Boros Energi Hanya untuk Validasi
Faiz juga memberikan contoh dalam bermedia sosial, ketika pemilik akun dibebani dengan rasa ingin tahu respons warganet.
"Pernah tidak kalian habis posting sesuatu, terus bolak-balik ditengok: Yang nge-like berapa ya? Sudah berapa yang nonton? Kalau kamu sering begitu, kemungkinan energi dan waktumu sudah habis," ujarnya.
Terkait unggahan di media sosial, Faiz memberikan saran. "Kalau kamu anggap posting-an itu penting, posting saja. Selesai. Terserah orang mau apresiasi, mau buat kontroversi, mau mengkritik—monggo. Tapi (yang penting) kamu tahu, yang kamu posting itu baik. Tidak usah mengukur dari komentar orang dan lain sebagainya," sarannya.
Fokus Hal Penting, Tinggalkan yang Tak Perlu
Mengutip nasihat Marcus, Faiz mengatakan upaya untuk memprioritaskan hal yang benar-benar perlu dan mengabaikan hal yang memang seharunsy diabaikan..
"Prioritaskan hal-hal yang tepat: keluarga, teman, usaha, kesejahteraan. Engkau akan menemukan kepuasan dan harmoni,” kata Faiz.
Dengan begitu, setelah bersih dari barang yang tidak penting, teman yang tidak penting, situasi yang tidak penting—di situ kita ketemu harmoni dan kepuasan hidup.
Editor: Kendi Setiawan


