Dark
Light
Dark
Light

Buku Pertama di Negeri Tak Membaca: Muhamad Radjab dan Lahirnya Akal Merdeka

Buku Pertama di Negeri Tak Membaca: Muhamad Radjab dan Lahirnya Akal Merdeka

Ketika Muhamad Radjab menulis Semasa Kecil di Kampung tahun 1950, Indonesia baru saja lahir dari revolusi. Suara meriam telah berhenti, tetapi ingatan tentang penjajahan masih menyelusup di setiap jalan kampung dan di setiap ruang kelas sekolah rakyat. Dalam suasana seperti itu, Radjab menulis bukan sekadar tentang masa kecilnya di Minangkabau, tetapi perihal cara sebuah bangsa belajar membaca dirinya sendiri. Ia menulis tentang pendidikan, agama, dan keluarga, tetapi yang sebenarnya ia tulis adalah proses menjadi manusia modern di tanah yang baru mengenal lema “merdeka”.

Kisahnya dimulai di Sumpur, sebuah kampung di Padang Panjang. Anak laki-laki bernama Ridjal tumbuh di tengah rumah yang gegap gempita oleh saudara, bibi, dan ayah yang jarang hadir. Ibunya sudah tiada sejak ia kecil. Dalam surau yang dingin dan lantai bambu yang berderit, ia belajar membaca huruf Arab dan mendengarkan suara orang tua melafalkan ayat-ayat suci. Di ruang kecil itulah dunia modern secara perlahan mengetuk pintu batinnya. Ia belajar bahwa membaca bukan sekadar menghafal huruf, melainkan juga menafsirkan kehidupan.

Dunia Kampung dan Alam Minangkabau

Radjab menulis Minangkabau dengan cinta dan jarak yang sama besar. Ia mencintai sawah nan berkabut, suara azan dari surau, dan aroma nasi kukus di dapur kayu. Namun ia juga melihat kebekuan dalam adat dan ketegangan antara agama dan tradisi. Anak-anak tumbuh di tengah dua sistem nilai: adat matrilineal yang menekankan garis ibu dan Islam yang menegaskan peran ayah. Keduanya membentuk ruang batin yang sering saling bertembung.

Suara perempuan mendominasi di rumah. Para mamak dan bibi mengatur ekonomi keluarga dan warisan, sementara lelaki muda seperti ayahnya sering pergi merantau. Dalam masyarakat seperti itu, anak-anak tumbuh tanpa figur paternal yang kuat. Surau menggantikan rumah sebagai tempat belajar moral, dan guru agama menjadi ayah simbolik bagi para santri kecil. Akan tetapi surau juga menyimpan kekerasan yang halus: hafalan, disiplin keras, dan hierarki yang tidak memberi ruang bagi rasa ingin tahu. Dalam suasana itulah Ridjal kecil mulai mempertanyakan banyak hal.

Sekolah dan Perjumpaan dengan Dunia Baru

Saat pertama kali masuk sekolah Belanda, Ridjal merasakan ketakjuban. Ia melihat papan tulis, kapur putih, dan peta dunia yang menggantung di dinding. Dunia tiba-tiba terasa luas. Kata-kata baru muncul: Nederland, Europa, Batavia. Guru-guru Belanda berwicara dengan nada yang bayan dan berwibawa. Mereka mengajarkan disiplin, logika, dan rasa waktu yang tepat. Dari sekolah itulah anak-anak kampung belajar tentang modernitas, meski tanpa menyadarinya.

Sekolah bukan hanya tempat belajar menulis, tetapi juga tempat menguji batas identitas. Bahasa Belanda menjadi simbol status, dan kemampuan menulis Latin menjadi tanda kemajuan. Di dalam kelas, Ridjal mulai menyadari bahwa dunia dapat diukur dan diatur. Ia memahami arti ketepatan, efisiensi, dan sistem. Namun bersamaan dengan itu, ia juga menyadari jarak yang tumbuh antara dirinya dan dunia kampung. Setiap kali ia pulang ke rumah, bahasa dan cara berpikirnya sudah berbeda. Sekolah, dengan segala disiplin dan rasionalitasnya, telah menjadi ruang yang memisahkan anak dari tradisi.

Menurut Susan Rodgers dalam Telling Lives, Telling History: Autobiography and Historical Imagination in Modern Indonesia (University of California Press, 1995), pengalaman Radjab mencerminkan generasi perdana kaum terdidik Indonesia yang hidup di antara dua zaman. Mereka belajar membaca buku Belanda tetapi tetap tidur di rumah berdinding bambu. Mereka mengenakan sarung ke surau dan seragam Eropa ke sekolah. Dalam diri mereka, kolonialisme melahirkan paradoks: keterbukaan pada pengetahuan anyar sekaligus kesadaran akan ketertinggalan. Dari sanalah lahir benih nasionalisme yang lebih personal tinimbang politis. Ia tumbuh dari pengalaman membaca dan merasa asing di tanah sendiri.

Antara Surau dan Sekolah

Bagi anak kampung seperti Ridjal, surau dan sekolah adalah dua dunia yang bertarung dalam batin. Di surau, guru agama mengajarkan takdir dan ketaatan. Di sekolah, guru Belanda mengajarkan logika dan pengamatan. Keduanya sama keras, sama meyakinkan, dan sama absolut. Ketika satu guru mengatakan bumi diciptakan dalam enam hari, guru lain menunjukkan bahwa bumi mengelilingi matahari. Anak kecil itu tidak tahu harus percaya pada siapa. Ia hanya tahu bahwa kebenaran kiwari memiliki lebih dari satu bentuk.

Dalam salah satu bab yang paling jujur, Radjab menulis bagaimana ia mulai meragukan cerita-cerita di kitab suci. Ia tidak bermaksud menghina agama, tetapi ingin mencari penjelasan yang masuk akal. Ia ingin tahu mengapa malaikat tidak pernah muncul di kampungnya, atau mengapa doa tidak selalu membuat sawah panen. Pelbagai pertanyaan itu membuatnya berwalang hati, tetapi juga hidup. Ia merasakan bahwa iman sejati bukanlah ketundukan buta, melainkan perjalanan panjang untuk memahami.

Pertentangan antara surau dan sekolah bukan sekadar pertarungan nilai, tetapi juga pertarungan waktu. Surau berputar dalam siklus malam dan doa, sementara sekolah berjalan dalam jam dan kalender. Surau mengajarkan kesabaran, sekolah menuntut ketepatan. Di sinilah Radjab mulai memahami bahwa modernitas adalah perubahan cara manusia mengatur waktu dan pikiran. Dari dunia yang berpusat pada Tuhan, ia berpindah ke dunia yang berpusat pada manusia. Perpindahan itu tidak pernah selesai, tetapi meninggalkan jejak yang dalam.

Membaca sebagai Tindakan Emansipasi

Tidak ada momen yang lebih menentukan dalam hidup Ridjal selain saat ia membaca buku pertama dalam bahasa Belanda. Ia tidak sepenuhnya mengerti isinya, tetapi ia merasa seolah pintu besar terbuka di depan mata. Buku itu memberinya dunia anyar, dunia yang bisa diakses tanpa izin guru atau orang tua. Dalam dunia buku, ia bebas bertanya dan menafsirkan. Di sanalah ia belajar arti kebebasan yang paling awal.

Bagi Radjab, membaca adalah tindakan emansipasi. Ia menulis bahwa membaca membuatnya memahami penderitaan dan ketimpangan, tetapi juga memberi harapan. Ia membaca surat kabar, novel Balai Pustaka, dan kisah perjuangan bangsa lain. Dari halaman-halaman itu ia belajar bahwa perubahan dimulai dari pikiran. Dalam setiap buku, ia menemukan kemungkinan untuk menjadi manusia yang sadar. Ia tahu bahwa literasi bukan sekadar keterampilan, tetapi bentuk perlawanan terhadap kebodohan yang diwariskan.

Dalam konteks ini, buku Semasa Kecil di Kampung (Balai Pustaka, 1950) adalah refleksi atas kekuatan membaca sebagai alat pembebasan. Buku ini ditulis dengan kesemenjanaan yang menipu. Di balik kisah masa kecil yang tampak biasa, tersembunyi gagasan besar tentang bagaimana bangsa bisa tumbuh melalui pendidikan. Dalam bahasa nan lembut, Radjab mengajak pembaca melihat bahwa revolusi tidak selalu lahir dari senjata, tetapi dari huruf-huruf yang diucapkan anak kecil di sekolah.

Dunia Ayah dan Dunia Ibu

Di balik kisah pendidikan dan agama, Semasa Kecil di Kampung juga menyimpan drama keluarga yang dalam. Ayah Radjab, seorang perantau yang jarang pulang, melambangkan dunia maskulin yang keras dan jauh. Ibu, yang meninggal saat ia masih bayi, menjadi simbol dunia yang hilang. Sepanjang hidupnya, Ridjal seakan mencari kembali figur keibuan yang lenyap. Ia menemukannya dalam sosok para guru perempuan dan dalam kelembutan buku-buku yang ia baca.

Ketiadaan figur ayah membuatnya lebih sensitif terhadap keadilan dan kasih. Ia belajar bahwa kekuasaan tanpa empati hanya melahirkan ketakutan. Dalam banyak bagian, Radjab menulis dengan nada lirih ihwal anak-anak yang dipukul guru atau dihina karena rudin. Ia melihat kekerasan sebagai bagian dari sistem sosial yang dianggap wajar. Akan tetapi alih-alih kasam, ia menulis dengan keinginan untuk memahami. Ia menulis bukan untuk mengutuk, tetapi untuk mengingat.

Rodgers (1995) menafsirkan hal ihwal ini sebagai bentuk “revolusi moral” yang dilakukan lewat tulisan. Dengan mengenang masa kecil, Radjab sedang menulis ulang sejarah bangsanya. Ia menunjukkan bahwa modernitas bukanlah penghapusan masa lampau, tetapi dialog yang panjang dengan ingatan. Ia memaafkan tetapi tidak melupakan, dan di situlah letak kematangan intelektualnya.

Dari Kampung ke Kota

Seiring waktu, Ridjal meninggalkan kampungnya. Ia masuk sekolah guru di Padang, lalu merantau ke Jawa. Setiap langkah menjauhkannya dari dunia asal, tetapi juga memperluas pandangannya. Ia melihat bagaimana orang hidup di kota tanpa ikatan adat, bagaimana perempuan bekerja, dan bagaimana bahasa menjadi jembatan antarbangsa. Ia mulai memahami bahwa identitas bukanlah takdir, melainkan pilihan.

Namun di balik kebebasan itu, ia juga merasakan kehilangan. Setiap kali pulang, kampung terasa semakin asing. Orang-orang masih bicara tentang adat dan harta pusaka, sementara pikirannya sudah penuh dengan gagasan tentang kemajuan. Ia mencintai kampungnya, tetapi tidak bisa lagi tinggal di sana. Ia menulis dengan nada nostalgia yang getir, seolah ingin memeluk masa silam tanpa harus kembali padanya. Inilah paradoks orang terdidik kolonial: cinta yang tidak bisa pulang.

Pengalaman ini adalah inti dari “modernitas Sumatra.” Di wilayah yang terbuka pada Islam dan perdagangan sejak abad ke-19, modernitas tidak datang dari pabrik atau mesin, tetapi dari perjalanan. Merantau menjadi bentuk pendidikan sosial. Dari perjalanan itu lahir kesadaran bahwa dunia lebih luas tinimbang batas nagari. Semasa Kecil di Kampung menempatkan pengalaman merantau sebagai simbol transformasi sanubari: dari keterikatan menuju kebebasan berpikir.

Bahasa dan Suara Seorang Anak

Keindahan Semasa Kecil di Kampung terletak pada cara Radjab menulis dengan suara anak-anak tetapi berpikir seperti seorang intelektual. Ia tidak menggunakan metafora rumit atau retorika politis. Ia menulis dengan bahasa sehari-hari yang jernih, seolah bercerita di beranda rumah. Setiap kalimat mengalir seperti percakapan, namun di dalamnya tersimpan ironi dan kebijaksanaan. Gaya itu membuat bukunya abadi.

Sebagai penulis, Radjab memahami kekuatan nada. Ia tahu kapan harus lembut, kapan harus tajam. Ia menggambarkan rasa lapar, kegembiraan, dan ketakutan dengan kejujuran yang jarang ditemukan pada tulisan zaman itu. Tidak ada kepahlawanan besar, hanya kehidupan kecil yang disorot dengan mata penuh kasih. Di situlah kekuatan jurnalisme sastrawinya: kepekaan terhadap detail yang membuat pengalaman pribadi menjadi sejarah universal.

Rodgers (1995) menyebut gaya Radjab sebagai bentuk “literasi moral.” Ia tidak menulis untuk menghibur, tetapi untuk mendidik tanpa menggurui. Ia menunjukkan bahwa tulisan bisa menjadi ruang refleksi sosial. Dalam tangan Radjab, bahasa Indonesia yang masih muda berubah menjadi alat introspeksi kolektif. Ia membuat pembaca melihat bahwa kemerdekaan sejati lahir dari kemampuan memahami diri sendiri.

Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan

Tatkala kita membaca Semasa Kecil di Kampung hari ini, kita tidak hanya membaca kisah masa kecil seorang penulis, tetapi juga membaca masa kecil sebuah bangsa. Buku itu melukiskan bagaimana masyarakat Indonesia belajar mengenali diri di tengah benturan nilai antara adat, agama, dan kolonialisme. Ia menunjukkan bahwa perjalanan menuju modernitas tidak pernah linear, melainkan penuh keraguan dan kompromi.

Bagi Radjab, pendidikan bukanlah proyek negara, melainkan pengalaman personal yang menyakitkan sekaligus membebaskan. Ia tahu bahwa sekolah bisa menciptakan jarak antara manusia dan akar budayanya, tetapi ia juga percaya bahwa hanya dengan belajar manusia dapat memahami dunia. Dalam setiap halaman bukunya, ada nada optimisme nan halus: bahwa ilmu, jika digunakan dengan hati, bisa menjadi jalan menuju kebijaksanaan.

Rodgers (1995) menulis bahwa autobiografi seperti milik Radjab adalah bentuk imajinasi sejarah. Ia bukan hanya catatan hidup, tetapi cara membayangkan Indonesia sebagai komunitas moral. Dengan menulis masa kecilnya, Radjab sedang menulis cermin bagi bangsanya. Ia memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi bisa menjadi model untuk memahami sejarah nasional.

Warisan Sebuah Bacaan

Tujuh puluh lima tahun setelah diterbitkan, Semasa Kecil di Kampung tetap terasa segar. Ia tidak sekadar nostalgia tentang masa silam, tetapi meditasi perihal arti menjadi manusia Indonesia. Melalui kisah kecil tentang anak kampung yang belajar membaca, kita melihat gambaran besar tentang bangsa yang sedang mencari jati diri. Radjab mengajarkan bahwa modernitas bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi berdialog dengannya. Ia menunjukkan bahwa membaca, dalam arti yang paling dalam, adalah belajar menjadi diri sendiri.

Dalam setiap kalimatnya, ada kesadaran bahwa pendidikan sejati lahir dari rasa ingin tahu dan keberanian untuk bertanya. Dalam setiap halaman, ada ajakan untuk melihat kampung bukan sebagai masa lalu yang mati, tetapi sebagai sumber kebijaksanaan yang hidup. Dalam setiap kisah kecil, ada sejarah besar tentang bangsa yang belajar berjalan dengan pikirannya sendiri.

Bagi pembaca masa kiwari, karya Radjab adalah pengingat bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Ia menulis bahwa anak yang belajar di surau dan sekolah sebenarnya sedang belajar menjadi manusia. Dari kampung kecil di Minangkabau, lahir gagasan besar tentang Indonesia: sebuah bangsa yang dibangun oleh anak-anak yang megak bermimpi.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo