Dark
Light
Dark
Light

Nama Mbah Kholil Bangkalan dan Asal Usul Gelar Syaikhona

Nama Mbah Kholil Bangkalan dan Asal Usul Gelar Syaikhona

Arina.id – KH Muhammad Kholil bin KH Abdul Lathif adalah ulama terkemuka asal Bangkalan Madura yang punya pengaruh dalam perkembangan Islam di Nusantara. Salah satu hal yang menarik untuk dikaji dari sosok Mbah Kholil adalah mengenai asal-usul gelar ‘Syaikhona’ yang sering melekat pada namanya.

Sebelum mengungkap sejarah gelar tersebut, Kholili Kholil, salah seorang keturunan Mbah Kholil Bangkalan menemukan sejumlah keterangan yang berkaitan dengan nama Mbah Kholil. Dari sumber yang didapat, ulama besar yang juga guru dari KH Hasyim Asy’ari ini kerap disebut dan ditulis dengan nama “Halil”, bukan dengan huruf vokal ‘o’ sebagaimana pada nama Kholil atau Cholil.

“Dalam riwayat oral yang saya kumpulkan dari para sesepuh, kebanyakan santri beliau menyebut nama beliau dengan ‘Kiai Halil’,” tulis Kholili dalam akun facebooknya yang diunggah pada Ahad (18/5/2025)

Kholili menjelaskan, Mbah Kholil dalam parateks di kitabnya sering menulis namanya sendiri dengan ejaan ‘Halil’, ‘Haliel’, dan ‘Mat Halil’. Untuk nama Mat, hal ini merupakan penyebutan dari suku kata terakhir dari nama depan Mbah Kholil, yaitu Muhammad menjadi Mat. 

“Sebagai perbandingan lihat cara Kiai As’ad menyebut nama beliau dalam kisah tongkat yang banyak beredar di YouTube,” tulis Kholili Kholil dalam postingan yang diberi judul ‘Our Syaikh: The Origins’ tersebut.

Selain itu, dalam catatan Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje (hlm. 1961), Snouck Hurgronje menyebut Mbah Kholil dengan nama ‘Hadji Halil/Chalil’ dan juga ‘Kjahi Hadji Chalil’. Sementara dari kalangan tokoh asal Sunda, Rd. Hasan Mustapa menyebut sosok Mbah Kholil dalam buku otobiografinya dengan nama ‘Kiai Khalil’. Sedangkan dalam sebuah surat yang ditulis oleh Rd. Haji ‘Abd al-Rahman yang berasal dari Singapura, Mbah Kholil dipanggil dengan nama ‘Kiai Haji Halil’, menggunakan huruf ح [ha] bukan خ [kha].

Menurut Kholili, hal yang menarik datang dari salah seorang santri Mbah Kholil bernama Kiai Abbas asal Tugung Banyuwangi. Dalam karyanya yang berjudul Manasik Haji dan diterbitkan oleh Salim b. Sa’d b. Nabhan Surabaya, Kiai Abbas menyebut sosok Mbah Kholil dengan sebutan Dara Kiai Khalil. Dijelaskan Kholili, Dara atau Ndara ini merupakan kependekan dari Bindharah, sebutan khas Madura yang sejajar dengan tuan/mas.

“Sementara Kiai Anwar, santri Mbah Kholil yang kemudian menjadi pengasuh Pesantren Sembilangan, dalam kitab Kaifiyat Shalat Dhuha (yang beliau nisbatkan kepada Kiai Kholil) menyebut nama beliau dengan ‘Kiai Syaikh Kholil’. Menarik melihat bahwa gelar ‘syaikh’ disejajarkan dengan gelar ‘kiai’ dan gelar ‘kiai’ didahulukan atas gelar ‘syaikh’,” tambah Kholili.

Sementara itu, Kiai Abu Bakar, seorang kiai dari Pesantren Ketengan yang sezaman dengan Mbah Kholil, dalam hadiah kitab Al-Bakurah menyebut Mbah Kholil dengan nama ‘Kakanda Syaikh Kholil’. Dijelaskan Kholili, sosok Kiai Abu Bakar ini adalah Kiai Abu Bakar Pengarangan yang namanya disebut dalam diari Raden Somasari Adikusuma alias Mas Rahmat, seorang bangsawan dari Banyumas yang naskahnya tersimpan di Leiden dengan nomor Or. 6553 dan telah diedit oleh Ann Kumar dalam Diary of Javanese Muslim: Religion, Politics, and the Pesantren 1883-1886.

Asal Usul Gelar Syaikhona

asal usul gelar Syaikhona yang melekat dalam sosok Mbah Kholil tidak lepas dari keberadaan dan peran santri-santrinya. Kholili kemudian mengungkap sejumlah data dari kitab-kitab milik orang yang dekat dengan Mbah Kholil, di antaranya adalah kitab Al-Lujain al-Dani fi Manaqib al-Jilani milik Kiai Saleh Tambak Agung Bangkalan. Dalam parateks kitab tersebut banyak sekali ditemukan keterangan yang berbunyi: “Qarrarahu Syaikhuna Kholil”

Kiai Saleh Tambak Agung, jelas Kholili, adalah seorang kiai sepuh dari pesisir selatan Madura Barat yang lahir sekitar tahun 1838 M dan mewarisi pesantren sepuh bernama Al-Akhyar. Dengan demikian, secara usia Kiai Saleh lebih muda tiga tahun dari Mbah Kholil. 

“Itu artinya Kiai Kholil telah hadir sebagai ‘syaikhuna’ sejak masa hidupnya, lebih-lebih putra Kiai Soleh, yakni Kiai Ismail, adalah tergolong sebagai santri generasi awal Syaikhona Kholil.” ungkap Kholili.

Kholili menegaskan bahwa gelar ‘Syaikhona’ ini telah tersemat kepada Mbah Kholil saat ia masih hidup. Hal ini terlihat dalam naskah kitab Alfiyah yang diberikan Mbah Kholil kepada santrinya bernama Kiai Rawi dari Pamancingan (Mancengan) Bangkalan. Pada sampul kitab Kiai Rawi itu tertulis ‘Shohib al-Khatt Syaikhuna Muhammad Kholil’. 

“Selain itu sebuah naskah Al-Madkhal dalam ilmu Balagah karya ‘Adhud al-Din Al-Iji yang dimiliki oleh Utsman bin Nawawi Madura, tercantum pula sebutan Syaikhona Muhammad Kholil,” pungkas Kholili dalam penjelasannya.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo