Dark
Light
Dark
Light

Laga Bersejarah: Ketika Anak Menantang Bapak

Laga Bersejarah: Ketika Anak Menantang Bapak

Anak yang melawan bapak selain kurang ajar tentu saja durhaka. Tapi bila itu yang terjadi di lapangan sepak bola, justru menjadi cerita hebat. Si Bapak pun senang sekaligus bangga. Ashley Young mengaku terkejut saat melihat undian di turnamen Piala FA, Selasa dini hari. Di babak ketiga, klubnya Everton akan bertanding melawan Peterborough, pada 11 Januari mendatang.

Peterborough, hanya klub yang bermain di League One, atau divisi tiga dalam strata liga sepak bola Inggris. Tapi, bagi Ashley, klub ini sangat istimewa. Sebabnya, di sanalah anaknya Tyler, 18 tahun, tengah merintis karir mengikuti jejaknya. “Wow. Ini mimpi yang bisa jadi kenyataan,” tulis Ashley di akun X – dulu Twitter.

Laga ini, bila bapak dan anak itu benar-benar bertanding, akan menjadi sejarah baru. Sebelumnya tak pernah terjadi laga yang mempertemukan keduanya dalam pertandingan sebagai lawan. Kalau anak dan bapak berada dalam satu tim sih, pernah terjadi.

Misalnya, pada 1951, ketika itu bapak dan anak, masing-masing Alex dan David Herd berada dalam tim yang sama, yakni Stockport County. Mereka bermain bersama melawan Hartlepool. Di masa yang tidak terlalu jauh, ada bintang Chelsea, Eidur Gudjohnsen yang bermain dalam tim nasional Islandia. Dalam pertandingan pada 1996 itu, dia masuk menggantikan ayahnya, Arnor.

Nah, tentu berbeda dengan pertemuan dua Young ini. Mereka akan saling berhadap-hadapan, saling sikut, saling mengalahkan demi melangkah ke babak berikutnya.

Bertemunya dua generasi dalam keluarga Young ini tentu saja merupakan wajah sepak bola mutakhir. Permainan antara sebelas orang kini memiliki rentang usia yang unik. Kini, banyak pemain yang berjaya pada usia mereka masih muda.

Satu contoh fenomenal adalah Lamine Yamal, yang mulai bersinar pada usia 16 tahun.  Pemain Barcelona ini menjadi buah bibir saat mengantar tim nasional Spanyol menjadi juara Piala Eropa, pertengahan tahun silam. Ada lagi, Endrick Felipe Moreira de Sousa, yang bermain di Real Madrid. Pemain Brasil ini sudah menjadi buah bibir saat bermain di Palmeiras, Brasil ketika dia masih berusia 16 tahun.

Di pihak lain, sepak bola juga memberi kesempatan bagi mereka yang telah berumur lanjut untuk terus berkarir. Jika hingga pada dekade 2000-an, ukarir para pemain bola rata-rata usai setelah memasuki usia 30-an, kini mereka bertahan lebih lama.

Selain Ashley, masih banyak pemain lain yang tetap berada di orbit. Luka Modric, Cristiano Ronaldo, dan Sergio Ramos, di antaranya yang sudah masuk usia senja, mendekati kepala empat. Bahkan Lionel Messi – bintang Argentina mampu mengantar negerinya menjadi juara dunia tatkala usianya mencapai 35 tahun.

Yang lebih ekstrem adalah Kazuyoshi Miura. Pemain asal Jepang ini tetap bermain sepak bola sebagai pemain profesional di usianya yang mencapai 57 tahun. Kini, pria yang dijuluki dengan sebutan “King Kazu” masih aktif bermain di Atletico Suzuka, divisi empat Liga Jepang.

Apa yang membuat mereka bertahan lebih lama? Alan Gibson dari JSoccer Magazine yang mengikuti perjalanan karir Miura menyebut faktor kebiasaan baik yang menjadi faktor penguat. “Orang Jepang memiliki pola makan dan latihan yang baik,” katanya.

Untuk Miura, dia memberikan catatan tersendiri. Satu hal yang membuat Miura mampu bertahan, salah satunya karena keinginannya yang kuat untuk tetap eksis. Gibson menunjuk satu peristiwa yang dialami Miura saat dia dicoret dari tim nasional Jepang di Piala Dunia 1998.

Padahal saat itu, Miura merasa tengah di puncak karirnya. “Itu adalah kejutan besar saat itu. Tapi ia tidak membiarkannya membuatnya terpuruk,” katanya. “Itu sebabnya dia masih bermain."

Bekas pemain Liga Primer yang kini telah pensiun, Leon Osman punya pendapat lain. Pemain yang gantung sepatu pada usia 35 tahun, menunjuk perubahan besar kebiasaan para pemain yang menjadi faktor makin panjangnya usia karir pemain sepak bola.

Mantan gelandang Everton itu mengungkapkan para pemain sekarang memiliki sikap profesionalisme dan berusaha keras dalam menjaga tubuh mereka. “Dulu lazim sekali para pemain menghabiskan waktu dengan minum-minum setelah pertandingan. Selain itu, masa lalu, mereka memiliki kebiasaan makan di restoran cepat saji,” katanya. “Selama karier saya, banyak hal mulai berubah.”

Sepak bola memang telah banyak berubah. Dengan kemajuan teknologi, termasuk dalam hal soal gizi, para pemain kini semakin sadar dengan kondisi tubuhnya. Hal itu yang membuat mereka kian sadar dengan rentang perjalanan karirnya di lapangan. Itu pula yang dilakukan Ashley Young.

Laga melawan anaknya itu pun akan banyak dinanti.  Tapi adakah adu hebat bapak dan anak itu akan terjadi?

Kita lihat dulu bapaknya. Ashley bukanlah pemain kaleng-kaleng. Dia berkali-kali bermain untuk tim nasional Inggris. Biar pun umurnya sudah tak muda lagi, 39 tahun namun di klubnya, Everton, dia tetap menjadi pilihan utama bagi pelatih Sean Dyche. Seperti yang terlihat Ahad lalu, saat bermain melawan Manchester United.

Ashley memang punya jam terbang yang tinggi. Karirnya pun gemilang. Dia telah tampil sebanyak 724 kali untuk klub-klub seperti Watford, Aston Villa, Man United, Inter Milan, dan Everton. Dia pun pernah merasakan menjadi juara Piala FA, pada musim 2015-16 bersama Manchester United.

Bila tak ada halangan, semisal cedera berat, Dyche sang pelatih sepertinya akan menurunkan Ashley dalam laga melawan Petersborough ini.

Bagaimana dengan Tyler? Sang anak, yang baru berusia 18 tahun hanyalah pemain baru, yang bergabung pada musim ini. Dia masuk skuad Dean Ferguson melalui jalur seleksi alias uji coba. Setelah lulus dari akademi sepak bola Arsenal dia mengikuti serangkaian tes dan dinyatakan memenuhi syarat untuk bergabung dengan Peterborough.

Awal Oktober lalu, dia mendapat debut untuk klubnya itu. Di ajang Piala Liga, dia diturunkan menganggapnya sebagai pengalaman yang luar biasa. “Saya tidak menyangka bisa bermain selama itu. Saya pikir, mungkin saya hanya akan diberi waktu sepuluh menit saja,” katanya.

Ashley, si bapak, bukan main bangganya dengan debut Tyler itu. "Bangga bahkan tidak cukup untuk menjelaskan momen ini untukmu. Selamat atas debutmu, my son, dan semoga masih banyak lagi yang akan datang," katanya.

Satu yang cukup mengkhawatirkan sejak debut, Oktober lalu, meski dua kali masuk dalam susunan tim -- Tyler belum pernah dimainkan lagi. Masih ada waktu untuknya untuk menunjukkan kualitasnya. Sehingga laga besar dan bersejarah ini --  anak melawan bapak, bisa terwujud.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo