Dark
Light
Dark
Light

Pallywood, Mr FAFO, dan Kesaksian Saleh Al-Jafarawi

Pallywood, Mr FAFO, dan Kesaksian Saleh Al-Jafarawi

Gara-gara wajah Saleh Al-Jafarawi muncul dalam tayangan berita, BBC dikritik habis. Mereka dituduh mendukung pihak yang disebut sebagai provokator. Al-Jafarawi pun dikabarkan tengah dicari tentara Israel.

Sebenarnya singkat saja wajah Saleh Al-Jafarawi muncul dalam video itu. Hanya beberapa detik. Namun sontak membuat acara berita jam 6 sore dari BBC itu heboh. Al-Jafarawi menjadi fokus pembicaraan dibandingkan aksi tentara Israel yang menghunjami ambulan di Rumah Sakit Shifa di Gaza, Palestina, awal November lalu. Satu tuduhan telak, lembaga penyiaran publik Inggris itu disebut mendukung aksi propaganda Hamas dalam invasi Israel ke Gaza. 

BBC tentu saja menolak tudingan itu. Seperti yang ditulis express.co.uk, para pengasuh acara itu menyatakan bahwa semua rekaman yang digunakan dalam liputannya diperiksa dan diverifikasi dengan cermat untuk memastikan keasliannya. Mereka juga mengetahui kehadiran Al-Jafarawi dalam video itu dan juga tentang klaim yang dibuat tentang dirinya.  

Saleh Al-Jafarawi, 25 tahun, seorang jurnalis dan fotografer di Gaza, dikenal karena membuat konten di platform media sosial. Sejak invasi Israel ke Gaza, dia membawa kameranya dan mulai mendokumentasikan korban yang terluka yang dibawa ke rumah sakit Gaza. Klipnya banyak ditonton orang. Dia pun kebanjiran pengikut. Follower Instagram-nya, kini mencapai lebih dari 3 juta.

Bersamaan dengan itu, dia kemudian menjadi sumber kekesalan warga Israel. Menurut mereka aksi Al-Jafarawi itu tidaklah murni. Dia dituding sebagai bagian dari propaganda yang dilakukan oleh Hamas – yang disebut Israel sebagai teroris. Sebutan untuknya, “aktor krisis”. 

Julukan itu muncul karena dia dianggap mengunggah video setingan. Misalnya dia disebut berpura-pura terluka akibat pengeboman Israel. Untuk itu, mereka – warga dan simpatisan Israel kerap membubuhkan tagar #pallywood saat menanggapi setiap postingan Al-Jafarawi di akun Instagramnya. 

Pallywood berasal dari gabungan dua penggalan kata "Palestina" dan "Hollywood". Mudahnya, dengan mempelesetkan Hollywood, istilah ini disematkan pada video yang dibuat jurnalis Palestina pada kekejian Israel yang menurut mereka berlebihan bahkan juga dusta belaka. 

Istilah "Pallywood" sendiri diciptakan sejarawan Amerika Richard Landes, yang mengajar di Israel, pada 2005. Dia menggunakannya untuk menggambarkan apa yang dia yakini sebagai fenomena warga Palestina yang melakukan adegan penderitaan. Harapannya, mereka akan diliput oleh media untuk melemahkan kebijakan Israel.

Tuduhan semacam ini bukanlah hal baru. Beberapa tahun terakhir, berbagai situs internet Israel menuduh penduduk Gaza melakukan adegan-adegan yang membuat mereka terlihat seperti korban. Tudingan ini makin marak sejak perang antara Hamas dan Israel pecah pada awal Oktober. Menurut Israel, sejumlah berita palsu jenis ini telah beredar sejak awal perang. 

Tentu bukan semata Al-Jafarawi yang dituduh membuat video yang disebut Pallywood itu. Tapi, dibanding yang lain, dia yang paling banyak diserang. Satu di antaranya, dia dituduh melakukan kebohongan. 

Dia disebut suatu kali berada di sebuah rumah sakit dengan bertelanjang dada dan infus.  Namun dalam beberapa hari kemudian, dia sudah berada di jalan-jalan Gaza. Masyarakat yang pro Israel teramat meyakini hal itu. 

Benarkah dia demikian? Nyatanya tidak. Satu kelemahan Al-Jafarawi adalah memiliki wajah yang mirip dengan kebanyakan orang Palestina. Sehingga, dengan mudah dibengkokkan menjadi kabar yang keliru.

Yang sebenarnya terjadi, dua foto yang diasosiasikan Saleh Al-Jafarawi adalah keliru. Foto Saleh yang dinarasikan tengah berada di sebuah rumah sakit adalah foto lama yang pernah beredar pada beberapa bulan sebelumnya. 

Pria yang ada dalam foto itu bukan Al-Jafarawi melainkan Mohammed Zendiq yang kehilangan kakinya setelah serangan pasukan Israel di kamp pengungsi pada 24 Juli lalu. Dalam foto itu, terlihat Zendiq tengah tergolek di rumah sakit. 

Sekilas wajah antara Zendiq dan Al Jafarawi memang mirip. Pihak yang kontra dengan perjuangan masyarakat Gaza membuat narasi yang menyesatkan. Semula foto yang berformat vertikal itu disunting menjadi horisontal sehingga bagian kakinya yang buntung tak terlihat. Foto inilah yang kemudian disandingkan dengan gambar Al-Jafarawi lainnya. Sehingga dua foto ini memang terkesan seperti satu orang, yakni Saleh Al-Jafarawi. 

Walhasil, semua video yang dibuat Saleh di tengah konflik selalu dikomentari negatif oleh mereka para pendukung Israel. Termasuk ketika dia merekam suasana rumah sakit Shifa yang tengah dibombardir oleh tentara Israel. 

Al Jafarawi yang berada di tengah korban yang berlumuran darah dan beberapa di antaranya telah kehilangan nyawa, malah diolok-olok mereka yang pro pada Israel. Dia pun mendapatkan julukan lain, yang juga tak mengenakkan yakni “Mr FAFO” yang kurang lebih berarti sang provokator.  

Label ini sepertinya tidak hanya milik Al Jafarawi semata tapi semua dari mereka, para jurnalis, yang meliput dan menyiarkan semua kekejaman pasukan Israel di Gaza. Di sisi lain, media Israel terus menerus menghasut jurnalis dan fotografer di Jalur Gaza karena diduga meliput masuknya pejuang Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).

Bak api bertemu bensin, akibatnya pasukan Israel pun marah besar. Mereka memasukkan mereka, para jurnalis itu dalam daftar target penangkapan. Tentu saja ini menjadi ancaman bagi mereka yang menjadi penyaksi dari kebrutalan pasukan Israel. Sindikat Jurnalis Palestina mengatakan bahwa 35 jurnalis telah menjadi martir sejak Israel melancarkan agresinya pada tanggal 7 Oktober lalu.

"Saya terkejut dengan tersebarnya berita ini di banyak grup dan chanel berbahasa Arab dan Ibrani. Di sana juga banyak ancaman," tulis Al Jafarawi.

Saleh Jafarawi sebagai jurnalis lepas, menyatakan seharusnya orang-orang seperti dia, mendapat perlindungan internasional dan meminta agar komunitas internasional bertanggung jawab atas keselamatannya.

Toh begitu, meski ancaman datang, Al Jafarawi– juga dengan mereka yang merekam kesaksian bengis pasukan Israel itu, mengaku tak takut. “Saya tidak akan berhenti menyebarkan kejahatan (Israel) terhadap rakyat Palestina saya.”

Invasi Israel masih berlangsung. Korban terus berjatuhan. Saleh Al Jafarawi yang dituduh si aktor krisis, aktor Pallywood, si Mr FAFO, kukuh menjadi penyaksi kebrutalan dan kekejaman tentara Israel dan mengabarkannya pada dunia.   


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo