“Di sini negeri kami. Tempat padi terhampar, samudranya kaya raya.”
Kalimat pembuka lagu Darah Juang telah bergema selama puluhan tahun dalam ruang-ruang yang berbeda dari tempat kelahirannya. Lirik tersebut dinyanyikan di jalanan yang dipenuhi mahasiswa, di halaman kampus ketika malam mulai turun, juga dalam berbagai peristiwa duka yang menandai perjalanan panjang dunia pergerakan Indonesia. Banyak orang menghafalnya tanpa pernah benar-benar mengetahui siapa yang pertama kali menuliskan kata-kata itu. Kepergian Johnson Marhasak Lumbantobing pada 25 Februari 2026 menghadirkan kesadaran yang nyaris terlambat bahwa lagu yang begitu lekat dengan sejarah Reformasi memiliki seorang pencipta yang hidup jauh dari sorotan publik.
Nama John Tobing tidak pernah menempati posisi selebritas politik ataupun figur budaya arus utama. Kehadirannya lebih sering beredar melalui cerita antar-generasi aktivis daripada melalui panggung nasional. Situasi tersebut justru memperlihatkan karakter unik dari Darah Juang sebagai karya budaya politik. Lagu itu tidak bertahan karena promosi, popularitas pribadi, atau kekuatan industri musik. Kehidupannya berlangsung melalui ingatan kolektif yang diwariskan secara informal dari satu kelompok mahasiswa kepada kelompok berikutnya.
Awal 1990-an menjadi konteks penting bagi kelahiran lagu tersebut. Indonesia berada dalam suasana stabilitas politik yang dipertahankan melalui pengawasan ketat terhadap kritik publik. Kampus menjadi salah satu ruang tersisa bagi percakapan mengenai ketimpangan sosial dan masa depan demokrasi. Aktivisme mahasiswa berkembang dalam batas yang sempit sehingga memerlukan bahasa yang mampu menyampaikan kegelisahan tanpa selalu berhadapan langsung dengan represi negara. Musik menyediakan jalur komunikasi yang relatif aman sekaligus efektif. Lagu dapat beredar tanpa harus tampil sebagai pernyataan ideologis terbuka.
Darah Juang muncul dari pengalaman semacam itu. John Tobing menciptakan melodi sederhana yang mudah dinyanyikan bersama, sementara liriknya berkembang melalui diskusi kolektif di antara sesama aktivis. Proses penciptaan tersebut menunjukkan bahwa karya yang kemudian dianggap monumental lahir dari percakapan sehari-hari dan bukan dari proyek besar yang dirancang untuk memasuki sejarah. Lagu itu beredar secara perlahan melalui jaringan mahasiswa Yogyakarta sebelum akhirnya menyebar ke berbagai kota lain.
Perjalanan Darah Juang memperlihatkan bagaimana simbol sosial sering menemukan momentumnya tanpa perencanaan awal. Ketika krisis ekonomi Asia mengguncang Indonesia pada akhir 1990-an dan gelombang demonstrasi mahasiswa meluas, lagu tersebut telah lebih dahulu hidup di kalangan aktivis. Ribuan mahasiswa menyanyikannya dalam aksi-aksi besar yang menuntut perubahan politik. Suara bersama menciptakan atmosfer solidaritas yang memperkuat keberanian kolektif. Lagu itu menjadi bagian dari pengalaman emosional Reformasi, meski perubahan rezim sendiri ditentukan oleh dinamika ekonomi, tekanan sosial, serta pergeseran kekuasaan di tingkat elite negara.
Fakta menarik muncul ketika diketahui bahwa John Tobing tidak menyadari peran besar lagunya pada masa demonstrasi 1998 berlangsung. Informasi mengenai penggunaan Darah Juang dalam aksi pendudukan gedung DPR baru sampai kepadanya bertahun-tahun kemudian. Situasi tersebut menunjukkan bahwa gerakan sosial sering bergerak tanpa pusat kendali tunggal. Simbol dapat berkembang secara mandiri ketika diterima oleh komunitas luas. Lagu tersebut akhirnya terlepas dari identitas penciptanya dan menjelma sebagai milik bersama.
Transformasi semacam itu jarang terjadi dalam sejarah musik Indonesia. Banyak lagu populer bergantung pada figur penyanyinya, sementara Darah Juang bertahan justru karena anonimitas relatif sang pencipta. Generasi mahasiswa mengenal lagu lebih dahulu daripada nama John Tobing. Ingatan kolektif terbentuk melalui praktik menyanyi bersama dan bukan melalui pengetahuan biografis. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dalam konteks tertentu, karya budaya memperoleh daya tahan ketika tidak sepenuhnya dikaitkan dengan individu tertentu.
Perjalanan hidup John Tobing setelah Reformasi memperlihatkan dinamika yang dialami banyak aktivis era transisi demokrasi. Keterlibatan dalam politik praktis mencerminkan perubahan medan perjuangan dari ruang gerakan menuju institusi formal. Reformasi membuka peluang partisipasi baru sekaligus menghadirkan realitas politik yang berbeda dari idealisme masa mahasiswa. Aktivisme jalanan berhadapan dengan mekanisme kekuasaan elektoral yang menuntut sumber daya besar serta kompromi politik. Pengalaman tersebut menggambarkan kompleksitas hubungan antara gerakan sosial dan negara setelah perubahan rezim.
Kehidupan pribadi yang dijalani pada tahun-tahun terakhir menunjukkan jarak antara simbol sejarah dan realitas manusia yang menciptakannya. Gangguan kesehatan yang perlahan membatasi penglihatan menjadi bagian dari keseharian yang jauh dari perhatian publik luas. Kondisi tersebut mengingatkan bahwa banyak tokoh pergerakan tidak selalu menikmati pengakuan material dari karya yang memberi pengaruh besar pada masyarakat. Pilihan untuk tidak menjadikan Darah Juang sebagai sumber keuntungan ekonomi memperkuat posisi lagu tersebut sebagai ekspresi moral kolektif.
Kebertahanan Darah Juang selama lebih dari tiga dekade menghadirkan pertanyaan mengenai perjalanan demokrasi Indonesia sendiri. Lagu yang lahir dalam suasana otoritarian tetap relevan dalam era kebebasan politik yang lebih terbuka. Mahasiswa generasi baru terus menyanyikannya ketika menghadapi persoalan yang dianggap mencerminkan ketidakadilan sosial atau penyalahgunaan kekuasaan. Pengulangan tersebut menunjukkan kesinambungan kegelisahan publik yang belum sepenuhnya terselesaikan oleh perubahan institusional.
Setiap masa menemukan makna baru dalam lagu yang sama. Reformasi memberi konteks awal sebagai simbol keberanian melawan otoritarianisme. Masa setelahnya menghadirkan interpretasi berbeda ketika demokrasi menghadapi tantangan baru berupa ketimpangan ekonomi, praktik korupsi, serta jarak antara kebijakan negara dan aspirasi masyarakat. Darah Juang tetap hidup karena menyediakan bahasa emosional yang mampu menjembatani pengalaman lintas generasi.
Hubungan antara seni dan politik sering kali terletak pada kemampuan karya budaya untuk menyimpan ingatan kolektif. Lagu dapat berfungsi sebagai arsip emosional yang melampaui dokumen resmi sejarah. Ketika ribuan orang menyanyikan lirik yang sama, terbentuk kesadaran bersama mengenai masa lalu sekaligus harapan terhadap masa depan. Pengalaman tersebut menciptakan kesinambungan yang tidak selalu terlihat dalam narasi politik formal.
Kepergian John Tobing membuka ruang refleksi mengenai posisi individu dalam perjalanan sejarah bangsa. Pengaruh besar tidak selalu datang dari figur yang menduduki jabatan tinggi atau tampil secara dominan dalam ruang publik. Seorang mahasiswa filsafat yang menulis lagu dari kegelisahan pribadi dapat meninggalkan warisan yang terus hidup dalam praktik sosial masyarakat. Darah Juang memperlihatkan bagaimana suara sederhana dapat menemukan kekuatannya ketika bertemu dengan momentum sejarah yang tepat.
“Tuhan, relakan darah juang kami.”
Lirik tersebut kemungkinan akan terus dinyanyikan oleh generasi mahasiswa yang tidak pernah menyaksikan langsung pergolakan Reformasi maupun mengenal sosok penciptanya. Setiap pengulangan menghadirkan kembali ingatan tentang keberanian kolektif yang pernah mengubah arah bangsa. Dalam gema suara bersama itulah karya John Tobing menemukan kehidupan yang melampaui waktu, sementara sejarah melanjutkan perjalanannya dengan membawa warisan yang tidak lagi dimiliki oleh satu orang saja.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Zunus


