Vatikan itu alamat duka bagi dunia. Tokoh besar dan berpengaruh pamitan. Dunia berduka tapi sadar warisan-warisan bakal dilestarikan bersumber keteladanan Paus Fransiskus. Sosok bersahaja milik dunia, tak sekadar milik umat Katolik.
Kepergian Paus Fransiskus memang menimbulkan air mata. Kita berhak menangis tapi berdoa itu menguatkan agar dunia menjadi damai dan rukun seperti pengharapan Paus Fransiskus. Pesan-pesan lekas bermunculan mendapat tafsiran mutakhir agar Paus Fransiskus masih bersama kita. Ia sudah pergi tapi terus bersama kita dalam mendadani dunia.
Kita tentu tak cuma mengenang Paus Fransiskus. Di Vatikan, kita mengenali tokoh-tokoh terdahulu rajin memberi seruan agar umat manusia bahagia. Tokoh-tokoh terlibat dalam agenda-agenda perbaikan dunia. Ajakan berdoa dan bertindak biasa bermula di Vatikan. Ajakan terdengar oleh jutaan atau miliaran orang di dunia.
Di pelbagai tempat, orang-orang mendoakan Paus Fransiskus. Orang-orang pun belajar lagi tentang doa. Kita mungkin penasaran dengan tata cara tokoh-tokoh penting di Vatikan. Kita membuka buku Paus Yohanes Paulus II berjudul Melintasi Ambang Pintu Harapan (1995). Kita merenungi manusia dan doa. Paus Yohanes Paulus II menerangkan: “Paus, seperti halnya setiap orang Kristiani, haruslah sungguh-sungguh sadar akan bahaya-bahaya yang mengancam manusia di dunia, mengancam masa depannya di dunia dan masa depannya yang terakhir, abadi dan eskatologis. Adanya kesadaran terhadap bahaya-bahaya itu tidak menimbulkan pesimisme. Sebaliknya, mendorong untuk berjuang agar yang baik menang dalam segala hal.”
Di Vatikan, kita sadar atas doa-doa. Paus Fransiskus pun mengajak kita berdoa untuk masalah Gaza. Abad XXI masih abad penuh penderitaan meski Paus Yohanes Paulus II sudah mengingatkan tragedi-tragedi abad XX. Berdoa tak boleh berhenti. Bertindak bersama memberi kebaikan dan pertanggungjawaban. Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan: “Doa Paus mencakup komunitas-komunitas, Gereja-Gereja, masyarakat, masalah-masalah yang mengacaukan dunia sekarang. Dalam arti inilah seorang Paus terpanggil untuk melakukan suatu doa universal.”
Kini, kita mengingat lagi doa-doa Paus Fransiskus: “Tuhan kaum miskin, bantulah kami menyelamatkan mereka yang terabaikan dan terlupakan di bumi ini, yang begitu berharga di mata-Mu. Berikanlah kesembuhan pada hidup kami agar kami dapat melindungi dunia dan tidak memangsanya, agar kami dapat menebar keindahan, bukan polusi atau kehancuran.”
Paus Fransiskus tak jemu berseru damai di dunia. Berdoa menjadi keutamaan agar perdamaian tercipta dan awet. Kita merenung berpijak doa Paus Fransiskus: “Berapa banyak momen permusuhan dan kegelapan yang telah kita alami. Berapa banyak darah yang telah tertumpah. Berapa banyak kehidupan yang telah hancur. Berapa banyak harapan telah terkubur. Namun, usaha kita sia-sia. Sekarang, Tuhan, datanglah untuk menolong kami. Berilah kami kedamaian. Ajari kami kedamaian. Tuntunlah kami di jalan perdamaian. Bukalah mata dan hati kami, dan keberanian untuk berkata ‘jangan ada perang lagi’.” Paus Fransiskus menginginkan perdamaian. Gaza jangan membuat dunia berduka panjang dan berlipat ganda. Pada masa sekarang, kita berhak mengenang Paus Fransiskus bertema Gaza.
Hari-hari berduka, kita melihat Vatikan. Di sana ada tokoh-tokoh keteladanan meski telah berpamitan. Kenangan kita bisa merujuk buku-buku. Pembaca bakal menemukan babak-babak kehidupan para tokoh dalam menunaikan misi-misi besar. Mereka hadir untuk dunia. Di Vatikan, doa-doa disampaikan dan pesan-pesan penting beredar demi kebaikan umat manusia di dunia.
Kita membuka buku berjudul Jorge Mario Bergoglio Frasiskus – Paus Dari Dunia Baru (2014) susunan Andrea Tornielli. Pembaca mendapat keterangan nama dan miskin. Peristiwa tercatat di buku: “… segera Kardinal Hummes memeluk, mencium, dan berkata kepada saya jangan melupakan orang-orang miskin.” Peristiwa itu mengesahkan pilihan nama. Kita lanjutkan pengisahan Paus Fransiskus: “Kata itu terus-menerus bergaung: orang miskin, orang miskin. Kemudian, segera, dalam kaitannya dengan orang-orang miskin itu, pikiran saya tertuju pada Fransiskus dari Assisi… Demikianlah, nama itu muncul dalam hati saya: Fransiskus dari Assisi. Bagi saya, Fransiskus adalah seorang yang dekat dengan kemiskinan, seorang yang cinta perdamaian, seorang yang mencintai dan merawat ciptaan. Saat ini pun hubungan kita dengan ciptaan tak terlalu baik, bukan? Fransiskus adalah orang yang memberi kita semangat perdamaian dan orang miskin. Betapa saya berharap Gereja yang miskin untuk orang-orang yang miskin.”
Di buku, kita mengenali tokoh-tokoh semasa hidup. Mereka memang menua dan meninggalkan dunia. Kita mengerti buku-buku menjadi perawatan ingatan agar biografi para tokoh masih bisa menjadi sumber dalam membentuk dunia damai dan indah. Biografi itu mengingatkan kemiskinan dan perdamaian. Kita pun selalu mengerti ketekunan Paus Fransiskus memberi pesan-pesan mengenai gejolak-gejolak di dunia. Keberpihakan dan keterlibatan minta diwujudkan.
Di Vatikan, kita menemukan dan mengenali beragam tokoh meski kesedihan kita gara-gara Paus Fransiskus (17 Desember 1936-21 April 2025). Kenangan masih hangat mengingat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Kehadiran memberi dampak besar. Tokoh mencipta kenangan terindah sebelum kepergian. Indonesia merasa dekat dan masuk dalam biografi Paus Fransiskus.
Andrea Tornielli mengingatkan: “Dengan kesederhanaan dan ketenangannya, suatu sikap yang tak dirancang dan dipelajari atau hanya strategi menampilkan diri, Paus Fransiskus telah menawarkan pada hari-hari pertama masa kepausannya: tanda perubahan yang signifikan… Tindakan-tindakannya telah memungkinkan terjadinya pembaruan diri dalam pola pelayanan Vatikan.” Sejak lama, dunia mengenali Paus Fransiskus dengan kesederhanaan, tak lupa sosok berselera humor. Ia pernah mengejutkan dunia saat pertemuan bareng para pelawak atau “kaum humor” dari pelbagai negara. Ia memang mengajak kita berdoa dan bertindak tanpa ragu untuk bahagia dengan tawa.
Pada hari-hari sedih dan berdoa, kita melihat Vatikan. Kita tak pernah ke sana tapi merasa dekat. Perasaan dekat bisa dirasakan saat membaca buku-buku bertema Vatikan. Di edisi terjemahan bahasa Indonesia, kita bisa membaca buku susunan John Thavis berjudul Buku-Buku Harian Vatikan (2014).
Kita menuju ke sana berdasarkan deskripsi dan pengisahan. John Thavis menerangkan: “Bukit Vatikan yang berada di sisi barat kota Roma telah menjadi tempat kejadian dari drama gerejawi sejak masa awal Gereja Katolik Roma.” Kisah dari abad-abad silam terbaca: “Paus biasanya dimakamkan di makam bawah tanah basilika. Beberapa hari kemudian, sebuah tirai disibakkan dan seorang paus baru muncul di balkon bagian depan gereja, dengan sorak sorai dari kerumunan penganut setia yang bergembira di Lapangan Santo Petrus. Transisi ini telah lengkap. Kesedihan telah berganti kegembiraan, dan bunyi genta kematian dari lonceng-lonceng basilika telah digantikan bunyi nyaring dentang kebahagiaan.” Masa lalu itu teringat. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


