Dark
Light
Dark
Light

Di Belantara Puing Gedung, Mereka pun Bersalto

Di Belantara Puing Gedung, Mereka pun Bersalto

Kakinya lincah berjalan di antara puing-puing reruntuhan bangunan. Matanya menyapu tempat yang cukup baginya untuk unjuk kemampuan. Konsentrasi sebentar disusul menghela napas, dia pun beraksi. Hup, dia melakukan salto.

Tubuhnya yang lentur itu pun segera membuat gerakan yang tiada semua orang bisa melakukannya, split. Senyumnya pun terlihat dari gerai rambut pirangnya yang panjang. Seketika dia pun berada dalam posisi semula, tubuhnya kembali tegak.

Anak itu berusia 11 tahun. Namanya, Wassim Naqqar. Tahun lalu, tepatnya sebelum Israel menghamburkan bom ke Gaza, dia meraih juara pertama dalam kompetisi senam. Kini, di bawah ancaman bom dan peluru, dia kerap berlatih.

Namun tak ada pendingin udara serperti di gym. Atau cermin besar yang biasa dipakainya untuk memantau semua gerakannya. Yang ada hanya puing-puing reruntuhan bangunan, debu yang beterbangan, dan juga sengatan panas matahari.

Wassim harus tetap berlatih. Dia tak ingin kelenturan tubuhnya menjadi hilang gara-gara terjangan bom Israel. Apa pun terus dilakukannya. “Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengalahkan saya,” katanya sambil tersenyum.

Senam – keahlian yang hebat di antara olahraga lain yang digelutinya yaitu yoga dan parkour, adalah hidup Wassim. Mimpi besarnya adalah menjadi juara di negerinya lalu dia bisa berkeliling ke negara-negara Timur Tengah, Kanada, dan India untuk mengikuti kompetisi senam.  

Namun setelah Israel menyemburkan bom, impiannya itu hancur. Palestine Club – tempatnya berlatih, di Sheikh Redwan, tak luput dari keganasan tentara Israel. Tempat itu hancur lebur.

Tak hanya sarana olahraga yang hancur. Bom Israel yang telah merengut 41.000 orang -- di antaranya adalah 300 atlet, wasit, pelatih, dan pekerja lain di bidang olahraga. Demikian yang dilaporkan Direktur Teknis Komite Olimpiade Palestina kepada The Associated Press pada Juli 2024.

Bagi Wassim, serangan itu juga merenggut hampir semua yang dimilikinya. "Serbuan Israel menghancurkan segalanya," katanya. "Kemana kami bisa pergi? Tidak ada lagi tempat yang aman bagi kami untuk pergi."

Bom itu menghancurkan rumah, sanggar senam, bahkan juga menewaskan kakak, adik, paman, dan sepupunya. “Padahal kakak lelakiku adalah pendukung terbesar dalam menekuni senam,” katanya dengan sedih.

Dia juga nyaris kehilangan ayahnya, Hab Al-Din Naqqar – yang juga mentor Wassim sejak memulai latihan senam pada usia 4 tahun. Saat kampung halamannya diserbu bom Israel, April lalu, mereka meninggalkan Gaza menuju Rafah. Namun, dua bulan tinggal di kamp pengungsian, tentara Israel menangkap Hab Al-Din Naqqar dan menahannya selama tiga bulan.

Selama ayahnya ditahan, Wassim pun tak pernah berlatih senam. Dia hanya menghabiskan waktu di pengungsian dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Apa sebab ayahnya ditangkap dan ditahan? Apakah dia masih layak berharap bisa bertemu lagi dengan ayahnya?

"Perasaan itu, benar-benar menyiksaku," kata Wassim. "Saya tidak bisa melihat Ayah dibawa di depan saya."  

Tak ada yang tahu sebab penahanan itu. CBC News, media online Kanada, yang menghubungi IDF  pada akhir September lalu, untuk mencari tahu tentang penangkapan itu, tak memberikan informasi yang jelas. Mereka tutup mulut.  

Tiga bulan berlalu, Hab Al-Din dibebaskan. Dia pun bisa bertemu lagi dengan anaknya yang kemudian pindah ke Khan Younis. Namun, sejak kedatangannya, dia melihat perubahan dari Wassim – yang disebutnya jadi pemurung.

Namun dia tahu solusinya. Dia mengajaknya kembali berlatih senam yang menjadi kesukaannya, sekaligus obsesinya. "Saya melatih Wassim dan mencoba memberinya energi lagi," kata Hab Al-Din Naqqar. "Kami memberinya harapan dan vitalitas."

Benar saja, seperti tersengat aliran listrik, gairah hidupnya kembali menyala. Meski hanya berlatih di tempat-tempat yang tidak biasa — di atas bangunan yang roboh, di kamp-kamp tenda pengungsi, dan terkadang di atas pasir di tepi laut, Wassim selalu bersemangat. Dia tak pernah kehilangan tenaga untuk jumpalitan.

Baginya, tempat-tempat yang tak wajar itu tak ubahnya seperti di gimnasium. Tubuhnya yang sempat istirahat selama tiga bulan, kembali terlihat lentur.  Dia pun bersemangat untuk berlarian dan melompat di antara puing-puing bangunan runtuh layaknya bintang parkour.

Semangat itu pula yang coba ditularkan ayah dan anak ini kepada anak-anak lainnya di kamp pengungsian. Sebanyak 60 anak tertarik untuk berlatih bersama mereka. Menurut Hab Al-Din Naqqar, berlatih parkour tak lain merupakan cara untuk membantu agar tubuh anak-anak itu tetap bergerak selama perang.

"Saat ini, kalau tidak terbunuh kami mungkin terluka. Jika tidak terluka, bisa jadi menderita anemia akibat kekurangan gizi," kata Hab Al-Din Naqqar. "Sekitar 90 persen orang di sini telah kehilangan kebugaran fisik mereka."

Wassim tentu senang melihat antusiasme anak-anak kamp pengungsi itu. Dengan bergerak dan terus berlatih, dia mendapatkan kembali momen-momen kegembiraan.

Satu harapannya, keadaan bisa segera kembali normal. "Insya Allah, sehingga saya dapat bepergian dan mewakili Palestina di seluruh dunia serta mewujudkan impian kakak dan keluarga saya," katanya.

Masa depan memang belum jelas. Namun, Wassim terus melakukan split di atas reruntuhan  gedung, salto, berlarian dan melompat. Harapannya, keadaan kembali membaik suatu hari nanti sehingga dia bisa mengikuti kompetisi di luar negeri mewakili negerinya, Palestina.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo