Buah mengutuk invasi Israel ke Palestina, pemain sepak bola diputus kontrak dan diberikan sanksi berat. Kaum Yahudi memang telah lama menguasai bisnis sepak bola dunia.
Permintaan ini adalah yang terakhir. Anwar El Ghazi, 28 tahun, diperintahkan untuk membuat video permintaan maaf atas kelakuannya beberapa hari sebelumnya. Namun, permintaan itu ditolak pemain sepak bola keturunan Maroko itu.
Hukuman pun jatuh. Mainz 05, klub Jerman yang menggajinya, memvonis pemain sayap ini. Dia harus segera hengkang setelah segala macam – termasuk urusan pesangon beres. Kontrak diputus, El Ghazi resmi jadi pengangguran.
Semua bermula pada Ahad, 16 Oktober, lalu. Ketika itu, El Ghazi membuat postingan di akun Instagramnya. Dia menyebut Israel telah melakukan genosida di Gaza, Palestina. El Ghazi – yang lahir dan besar di Belanda menulis sebaris kalimat, yang kemudian berbuntut panjang, “Dari sungai sampai laut, Palestina akan merdeka.”
Sebenarnya, El Ghazi telah menghapus postingan tersebut. Namun sehari sesudahnya, klub Jerman itu menjatuhkan skors. Klub itu mengakui adanya perbedaan perspektif dengan pemainnya itu – dalam soal konflik ini. Namun yang membuat mereka berang karena El Ghazi mengutip kata-kata sangat tidak disukai dan dinilai bertentangan dengan nilai-nilai klub.
Kalimat “dari sungai ke laut .... ” adalah sebabnya. Kalimat ini lazim diungkap para aktivis kemerdekaan Palestina dianggap sebagai upaya menghapus negara Israel dan rakyatnya. Komite Yahudi Amerika mendefinisikan frasa tersebut sebagai pernyataan anti kaum Yahudi, karena dapat diartikan sebagai seruan untuk menghilangkan negara Yahudi.
Di Jerman sendiri, kalimat ini berpotensi terbuka untuk penuntutan pidana. Pasal yang bisa dikenakan antara lain: “persetujuan atas kejahatan” atau “perkataan yang mendorong kebencian”.
Klub ini sangat sensitif terhadap antisemitisme. Salah satu pendirinya, Eugen Salomon, adalah seorang Yahudi Jerman yang dibunuh oleh Nazi di Auschwitz pada 1942. Tak heran mereka begitu marah dengan perilaku El Ghazi itu.
Kejadian serupa juga menimpa bek Nice klub Prancis, Youcef Atal, 27 tahun. Pemain asal Aljazair ini dilarang bermain dalam tujuh pertandingan. Sebabnya, sama dengan El Ghazi, dia dianggap menyebarkan pesan antisemit di akun media sosial miliknya.
Komite Etik Federasi Sepak Bola Prancis, pun ikut menelisik postingannya. Hasilnya sama dengan yang dilakukan klub, mereka menjatuh skors pada Atal. Sebelum dijatuhi sanksi, sebenarnya Atal – yang merupakan pemain tim nasional negerinya itu, telah meminta maaf.
Dia juga menghapus video yang berisi pernyataan seorang pengkhotbah asal Palestina. Menulis di Instagram, Atal memahami bahwa postingannya mengejutkan sebagian orang. Namun, dia tetap mengutuk segala bentuk kekerasan, “di mana pun di dunia.”
Yahudi Menguasai Industri Sepak Bola
Sebenarnya tidaklah aneh bila klub-klub itu amat keras menanggapi sikap pemainnya dalam konflik ini. Sepak bola termasuk permainan yang disukai kaum Yahudi di Eropa dan mereka punya sejarah panjang dalam soal ini.
Dalam pameran bertajuk “Super Jews: Jewish Identity in the Football Stadium” tengah berlangsung di Wina, Austria, hingga Januari 2024, perjalanan itu terlihat. Meski merupakan pameran seni – namun dari sana tergambar jelas bagaimana peran mereka dalam permainan sebelas lawan sebelas ini.
Salah satunya, dari sejarah klub sepak bola First Vienna FC yang berdiri pada 1894. Nathaniel Mayer Baron von Rothschild, pemilik kebun mawar di kota itu kesal karena para karyawan selalu bermain bola dan membuat kebunnya rusak. Lalu dia membeli lahan kosong di di Hohe Warte – yang jauh lokasinya dari kebun milik Nathaniel.
Di sanalah para karyawannya bermain bola lalu mendirikan klub First Vienna FC. Selanjutnya, selama beberapa dekade berikutnya, klub tersebut mempekerjakan sejumlah pemain berkebangsaan Yahudi, termasuk juga direktur klub. Namun tetapi tidak pernah secara eksplisit diidentifikasi sebagai klub Yahudi.
Sebelum pecah Perang Dunia kedua, orang-orang Yahudi memainkan peran penting dalam sepak bola Eropa. Selain menjadi pemain, mereka pun menduduki berbagai pos penting dalam klub sepak bola seperti pelatih, administrator, dan pelindung. Tentu saja, sebagai supporter.
Setelah perang usai, dengan lenyapnya dua pertiga populasi Yahudi di Eropa akibat pembantaian oleh Nazi, jumlah orang Yahudi yang terlibat dalam sepak bola menyusut. Namun pada periode berikutnya, orang-orang Yahudi kian lekat dengan sepak bola.
“Ada banyak sekali keterlibatan Yahudi di luar lapangan,” kata Anthony Clavane, sejarawan di Universitas Essex dan penulis buku tentang sejarah sepak bola Yahudi Inggris, “Does Your Rabbi Know You're Here?” yang terbit pada 2013.
Mereka – tidak hanya menjadi pendukung klub tapi juga masuk dalam kelompok penting dalam bisnis olahraga ini. Satu tonggak penting adalah terlibatnya beberapa pengusaha Yahudi membantu merevolusi sepak bola Inggris.
Menyusul dengan citra buruk sepak bola Inggris, pada dekade 1980-an, terutama akibat kualitas yang buruk dan munculnya kekerasan antar penggemar. Sebuah rencana besar pun diusung.
Pebisnis seperti David Dein, Alan Sugar, Alex Fynn, dan Irving Scholar mempunyai misi untuk menghidupkan kembali olahraga ini. Mereka merancang Liga Premier, sebuah kompetisi papan atas baru untuk sepak bola Inggris.
Pada 1992, liga baru itu bergulir. Tak perlu menunggu waktu lama, liga ini menjelma menjadi produk olahraga paling menguntungkan. Hak siarnya laku di berbagai negara.
Hampir bersamaan dengan itu, jumlah kalangan Yahudi yang menjadi pendukung klub pun membludak. Pada pertengahan tahun 1990-an, menurut penelitian yang dilakukan Institute for Jewish Policy Research, jumlah mereka dua kali lebih besar.
Sejak itu pula, orang-orang Yahudi masuk ke dalam bisnis ini. Tujuh klub Liga Premier – termasuk beberapa klub paling sukses, seperti Chelsea, Tottenham dan Manchester United – dimiliki oleh orang Yahudi.
Walhasil, orang-orang Yahudi terlibat di hampir semua tingkatan sepak bola Inggris : mulai dari pemilik hingga agen terkemuka, komentator hingga administrator. Sejak saat itu, ada dua orang Yahudi yang menjadi ketua The Football Association, badan sepak bola Inggris.
“Ini mewakili fakta bahwa komunitas tidak hanya merasa diterima, tapi juga berinvestasi dalam sepak bola,” kata Clavane. “Itu diinvestasikan secara emosional dan finansial. Seolah-olah latar belakang Yahudi Anda ditentukan oleh sepak bola.”
Membungkam Kebebasan Bersuara
Pada akhirnya, meski di lapangan tidak pernah membuat prestasi besar, keberadaan sepak bola Israel terbilang tidak bisa dianggap sepi. Federasi Sepak Bola Israel pun marah besar ketika Federasi Sepak Bola Inggris (FA) membatalkan rencana untuk memasang bendera Israel dalam laga persahabatan Inggris melawan Australia, 14 Oktober silam.
Sebelumnya, pihak FA mengabarkan akan menyorotkan lampu untuk membentuk bendera Israel sebagai bentuk simpati pada korban di pihak Israel akibat serangan Hamas, 7 Oktober silam.
Mereka juga pernah melakukan hal serupa ketika Rusia menginvasi Ukraina. Bendera Ukraina dikibarkan di seluruh Wembley di final Piala Liga 2022 menyusul invasi Rusia ke negara tersebut. Jauh sebelum itu, pada 2015. Lengkungan di stadion itu, juga diterangi dengan bendera Prancis ketika serangan teror terjadi di Paris.
Kali ini FA menganggap bila hal dilakukan mereka khawatir dianggap dalam konflik tersebut. Sebagai gantinya, FA hanya memberi momen mengheningkan cipta dan ban kapten hitam demi menghormati para korban tewas dalam konflik Hamas dan Israel. Tentu tak memuaskan Federasi Sepak Bola Israel.
Namun perubahan sikap ini tidak lantas menjadi pertanda mereka benar-benar netral. Tak lama setelah ramai kasus El Ghazi muncul, pihak FA dikabarkan akan segera melakukan kordinasi dengan pihak kepolisian andai saja kasus serupa muncul di Liga Inggris. Sanksi putus kontrak atau skors pemain bisa saja terjadi.
Kebebasan ekspresi para pemain pun terancam. Namun hal itu tak lantas akan membungkam mereka. Jauh sebelum invasi kali ini, banyak pemain sepak bola yang menyatakan ketidaksetujuan dengan langkah-langkah Israel dalam beberapa peristiwa serupa.
Pemain seperti Mesut Oezil, Riyad Mahrez, Paul Pogba, Sadio Mane, dan Kareem Benzema menyuarakan keprihatinannya. Mereka yang berang dengan sikap Israel terhadap Palestina tak lantas hilang. Bahkan mereka jauh lebih berani. Sekali pun mereka mungkin harus kehilangan pekerjannya.
Persis seperti yang dikatakan El Ghazi setelah pemecatannya itu. Melalui X (dahulu Twitter), dia pun menulis “Hilangnya pekerjaan tidak ada artinya jika dibandingkan dengan penderitaan yang menimpa orang-orang yang tidak bersalah dan rentan di Gaza #stopthekilling”.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Muhammad Zunus


