Dark
Light
Dark
Light

Ketika Kelahiran Tak Lagi Disambut Kegembiraan

Ketika Kelahiran Tak Lagi Disambut Kegembiraan

Kematian dan kelahiran begitu dekat. Sehari-hari, Nour Mwanis, bidan berusia 27 tahun yang bekerja di Rumah Sakit Al-Awda, Gaza, melihat dua proses kehidupan manusia bak kilatan gambar. Datang silih bergantian dalam hitungan waktu yang cepat.

Sejak invasi Israel ke Gaza, Oktober tahun lalu, hidup Mwanis tak lagi manis. “Saya tidak pernah menyangka akan melihat hari-hari seperti itu dalam hidup saya,” katanya kepada Al Jazeera.

Pemandangan kala itu sangat mencekam. Gelombang besar orang  yang berusaha menjauh dari bom Israel, datang ke kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah. “Selama tiga bulan pertama perang, kami menangani sekitar 60 hingga 70 kelahiran sehari, bekerja sepanjang waktu hanya dengan enam orang bidan,” kenangnya.

Selama itu pula, dia tidak pernah pulang. Dia terpaksa tinggal di rumah sakit untuk menghindari serangan Israel yang bisa datang kapan saja. Keadaan di luar sana, sungguh menakutkan. Suara ledakan bom dan bunyi reruntuhan gedung adalah simfoni kematian.

Saat itu ruang bersalin tak bisa menampung lagi pasien yang datang. “Kami harus membantu beberapa persalinan di lantai atau di ruang persiapan pranatal yang tidak dilengkapi dengan peralatan untuk melahirkan," jelasnya.

Keadaan semakin buruk setelah Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah harus menutup bangsal bersalinnya. Al Aqsa fokus merawat yang terluka. Walhasil, ruang bersalin tempatnya bekerja harus menampung para wanita yang melahirkan.

“Situasi yang teramat kacau. Bom meledak di mana-mana, wanita yang akan melahirkan datang dalam kondisi yang menyedihkan," kata Mwanis sambil menahan emosi. “Banyak dari mereka yang komplikasi, seperti pendarahan atau lahir mati, dan mereka membutuhkan perawatan khusus.”

*** 

MWANIS bermimpi menjadi bidan. Cita-citanya adalah membantu para wanita melahirkan dengan aman dan membawa kebahagiaan bagi keluarga baru dengan senyuman di sekeliling mereka.

Selama tiga tahun, ia berhasil mewujudkannya. Hingga akhirnya setelah Israel menyerang Gaza, mimpi itu hancur. “Melahirkan bukan lagi penyambutan kehidupan baru yang menggembirakan," ujarnya.

Bangsal persalinan menjadi pertunjukan kesedihan. Wanita yang bersalin datang dengan kedukaan yang dalam. Mereka dibawa ke rumah sakit sendirian, tak ada keluarga. Suami mereka yang seharusnya berada di sisinya telah meregang nyawa.  

“Mereka menangis di ranjang bersalin. Mereka bercerita tentang kehilangan anak, suami, atau keluarga mereka. Hal ini sangat mempengaruhi proses melahirkan," jelasnya.

Tak ada yang bisa mereka lakukan. Kecuali menolong persalinan dengan terus memberikan semangat. Mereka memeluk atau berbicara menghibur dan meyakinkan para wanita malang itu.  

Namun di lain waktu, mereka pun tak punya lagi kata-kata untuk menghibur. Kala seorang wanita datang untuk menjalani persalinan di saat suaminya terbunuh. Dalam keadaan syok. Selama proses itu, dia menangis tersedu-sedu. Tubuh wanita itu gemetar tak terkendali karena tidak mampu mengendalikan emosinya.

Bayi laki-laki itu lahir dengan selamat. Dia pun diberi nama yang sama seperti ayahnya. Perempuan itu kembali ke kamp pengungsian dengan sejuta pertanyaan dan kecemasan  tentang kebutuhannya, juga sang bayi, kelak.

Kamp pengungsian bukanlah tempat yang baik. Di sana, bukan saja air yang kering. Kebutuhan dasar, seperti pembalut setelah melahirkan sangat sulit ditemukan. Kalaulah ada, harganya amat mahal. “Mereka juga tidak dapat menemukan privasi saat menyusui. Tenda-tenda sangat penuh sesak," katanya.

Ancaman lainnya adalah penyakit menular, seperti hepatitis A. Menurut Kementerian Kesehatan, selama penyerang Israel, kasus penularannya teramat cepat yakni mencapai 45.000 kasus. Padahal sebelum bencana itu hanya ada 85 kasus. “Kami menerima beberapa wanita yang sedang bersalin yang terinfeksi hepatitis," katanya.

Wanita-wanita hamil itu sungguh miris. Mereka umumnya mengalami radang parah yang menghambat proses persalinan yang aman. “Tidak ada makanan dan air bersih, juga perlengkapankebersihan,” jelas Mwanis Nour. “Semua faktor ini meningkatkan risiko radang.”

Akibatnya, mereka yang akan  melahirkan datang dengan kondisi tubuh yang tidak sehat. Berhari-hari tidak mandi membuatnya rambutnya penuh kutu. Staf rumah sakit menggiring mereka ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu.  

Namun, setelah melahirkan, mereka harus kembali ke tenda darurat.

***

Seperti penduduk Gaza lainnya, bunyi ledakan selalu menerbitkan kecemasan. Akhir tahun lalu, saat membantu persalinan, Mwanis mendengar kabar saudara laki-lakinya telah dibawa ke Al-Awda, rumah sakit tempatnya bekerja. Dia terluka ketika rumahnya kena bom. “Saya menangis tak terkendali,” ujar Mwanis.

Seketika dia berlarian ke seluruh rumah sakit. Dia meneriakkan nama sang kakak. Sampai akhirnya dia menemukan sang kakak yang mengalami luka parah di sekujur tubuhnya. Mwanis tak henti-henti berucap syukur. Saudara laki-lakinya masih hidup dan akhirnya sembuh. Nasib yang jauh lebih baik dari wanita-wanita yang ditemuinya kemudian.

Aya al-Kafarna yang berusia 28 tahun datang ke ruang bersalin. Serangan bom Israel merengut nyawa sang ayah. Meski selamat, Aya yang sedang hamil 31 minggu tak lagi merasakan gerakan bayi dalam perutnya.

Rupanya, bayinya meninggal dalam kandungan. Aya pun terkejut. Dia tidak bisa berhenti menangis hingga akhirnya berhasil menenangkan diri dan merenungkan keadaan yang dialaminya.

Tak ada jalan lain kecuali dikeluarkan. Memacu persalinan adalah satu-satunya cara untuk membantunya. Namun itu tidak mudah. Serta fisik, tubuhnya secara alami belum siap untuk melahirkan. “Mungkin itu yang terbaik adalah anak ini tidak harus dilahirkan dalam kesengsaraan seperti itu. Tuhan telah menyelamatkannya dari penderitaan ini," kata Aya.

Di lain waktu, Mwanis menghadapi keadaan lebih menyedihkan. Dia ikut dalam proses persalinan dari ibu yang wafat akibat serangan bom. Di dalam perutnya, masih ada bayi yang harus diselamatkan.  

Kondisinya pun tidak biasa. Mereka yang harus ditarik dari reruntuhan bangunan. Mereka menghadapi proses persalinan yang rumit. "Situasi seperti ini tidak ada dalam pelatihan atau buku-buku yang kami pelajari," katanya.  

Mwanis pun hanya bisa bersedih ketika beberapa orang membawa seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan dalam kondisi luka dan pendarahan yang hebat. Dia dibawa ke ruang bersalin setelah diselamatkan saat menghindari pengeboman.

“Tim medis berusaha keras menyelamatkannya," katanya. “Namun ibu dan bayinya tidak selamat.”

***

SEMUA kisah yang dijalaninya menyisakan kepiluan dan rasa sedih yang mendalam. Namun semua itu mengingatkannya bahwa hidup terus berjalan. Perang sama sekali tidak menghentikan kehidupan.

Orang-orang menikah dan berharap memiliki anak. Manusia berusaha untuk terus hidup, sekali pun dalam keadaan yang tidak normal. “Saya pun bertunangan saat perang,” katanya.

Pertemuan dengan seorang relawan tim keamanan rumah sakit membuatnya jatuh cinta. Dia berharap invasi dan keganasan Israel ini segera berakhir sehingga mereka dapat menikah dan memulai babak baru dalam hidup mereka.

Harapannya, semua kisah gulana yang dialaminya tak lagi terjadi. Dia ingin menyambut kelahiran anaknya dengan penuh kegembiraan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo