Dark
Light
Dark
Light

Zohran Mamdani: Tak Lebih dari Sensasi Politisi atau Wajah Baru Politik Amerika?

Zohran Mamdani: Tak Lebih dari Sensasi Politisi atau Wajah Baru Politik Amerika?

Di sebuah apartemen kecil di Queens, Kota New York, suara Zohran Kwame Mamdani terdengar lantang. Kalimat-kalimat yang ia lontarkan direspons cepat dengan tepuk tangan.

Kala berbicara di depan kerumunan, ia terbiasa memadukan unsur humor, satire, juga dengan bahasa komunikasi yang sederhana, inklusif. Di sejumlah kesempatan, Mamdani berbicara dalam bahasa Inggris, Spanyol, Urdu, dan Hindi. Ia memang dikenal sebagai politikus poliglot atau multilingual.

Pada momen lain, ia menghunus ucapan secara menohok, menghantam musuh-musuhnya sebagai biang kerok kegagalan mewujudkan sistem keadilan. Namun, di waktu hampir bersamaan, ia menertawakan dirinya sebagai imigran yang malang.

Di ruangan apartemen yang tidak terlalu lebar itu, Mamdani tidak sedang berbicara di hadapan elite politik. Ia menyuarakan gagasan, ide, dan visi politiknya kepada warga biasa, —pengemudi taksi, penghuni apartemen sewa, para pekerja restoran, dan komunitas imigran yang telah lama merasa dilupakan oleh sistem.

Kini langkah awalnya telah tercapai. Zohran Mamdani telah ditetapkan sebagai calon Wali Kota New York dari Partai Demokrat. Ia berhasil menyingkirkan Andrew Cuomo dalam “konvensi elektorat” dengan margin besar yakni: 8 persen. Suaranya mencapai 56 persen berbanding 44 persen suara Cuomo pada putaran ketiga perhitungan suara.

Meski demikian, antara Mamdani dan Cuomo sebenarnya tidak mencapai batas ambang perolehan suara mayoritas pada 25 Juni lalu. Namun, pejabat pemilihan memutuskan untuk mengeliminasi kandidat yang peringkatnya lebih rendah dan menghitung ulang berdasarkan proses pemungutan suara pilihan berperingkat.

Dalam prosesnya, pria Muslim ini ternyata mendapatkan 43 persen suara. Melihat hal itu, Cuomo—sosok yang selama jajak pendapat mendapatkan banyak dukungan dari nama besar seperti mantan Presiden AS Bill Clinton—memutuskan untuk mengakui kekalahan tanpa menunggu hasil akhir perhitungan. 

"Partai Demokrat berbicara dengan suara yang jelas, menyampaikan mandat agar kota yang terjangkau, politik yang berorientasi masa depan, dan pemimpin yang tidak takut untuk melawan otoritarianisme yang meningkat," kata Mamdani pada hari Selasa (1/7/2025) usai Partai Demokrat mengumumkan hasil akhir.

Dengan hasil ini, peluang Mamdani menjadi wali kota Muslim pertama Kota New York cukup besar. Terlebih dalam sejumlah jajak pendapat saat ini menunjukkan ia mengungguli Wali Kota Eric Adams (independen) dan kandidat Republik Curtis Sliwa untuk pemilihan November mendatang.

Sosok Aktifis-Politisi

Sebelum dunia mengenalnya sebagai politisi, Mamdani dikenal di kalangan komunitas kreatif New York sebagai rapper dengan nama panggung Mr. Cardamom. Melalui musik, ia menyuarakan isu-isu sosial, pengalaman diaspora, dan kritik terhadap ketidakadilan. Namun, dunia seni hanyalah salah satu jalan baginya untuk memahami realitas komunitas di sekitarnya.

Pengalaman langsung bekerja sebagai penasihat perusahaan properti di Queens mengubah pandangannya tentang politik. Hari-hari yang ia habiskan membantu warga yang terancam penggusuran memberinya pemahaman bahwa krisis perumahan bukan sekadar masalah individu, tetapi kegagalan sistemik. Dari sini, benih aktivisme politiknya tumbuh.

Zohran Mamdani lahir pada 18 Oktober 1991 di Kampala, Uganda. Ia adalah anak dari pasangan yang sangat berpengaruh dalam bidang akademik dan seni. Ayahnya, Mahmood Mamdani, adalah intelektual terkemuka, guru besar antropologi di Universitas Columbia, dan dikenal luas sebagai pemikir pascakolonial. Ibunya, Mira Nair, adalah seorang sutradara film internasional yang karya-karyanya telah memenangkan berbagai penghargaan global, termasuk Salaam Bombay! dan Monsoon Wedding.

Kehidupan Mamdanisejak awal adalah kisah perpindahan. Saat usianya baru lima tahun, keluarganya pindah ke Cape Town, Afrika Selatan, sebelum akhirnya bermigrasi ke Amerika dan menetap di New York City ketika ia berusia tujuh tahun. Di kota ini, Mamdani tumbuh dalam lingkungan yang plural, dinamis, dan keras. Ia belajar di Bronx High School of Science, sebuah sekolah negeri elite di New York, sebelum melanjutkan pendidikan ke Bowdoin College di Maine, dan meraih gelar dalam Studi Afrika (Africana Studies) pada tahun 2014.

Tahun 2017 menjadi titik balik. Terinspirasi oleh gerakan Bernie Sanders dan kebangkitan sayap progresif, Mamdani bergabung dengan Partai Demokrat/Democratic Socialists of America (DSA). Keputusan itu membawanya lebih dalam ke dunia pengorganisasian komunitas, terutama di Queens yang dikenal sebagai distrik paling beragam di Amerika.

Pada tahun 2020, dua tahun setelah resmi menjadi warga negara AS, Mamdani memutuskan untuk maju sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York mewakili Distrik 36 (Queens). Tanpa dukungan dari mesin politik Partai Demokrat arus utama, ia menjalankan kampanye di akar rumput. Fokusnya jelas: memperjuangkan hak-hak penyewa, memperluas layanan publik, dan membangun ekonomi yang berpihak pada rakyat pekerja. Ia berhasil mengalahkan petahana yang telah menjabat lama dengan selisih suara signifikan.

Di Albany, kursi legislatif negara bagian, ia dengan cepat menjadi salah satu figur paling vokal dalam isu-isu progresif. Ia memperjuangkan undang-undang pembekuan sewa, transportasi umum gratis, reformasi pajak yang lebih adil, hingga mendukung penghapusan utang bagi pengemudi taksi medallion yang terjebak dalam krisis keuangan.

Salah satu momen paling monumental dalam karier legislatif Mamdani adalah ketika ia ikut memimpin aksi mogok makan bersama para sopir taksi di New York pada 2021. Saat itu, ribuan sopir, banyak di antaranya adalah imigran, menghadapi kebangkrutan akibat skema kredit medallion yang korup. Tekanan publik yang ia bangun bersama para aktivis berhasil memaksa pemerintah kota untuk menyetujui bailout senilai 450 juta dolar untuk meringankan utang para sopir. Ini menjadi contoh nyata dari politik berbasis komunitas yang mampu mengalahkan kepentingan korporasi.

Maju sebagai Calon Wali Kota New York City

Tahun 2025 menjadi panggung terbesar bagi Zohran Mamdani. Ia resmi mengumumkan pencalonannya sebagai Wali Kota New York, menantang status quo yang selama ini didominasi oleh mesin politik moderat dan kapital besar. 

Platform kampanyenya sangat progresif dan ambisius: Ia memperjuangkan layanan transportasi gratis untuk seluruh warga, pembekuan sewa selama tiga tahun, dan pembangunan 200.000 unit perumahan publik baru.

Selain itu, ia juga menyuarakan agar toko bahan pangan milik kota untuk memastikan akses makanan murah dan sehat. Perawatan anak gratis dan menghapus biaya kampus.

Selama masa kampanye, Mamdani hanya mengandalkan lebih dari 18.000 pendonor kecil, kampanye Mamdani menjadi salah satu kampanye dengan pembiayaan publik terbesar dalam sejarah kota New York, tanpa uang dari korporasi atau kelompok pelobi.

Identitas dan Representasi

Ketimbang terjebak  politik transaksional yang sarat kompromi dan janji-janji kosong, Mamdani memilih arah yang berbeda—ia meniti jalur politik yang berakar pada kekuatan komunitas. Gerakan politik yang ia bangun tak sekadar mengandalkan suara, tetapi mengakar pada solidaritas antarwarga.

Dengan langkah yang penuh perhitungan, Mamdani membangun jembatan kedekatan dengan komunitas Asia Selatan dan Asia Timur—suatu pendekatan yang selaras dengan karakter Queens, kawasan yang menjadi rumah bagi komunitas Asia dalam jumlah besar di New York. Kehadirannya pun kian kokoh berkat sokongan figur politik berpengaruh seperti Senator Negara Bagian New York, John Liu. Meski begitu, Mamdani tak berhenti hanya pada dukungan semata; ia terus melangkah lebih jauh. Komunitas Tionghoa-Amerika pun didekati dengan pendekatan yang sensitif secara budaya, bukan sekadar basa-basi, melainkan dengan penghormatan atas sejarah panjang mereka yang turut membentuk wajah New York.

Lebih dari sekadar membangun koneksi antar-komunitas, Mamdani turut meneguhkan ikatan solidaritas dengan komunitas kulit hitam. Kehadirannya kerap terlihat di berbagai ruang dialog, termasuk di forum-forum yang diinisiasi oleh tokoh seperti Rev. Al Sharpton lewat National Action Network.

Dalam forum terbuka, ia lantang menyuarakan komitmennya terhadap berbagai persoalan yang kerap luput dari perhatian para pengambil kebijakan arus utama—mulai dari isu hunian yang terjangkau, pembenahan sistem kepolisian, hingga kesetaraan dalam akses transportasi.

Pendekatannya melampaui batas etnis dan ras. Ia juga memanfaatkan ruang-ruang lintas agama sebagai wadah membangun narasi kolektif. Tak ragu, ia menyambangi masjid, gereja, kuil Hindu, hingga sinagoga—mengukuhkan pesan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman.

Berbeda dari banyak politisi yang kerap menghindari isu identitas agama, Mamdani justru memilih untuk terbuka. Ia menyatakan dengan tegas identitasnya sebagai seorang Muslim keturunan India-Uganda. Bahkan, pengalaman keluarganya yang pernah menjadi korban Islamofobia ia angkat tanpa ragu. Ia menceritakan kisah sang bibi yang berhijab dan pernah mengalami kebencian di jalanan New York. Baginya, pengalaman itu bukan sekadar luka pribadi, melainkan alasan moral yang mendorongnya untuk terjun ke dunia politik—sebuah politik yang berpihak, bukan sekadar berebut kuasa.

Sebagai seorang Muslim, anak imigran India-Uganda, dan penduduk Queens, Mamdani membawa narasi yang melampaui politik elektoral biasa. Ia adalah wajah dari Amerika baru—sebuah bangsa yang dibangun oleh komunitas beragam, pekerja keras, dan mereka yang selama ini hanya berdiri di pinggir panggung kekuasaan.

Ia menikah dengan Rama Duwaji, seorang ilustrator dan animator asal Suriah-Amerika. Pasangan ini menjadi simbol kuat dari diaspora dan kekuatan komunitas lintas budaya yang membentuk wajah New York hari ini.

Tentu saja, jalan Mamdani tidak mulus. Ia dihadang oleh kritik keras dari Partai Republik yang menyebutnya sebagai "radikal sosialis anti-Semit," dan juga mendapat perlawanan dari dalam Partai Demokrat sendiri, khususnya dari kubu moderat yang menganggap visinya terlalu ekstrem.

Namun, bagi para pendukungnya, Mamdani adalah harapan baru. Sosok yang tidak sekadar menjanjikan perubahan, tetapi telah membuktikan bahwa perubahan itu mungkin—selama politik kembali ke tangan rakyat.
Sejarah akan mencatat apakah Zohran Mamdani hanya sekadar gejolak sesaat, atau justru menjadi titik balik lahirnya era baru dalam politik Amerika.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo