Dark
Light
Dark
Light

Orang yang Suka Menyela Pembicaraan Biasanya Memiliki 7 Masalah Ini

Orang yang Suka Menyela Pembicaraan Biasanya Memiliki 7 Masalah Ini

Pernahkah Anda mengalami ketika belum selesai berbicara tiba-tiba disela atau dipotong oleh lawan bicara? Atau tanpa sadar, Anda yang melakukannya?

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin hal itu telah menjadi kebiasaan. Namun, tahukah Anda bahwa memotong pembicaraan orang lain maupun menyela bukan sekadar soal etika buruk dan menjadi jendela ke dalam masalah emosional atau psikologis yang lebih dalam.

Berikut tanda atau ciri-ciri yang dimiliki oleh orang yang suka menyela dikutip dari dmnews.com

1. Selalu Ingin Didengar
Banyak orang yang sering menyela sebenarnya sedang bergulat dengan keraguan tentang nilai diri mereka. Mereka takut kalau tidak segera bicara, mereka tidak akan pernah didengar.

Saat dibangku kuliah atau di rapat-rapat di kantor, sering kita temui orang yang sering terburu-buru masuk ke dalam percakapan begitu mereka merasa tidak nyaman. Orang yang seperti itu biasanya bukan karena ingin menguasai pembicaraan, tapi karena takut pendapatnya tidak dianggap penting jika mereka menunggu terlalu lama.

Penyela yang tidak percaya diri sering kali juga mengharapkan validasi. Mereka mungkin secara tidak sadar berpikir bahwa komentar atau cerita mereka akan membuktikan bahwa mereka “layak” berada dalam kelompok sosial tersebut.

Tetapi sayangnya, mereka jarang memberikan ruang dan penghargaan yang sama kepada orang lain. Jika kamu menyadari dirimu menyela karena rasa tidak aman, ini bisa menjadi isyarat untuk merefleksikan citra diri dan bagaimana kamu merespons tekanan sosial.

2. Takut Dilupakan
Pernahkah Anda berada dalam kelompok yang ramai, yang ketika percakapan berlangsung begitu cepat hingga sulit menyelipkan pendapat?
Beberapa orang tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka sering terabaikan—mungkin karena berasal dari keluarga besar atau sering mengalami situasi di mana pendapat mereka tidak dihargai.

Akibatnya mereka mengembangkan kebiasaan menyela agar tidak “tertinggal.” Pemandangan ini mungkin sering kita dapati di rapat-rapat kerja atau saat acara makan malam. Orang yang takut dilupakan akan menyela agar pendapatnya sempat didengar sebelum topik berganti.
Sesungguhnya cara ini sering jadi bumerang. Alih-alih didengar, mereka malah dianggap kasar. Rasa takut mereka untuk dilupakan malah membuat mereka dijauhi.

3. Cemas dengan Rasa Sepi dan Penolakan
Kecemasan sosial bisa jadi pemicu kuat dalam kebiasaan menyela. Ada orang-orang yang tidak tahan dengan kesepian—mereka merasa harus segera mengisinya. Di balik itu, ada rasa takut akan penolakan atau kekhawatiran bahwa percakapan akan terasa canggung.

Ketika kita terlalu cepat mengisi keheningan, kita kehilangan kesempatan untuk mendengarkan dan berpikir lebih dalam. Belajar merasa nyaman dalam keheningan benar-benar bisa meningkatkan kualitas koneksi dengan orang lain.

4. Keyakinan Terbatas yang Tidak Disadari
Kebiasaan menyela juga bisa muncul dari narasi batin yang menyuruhmu untuk terus berbicara agar dianggap berharga. Atau sebaliknya, kamu merasa kamu hanya berarti jika selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Ini adalah keyakinan membatasi (limiting beliefs) yang kita kumpulkan selama hidup tanpa disadari.

Ada orang-orang yang sering menyela karena merasa jika terlalu lama diam, orang akan berpikir bahwa dirinya tidak punya pikiran yang berharga. Cara berpikir seperti ini justru melemahkan kepercayaan diri sendiri.

Pelatihan yang dapat diikuti oleh orang yang merasa demikian adalah semacam kelas “Free Your Mind”. Lewat kelas itu, kita dapat mulai menyadari bagaimana dialog batin bisa mengendalikan perilaku kita. Latihan-latihannya membuat peserta bertanya: “Aku berbicara karena benar-benar ingin berbagi, atau hanya karena takut?”

Kesadaran kecil itu justru mungkin lebih ampuh daripada semua tips komunikasi yang ada.

5. Sulit Mengatur Emosi
Ketika seseorang merasa sangat emosional—entah karena senang, marah, atau frustrasi—mereka mungkin menyela karena tidak bisa menahan dorongan untuk bicara. Mereka belum punya alat untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menunggu momen yang tepat.

Dalam debat yang panas misalnya terutama dengan teman dekat atau saudara, emosi akan memuncak, dan tiba-tiba tanpa sadar kita sudah memotong ucapan orang lain tanpa sadar.

Mengatur emosi butuh latihan. Pernafasan sadar, menulis jurnal, atau sekadar menghitung sampai tiga sebelum bicara bisa membuat perbedaan besar dalam cara kita berkomunikasi.

Jika Anda sering menyela saat emosi memuncak, itu mungkin tanda untuk berhenti sejenak dan menyadari intensitas emosimu sebelum ikut campur.

6. Kebutuhan Akan Kontrol
Bagi sebagian orang, menyela adalah cara untuk menjaga kendali—baik atas percakapan, maupun suasana sosial secara keseluruhan. Ini bisa berasal dari rasa takut terhadap ketidakpastian, atau dari keinginan bawah sadar untuk menguasai.

Di kantor, kita mungkin ada rekan kerja yang selalu mengalihkan diskusi kelompok ke agendanya sendiri. Kalau dipikir-pikir, itu bukan soal kolaborasi, tapi tentang kebutuhan dia untuk mengontrol arah pembicaraan.

Biasanya, ini muncul karena orang tersebut tidak percaya bahwa percakapan akan mengarah pada sesuatu yang relevan untuknya. Atau, dia punya keyakinan bahwa sudut pandangnya adalah yang “paling benar”, dan semua orang harus diarahkan ke sana.

7. Kurangnya Kesadaran Diri dan Empati
Alasan paling umum di balik kebiasaan menyela adalah kurangnya pemahaman tentang dinamika percakapan. Beberapa orang terlalu larut dalam pikiran mereka sendiri, sehingga tidak menyadari bahwa mereka memotong orang lain.

Mereka mungkin tidak peka terhadap isyarat halus—seperti orang yang menarik napas atau mulai bergeser sedikit—yang menandakan bahwa mereka ingin berbicara. Ini bisa terlihat kasar atau tidak peka, walaupun sebenarnya tidak disengaja. Namun, kadang bukan hanya karena tidak menyadari—tapi karena rendahnya empati.

Ketika kita tidak cukup menghargai suara orang lain seperti kita menghargai suara kita sendiri, kita akan menyela tanpa berpikir dua kali. Belajar hadir sepenuhnya dalam percakapan dan berusaha memahami orang lain bisa sangat membantu mengurangi dorongan untuk menyela.

Mulai sekarang, apabila Anda sering menyela—atau melihat orang lain melakukannya—anggap itu sebagai kesempatan untuk menggali penyebabnya. Sedikit refleksi diri dan kebiasaan komunikasi yang lebih sadar bisa menciptakan interaksi yang jauh lebih sehat dan bermakna.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo