Dark
Light
Dark
Light

Profil Rahmah El Yunusiyah: Pahlawan Perempuan dari Tanah Sumatera

Profil Rahmah El Yunusiyah: Pahlawan Perempuan dari Tanah Sumatera

Sepuluh nama yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2025 telah diumumkan. Nama-nama itu punya latar belakang beragam: Presiden, aktivis HAM, akademisi, tokoh pendidikan, ulama, dan pejuang anti kolonialisme. Dua diantara sepuluh nama adalah perempuan: Rahmah El Yunusiyah (Sumbar) dan Marsinah (Jatim). Dua tokoh tersebut punya kontribusi besar bagi kemajuan masa depan bangsa Indonesia baik di ranah intelektual maupun perjuangan keadilan.

Marsinah adalah aktivis buruh yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja di masa Orde Baru, hingga akhirnya menjadi simbol perjuangan keadilan sosial di Indonesia. Banyak orang tak asing dengan nama maupun wajahnya. Hingga kini, setiap muncul pergolakan antara rakyat dan pemerintah, wajah Marsinah tak pernah absen ikut dihadirkan lewat berbagai poster maupun spanduk.

Berbeda dengan Marsinah, Rahmah El Yunusiyah kurang begitu akrab dikenal telinga banyak orang. Ada banyak faktor yang melatar belakangi, dua di antaranya karena tempat asal juga bidang yang ia geluti. Penetapan Rahmah El Yunusiyah sebagai pahlawan nasional memberi angin segar pada masyarakat untuk mengenal sosok perempuan yang giat dan teguh memperjuangkan pendidikan.

Rahmah El Yunusiyah, yang dahulu dieja sebagai Rahmah El Joenoesijjah, dikenal sebagai pelopor dan pemimpin Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang. Ia dijuluki “Kartini Pendidikan Islam” serta “Ibu Pendidikan Indonesia” karena dedikasinya dalam memajukan pendidikan perempuan. Sekolah yang ia dirikan hampir seabad lalu masih berdiri kokoh hingga kini, menghasilkan lulusan-lulusan berprestasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan Malaysia.

Lahir pada 29 Desember 1900 di Padang Panjang, Rahmah merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Syekh Muhammad Yunus, adalah seorang qadi di Pandai Sikek, sementara kakeknya, Imanuddin, dikenal sebagai ahli ilmu falak dan tokoh tarekat Naqsyabandiyah yang berperan dalam memerangi praktik bid’ah dan takhayul di Minangkabau.

Rahmah tumbuh dalam lingkungan keluarga Islam yang berpikiran maju. Kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, adalah seorang ulama muda progresif yang mendirikan Diniyah School. Sejak kecil, Rahmah telah menjadi yatim karena ayahnya wafat saat ia masih balita, sehingga ia dibesarkan oleh ibunya dan para kakaknya. Pada usia 16 tahun, ia menikah dengan H. Baharuddin Latif, seorang ulama dari Sumpur, Singkarak, namun pernikahan mereka berakhir secara baik-baik enam tahun kemudian tanpa dikaruniai anak. Rahmah memilih untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayatnya. Ia menghabiskan waktu hidupnya untuk memperjuangkan cita-cita pendidikan dan kemerdekaan yang tubuh dalam dirinya.

Pendidikan formal Rahmah hanya sampai kelas tiga sekolah rakyat, namun semangat belajarnya tak pernah padam. Ia menimba ilmu secara otodidak dan belajar langsung dari para ulama besar seperti Syekh Dr. H. Abdul Karim Amarullah (Inyiak DR), S Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, serta kakaknya sendiri, Zainuddin. Selain mendalami ilmu agama dan pengetahuan umum, Rahmah juga mempelajari kebidanan dari kerabat ibunya dan ilmu kesehatan dari sejumlah dokter ternama pada masa itu, seperti dr. Sjofjan Rasjad, dr. Tazar, dr. A. Saleh, dr. Arifin, dr. Rasjidin, dan dr. A. Sani.

Sepanjang hayatnya, Rahmah El Yunusiyah berjuang secara aktif dan menyeluruh dalam dunia pendidikan, bukan hanya melalui gagasan tetapi juga tindakan nyata. Pada tahun 1923, ia mendirikan Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang, yang menjadi pelopor sekolah khusus perempuan di Indonesia. Rahmah merancang sistem pendidikan yang menyatukan ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan umum dan keterampilan hidup, menciptakan model pembelajaran yang progresif dan inklusif. Inovasi ini bahkan diakui secara internasional, ketika Universitas Al-Azhar di Mesir mengadopsinya untuk pendidikan perempuan. Atas kontribusinya yang luar biasa, Rahmah dianugerahi gelar kehormatan Syaikhah oleh Universitas Al-Azhar pada tahun 1957, menjadikannya perempuan pertama yang menerima gelar tersebut.

Selain kiprahnya di bidang pendidikan, Rahmah El Yunusiyah juga memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, ia menjadi sosok pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di halaman Madrasah Diniyah Putri, simbol keberanian dan harapan.

Pada tahun 1945, ia turut membentuk unit logistik dan perbekalan untuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang, serta mengelola dapur umum di lingkungan sekolahnya demi mendukung kebutuhan para pejuang. Dalam masa agresi militer Belanda, Rahmah aktif memberikan bantuan dan sempat ditahan karena keterlibatannya dalam gerakan perlawanan. Ia juga menjabat sebagai ketua bagian kaum ibu di Majelis Islam Tinggi dan berkontribusi dalam berbagai organisasi perjuangan seperti Gyu Gun Ko En Kai dan Laskar Sabilillah, menunjukkan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap kemerdekaan dan keadilan.

Pada akhirnya, bangsa Indonesia patut bangga pada warisan yang ditinggalkan sosok perempuan hebat— Rahmah El Yunusiyah— yang namanya tercatat bukan hanya sebagai tokoh pendidikan, tetapi juga sosok pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi figur yang berhasil menjembatani ilmu dan kemerdekaan, menjadikan sekolah sebagai medan juang dan perempuan sebagai pelaku perubahan. Rahmah bukan sekadar tokoh—ia adalah nyala yang tak padam dalam sejarah Indonesia.

 

 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo