Arina.id - Dalam kehidupan sehari-hari, kebahagiaan anak-anak sering kali dianggap sebagai hal sepele dan hanya sekadar tambahan setelah urusan orang dewasa terselesaikan. Namun, Islam melalui teladan Rasulullah SAW justru menempatkan kebahagiaan anak-anak sebagai bagian penting dari akhlak dan kasih sayang dalam masyarakat.
Rasulullah SAW tidak hanya dikenal sebagai pemimpin umat dan ahli ibadah, tetapi juga sebagai sosok yang sangat peduli terhadap perasaan dan kebahagiaan anak-anak, baik di lingkungan keluarganya maupun di tengah masyarakat.
Inilah 4 teladan dan cara Rasulullah membahagiakan anak-anak:
Menyambut Anak-Anak dengan Senyum dan Pelukan
Rasulullah SAW dikenal sangat lembut terhadap anak-anak. Beliau biasa menyapa mereka dengan penuh kasih dan tidak pernah menunjukkan sikap angkuh. Bahkan, beliau kerap memangku, mencium, dan memeluk cucunya Hasan dan Husain di depan para sahabat.
Pernah suatu ketika, Aqra’ bin Habis melihat Nabi mencium cucunya dan berkata, “Aku punya sepuluh anak, tetapi belum pernah aku mencium satu pun dari mereka.” Rasulullah menjawab:
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa ekspresi cinta secara lahiriah kepada anak-anak adalah bentuk keutamaan, bukan kelemahan.
Sebuah riwayat juga menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah mencium Sayyid Ibrahim dan disaksikan oleh beberapa Sahabat. Riwayat Anas bin Malik RA menyebutkan:
دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا ِلإِبْرَاهِيمَ فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ.
Artinya: “Kami pernah masuk bersama Rasulullah SAW menemui Abu Saif al-Qain, yang ia merupakan sepersusuan dengan Ibrahim, lalu Rasulullah SAW menggendong Ibrahim, kemudian mencium dan memeluknya.” (HR. Al-Bukhari)
Mendengarkan dan Memenuhi Keinginan Anak
Rasulullah SAW tidak mengabaikan permintaan anak-anak. Dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, dikisahkan bahwa Nabi pernah mempercepat sholat beliau ketika mendengar anak kecil menangis, agar sang ibu tidak merasa terganggu. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya peka terhadap kebutuhan orang dewasa, tapi juga sangat memperhatikan kenyamanan dan kebahagiaan anak-anak.
Membiarkan Anak Bermain dan Menghormati Dunia Mereka
Rasulullah tidak pernah memarahi anak-anak hanya karena mereka bermain atau bersikap seperti anak-anak pada umumnya. Suatu hari, beliau melihat Hasan dan Husain menaiki punggungnya saat beliau sujud dalam sholat. Bukannya marah, beliau memperlama sujud agar cucunya puas bermain.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa anak-anak butuh ruang untuk menjadi anak-anak, dan tugas orang dewasa adalah memfasilitasi masa kecil mereka dengan kasih sayang, bukan tekanan.
Memberikan Pujian dan Panggilan yang Lembut
Nabi SAW biasa memanggil anak-anak dengan panggilan yang menyenangkan, seperti “Yaa Bunayya” (wahai anakku). Bahkan, kepada sahabat muda seperti Ibn Abbas dan Anas bin Malik, beliau tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga motivasi dan pujian yang mendidik.
Kelembutan dalam berbicara menunjukkan bahwa Rasulullah tidak ingin merusak semangat anak-anak dengan kekerasan verbal. Justru, beliau membangun kepercayaan diri mereka dengan kata-kata positif.
Bagi Nabi SAW, kebahagiaan anak-anak bukan sekadar hiburan atau bonus, tetapi bagian dari ajaran akhlak Islam. Rasulullah SAW telah memberi teladan bahwa membahagiakan anak adalah bagian dari ibadah dan bentuk kasih sayang yang luhur.
Dalam kehidupan modern, orang tua, guru, dan masyarakat hendaknya meniru cara Nabi dalam memperlakukan anak-anak dengan kelembutan, empati, dan penghargaan atas dunia mereka. Karena anak-anak yang bahagia hari ini, akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang sehat jiwanya, penuh cinta, dan mampu menebarkan kebaikan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


