Dark
Light
Dark
Light

3 Sikap yang Wajib Dilakukan dan 3 yang Harus Dihindari Pasangan dalam Mengasuh Anak

3 Sikap yang Wajib Dilakukan dan 3 yang Harus Dihindari Pasangan dalam Mengasuh Anak

Menjadi orang tua merupakan panggilan Tuhan agar kita merawat kehidupan terus-menerus dari generasi ke generasi sebagai kewajiban menghamba kepada Allah Swt. Namun demikian, tugas sebagai orang tua tidak secara serta merta cakap saat ijab qabul pernikahan telah dilangsungkan.

Pernikahan menjadi jembatan kita membuat komitmen dengan pasangan bahwa di depan masih banyak perjalanan yang harus dilewati dengan saling menghargai. Tanpa sikap saling terbuka di antara pasangan, pernikahan akan menjadi arena konflik yang jika tak segera diatasi akan berakibat buruk pada jalannya kehidupan masing-masing. Problemnya, jika telah memilki anak, maka konflik keluarga sangat membahayakan bagi masa depan sang buah hati.

Hal pertama yang perlu jadi bahan perbincangan oleh pasangan pernikahan adalah kedua pribadi ini harus bicara dari hati ke hati merencanakan pengasuhan anak yang akan mereka jalani. Jangan sampai, saat buah hati telah hadir di dunia, mereka lupa, ada hal yang perlu keduanya sama-sama belajar membesarkan anak.

Pernikahan bukanlah tombol otomatis bahwa dua insan yang menjalin perjodohan pasti akan menjadi orang tua yang piawai. Tidak demikian adanya. Perjalanan menjadi orang tua akan menemukan banyak pelajaran yang tak boleh disepelekan. 

Keputusan membangun keluarga berarti pula kemauan untuk belajar bersama bagaimana pola asuh terbaik untuk anak-anak yang akan menyambut kebahagiaan pasangan orang tua. Hal penting pertama kali yang harus dilakukan adalah mengenal diri pribadi masing-masing pasangan yang telah berkomitmen untuk merajut pernikahan agar kelak melahirkan generasi penerus yang tangguh, penebar kebaikan, cerdas otaknya, dan sehat badannya.

Anak merupakan cermin orang tua. Bukan saja secara fisik akan mirip dengan ayah atau ibunya. Secara psikis, anak-anak akan memilki pola tingkah laku, cara berpikir, dan gaya bicara yang mendekati dengan ayah atau ibu, atau perpaduan antar keduanya. Maka, kenalilah kembali pribadi masing-masing baik ayah atau sang ibu. Berbincanglah saling terbuka dan kemauan untuk saling menghargai, bukan untuk saling mengoreksi satu sama lain. 

Hal yang Perlu Dilakukan

Hal-hal yang perlu dilakukan di antaranya; 

1. Jadilah pribadi yang menerima diri dan pasangan apa adanya
Sikap menerima apa adanya mudah dikatakan namun kadang sulit dalam praktiknya. Proses saling mengingatkan terkadang tak mulus, ada saja rasa tidak enak ketika dikasih masukan. Kendati begitu, perjuangan belajar menjadi orang tua tak boleh kalah oleh rasa tidak enak tadi.

Belajar menerima diri dan pasangan adalah latihan untuk bisa menerima anak apa adanya. 

Saya mendapatan kisah seorang pelajar MTs kelas 9 belum bisa membaca dan menulis. Pihak sekolah berinisiatif kepada anak ini dilakukan asesmen ke seorang psikolog. Hasilnya, anak yang bersangkutan memiliki skor IQ di bawah rata-rata. Artinya, sang anak mempunyai kelemahan keterlambatan kognitif. Ketika hasil asesmen ini diberitahukan ke orang tua, keduanya tidak menerima.

Orang tua merasa anaknya baik-baik saja dan bisa belajar seperti teman-teman lainnya. Ini contoh bahwa menerima anak apa adanya tak semudah kita bayangkan, diperlukan proses latihan. Dan, latihan yang baik adalah belajar saling menerima diri dan pasangan apa adanya. 

2. Jadilah orang tua yang dihiasi dengan sikap sabar
Tanpa sikap sabar, anda justru akan terjebak pada sikap emosional yang tidak diperlukan. Bahkan, seringkali bisa keluar sikap yang malah merugikan anak. Sabar adalah cara terbaik agar diri tak mudah dibajak emosi ketika mendapati anak melakukan hal yang kurang diharapkan.

Tetapkanlah diri dengan berpandangan bahwa anak adalah pribadi yang sedang menjalani proses belajar. Maka, dalam proses belajar tentu saja sekali waktu anak melakukan kesalahan. Bukankah, dari kesalahan itu anak akan banyak belajar hal sebailiknya, yakni kebaikan, keindahan, dan kebenaran.

3. Bersikaplah optimis 
Sebagai orang tua, Anda wajib otpimis bahwa anak-anak anda adalah anak-anak yang solih dan solihah. Pada waktunya, anak-anak akan menunjukkan prestasi yang tak disangka-sangka jika kita tetap menjaga rasa optimis.

Sikap optimis juga akan membantu anda agar tidak ingin selalu buru-buru anak menampilkan sikap yang bisa dibanggakan. Sebab, pada hakikatnya semua anak memang patut menjadi kebanggan kita, orang tuanya.

Hal yang Harus Dihindari
Setelah mengenal diri dengan mengedepankan sikap menerima anak apa adanya, sabar, dan optimis, maka selanjutnya kenali tiga sikap yang perlu dihindari dalam proses menjalani kewajiban sebagai orang tua. 

1. Jangan pernah merasa kecewa dengan anak
Kehidupan keluarga merupakan madrasah bagi para penghuninya. Bukan saja bagi anak yang tengah menempuh latihan agar menjadi pribadi yang tangguh, kuat, dan berkarakter budi pekerti baik.

Tapi, orang tua juga merupakan bagian yang ta ketinggalan untuk menapaki proses belajar yang tak boleh mandeg. Seperti ungkapan para guru, ”mencari ilmu dimulai dari pertama kali napas dihela dan berakhir saat napas terakhir ditiupkan”. 

Suatu ketika, kita pasti akan mendapatkan bahwa anak berperilaku yang tidak kita harapkan. Saat ada di momen seperti itu, kita tetap tak boleh kecewa dengan anak. Lebih baik diam, kemudian memanjat doa agar anak-anak tetap diberikan petunjuk kebaikan oleh Sang Maha Kasih.

Jika yang muncul adalah rasa kecewa, maka akan memicu amarah yang justru akan menjauhkan diri dari kebaikan. Amarah yang hadir kerap membikin keruh suasana dan solusi yang diharapkna malah nihil.

2. Orang tua bukanlah seorang hakim 
Pada waktu tertentu, anak merasa serba salah sebab orang tua banyak aturan bagaimana sang buah hati harus bertingkah laku. Orang tua terlalu banyak keinginan agar sang anak harus begini dan mesti begitu dan kerap membingungkan. Pada suatu kesempatan anak boleh keluar malam.

Namun karena ada kejadian anak sekali pulang larut, lalu orang tua marah dan tidak lagi membolehkan anak keluar malam. Setalah amarahnya reda, orang tua kembali membolehkan kembali anak keluar di malam hari.

Sikap yang labil semacam ini sebenarnya merugikan anak. Hal yang terjadi kemudian, orang tua melakukan penghakiman-penghakiman yang sejatinya tidak perlu. Hindarilah sikap terus-terusan menghakimi anak jika ingin menjadi orang tua yang senantiasa dirindukan.

3. Hindari sikap berkuasa kepada anak 
Kita perlu menyadari bahwa anak-anak sejatinya milik Allah semata. Sebagai hamba, orang tua pada hakikatnya diminta bersedia meneruskan kehidupan agar terus berlanjut sebagai tanda kuasa Tuhan atas makhluk-Nya.

Maka tak elok, jika kita berperangai sebagai penguasa di mana anak adalah miliknya pribadi. Untuk itu, jika semua upaya kebaikan telah kita lakukan, kembalikanlah semuanya dengan doa dan rasa tunduk pasrah agar Tuhan memberikan petunjuk kebaikan untuk menjadi orang tua yang sempurna. Jika ini dilakukan, maka tak ada konflik antara anak dan orang tua.

Orang tua yang suka mengatur segala tindak-tanduk anak, mengatur cita-cita dan mimpi anak, dan mengatur segala kemungkinan masa depan anak adalah jenis orang tua yang berkuasa atas diri sang anak.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo