Senin lalu, tepatnya 21 April 2025, dunia dikejutkan dentang lonceng bertalu-talu di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Ini bukan lazimnya dentang lonceng harian, tapi dentangan panjang yang mengirimkan pesan bahwa Paus Fransiskus telah mangkat. Jorge Mario Bergoglio, nama kecil Paus, menghembuskan napas terakhir di usia 88 tahun. Segera saja dunia berduka atas kepulangan pemimpin tertinggi umat Katolik yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kebaikan.
Hampir sepanjang hidup, Sri Paus Fransiskus memberikan cerminan untuk terus berkomitmen dan melekat dengan realitas yang dihadapi umat. Soal tempat tinggal, misalnya, ia lebih memilih Domus Sanctae Marthae yang lebih sederhana dari pada di Istana Apostolik Vatikan. Kendaraan dinas dan busana yang dipergunakan sehari-hari pun juga mencerminkan hal serupa, penuh kesederhanaan dan melepas segala atribut kemewahan yang ada. Sepintas lalu, pilihan ini mungkin terlihat sepele, namun di balik itu ia menjaga kehormatan tertinggi dalam hidup manusia.
Laku sahaja yang sering kali terlihat dalam diri Paus Fransiskus juga menandakan sebagai pernyataan yang kuat. Ia menyuguhkan di tengah kita tentang cara memimpin yang tidak bersandar hanya pada batas kemegahan. Kepemimpinan baginya harus lebih menitikberatkan pada kedekatan dan kepekaan terhadap penderitaan. Gaya hidupnya menyiratkan pesan moral yang konsisten bahwa spiritualitas dan tanggung jawab sosial tidak dapat dipisahkan, dan kepemimpinan sejati justru hadir melalui keberanian bersikap dan rendah hati.
Kesederhanaan sebagai laku hidup
Lanskap kehidupan modernitas yang kompleks sering memandang bahwa kesederhanaan adalah pilihan yang privat, yang tidak perlu dipublikasi. Pandangan seperti ini sayangnya tidak berlaku bagi Paus Fransiskus. Baginya, setiap keputusan yang diambil mengandung dimensi yang sangat luas. Ia menyadari betul bahwa sebagai pemimpin setiap lakunya selalu diamati, ditafsirkan bahkan diteladani oleh jutaan orang di dunia ini.
Jalan hidup kesederhanaan yang menjadi habitus Paus tidak sekadar cermin sikap hidup tetapi juga sebagai bentuk interaksi sosial yang terstruktur. Ia meyakini bahwa pilihan hidup bersahaja seperti itu merupakan salah satu cara untuk menyampaikan nilai-nilai yang diimaninya selama ini. Kita semua melihat bahwa penghindarannya atas bentuk kemewahan bukanlah dikarenakan keterbatasan, lebih dari itu adalah bentuk kristalisasi keyakinan moral atas pentingnya mendekat kepada mereka yang hidup dalam bayang keterbatasan.
Di tengah budaya kontemporer yang sering kali mengaitkan kepemimpinan dengan simbol-simbol kemegahan, ia justru ingin mencontohkan bahwa kedekatan dan kesederhanaan menjadi kunci untuk membentuk relasi antara pemimpin dan umat yang kuat. Menjadi pemimpin artinya adalah menjadi sahabat bagi mereka yang terpinggirkan, tunawisma sampai pada kelompok pengungsi yang selama ini sering dianggap sebelah mata. Pendekatan yang diambil Paus tersebut sekaligus juga menawarkan perspektif baru tentang spiritualitas, bahwa kedalaman iman tidak melulu tercermin dari megahnya ritus keagamaan. Keberanian untuk menjangkau mereka yang selama ini terpinggirkan menjadi sangat penting artinya.
Perlawanan atas praktik kapitalisme
Keteguhannya dalam laku kesederhanaan juga bisa kita baca melalui kritiknya terhadap sistem global yang selama ini menopang budaya konsumerisme. Puncak kritiknya ini dapat kita baca melalui ensiklik Laudato Si’ yang menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah ajaran sosial Gereja Katolik. Dalam naskah ini, Paus mengurai tentang kaitan erat antara krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan cara pandang ekonomi yang hanya berorientasi pada pertumbuhan semata. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kehadiran ensiklik Laudato Si’ tidak sebatas dipahami sebagai dokumen keagamaan tetapi juga bentuk kontribusi penting pada diskursus global mengenai keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis.
Paus dalam ensiklik menyayangkan tentang pandangan kapitalisme terhadap alam yang hanya dilihat sebagai objek akumulasi kapital. Kekayaan sumber daya yang ada di tanah, air, dan udara dikomodifikasi sedemikian rupa sehingga kehilangan nilai sakralitasnya dan berganti menjadi sesuatu yang sangat profan. Paus menyebut ini dengan sebutan “tirani tak terlihat” (una tirannia invisibile) yang memengaruhi kehidupan manusia secara mendalam.
Bagi Paus, ruang kerusakan ekologis dan penderitaan manusia tak bisa dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan erat atas manifestasi dari sistem kapitalisme global yang menempatkan keuntungan di atas martabat manusia dan efisiensi di atas keberlanjutan. Ia mengajak dunia untuk melihat keterhubungan antara kerusakan alam dengan kemiskinan, antara degradasi lingkungan dengan ketidakadilan struktural. Cara pandangnya, kesederhanaan tidak hanya menjadi praktik spiritual, tetapi juga bentuk pernyataan politik yang menolak logika kapitalisme yang sangat eksploitatif.
Warisan Paus Fransiskus
Kehadiran Paus Fransiskus pada gilirannya juga menawarkan horizon nilai bagi dunia yang dilanda krisis kemanusiaan, lingkungan, dan spiritualitas. Dalam kediriannya, keimanan diwujudkan bukan hanya sebatas ritual tetapi juga kekuatan yang menggerakkan kepedulian, menyentuh luka sosial dan menjembatani jarak antara institusi dengan umat manusia. Dalam skala yang lebih luas, kita bisa membaca bahwa posisinya sebagai pemimpin tertinggi keagamaan juga memberikan pembelaan bagi mereka yang selama ini tertindas oleh sistem yang ada dan juga menjadi corong bagi yang tidak pernah terdengar suaranya. Hal yang perlu kita pelajari bersama bahwa ia berhasil merevitalisasi peran institusi keagamaan menjadi berpihak kepada yang selama ini terpinggirkan, sekaligus juga menantang struktur kekuasaan yang selama ini mapan.
Dalam kehidupan modern yang sering terjebak dalam pencitraan dan performativitas, ketulusan Paus Fransiskus nyatanya mampu menjadi cermin bahwa kekuatan moral salah satunya bersumber dari konsistensi. Akhirnya, berpulangnya Paus Fransiskus tidak hanya dapat kita maknai sebagai akhir masa kepemimpinan semata, seturut dengan itu juga mengukuhkan warisan spiritual yang mengakar pada kesederhanaan, kerendahan hati dan keberpihakan pada mereka yang selama ini selalu terabaikan. Dalam wajah spiritualitas yang paling jujur, kita dapat mengambil hikmah dari keteladanannya bahwa tidak ada kemewahan selain kasih sayang, dan tidak ada kuasa selain keberpihakan.
Muhammad Nurun Najib
Dosen Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan Peneliti The Reform Initiatives
Editor: Muhammad Zunus


