Dark
Light
Dark
Light

Tokoh Sufi Ini Rela Mempermalukan Diri Sendiri demi Bisa Merawat Ibunya

Tokoh Sufi Ini Rela Mempermalukan Diri Sendiri demi Bisa Merawat Ibunya

Merawat kedua orang tua, apalagi ketika sudah berusia senja, merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap anak. Jerih payah dan perjuangan kedua orang tua dalam menjaga, merawat, dan membesarkan anak tidak akan bisa terbalas dengan apapun. Untuk itu Allah berfirman dalam Surat Al-Isra ayat ayat 23:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."

Berkaitan dengan merawat orang tua, ulama sufi terkemuka, Syekh Abu Yazid Al-Busthami pernah mempermalukan diri sendiri demi bisa menemui dan merawat ibunya yang sudah lanjut usia. Kisahnya ini diungkap oleh Fariduddin ‘At-Thar dalam kitab Tadzkiratul Auliya, (Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hal 186).

Dikisahkan, usai Abu Yazid berziarah ke Makam Rasulullah, ia mendapat sebuah perintah agar segera pulang ke Bustham untuk menemui dan merawat ibunya. Tidak menunggu lama, Abu Yazid pun segera berangkat menuju Bustham bersama sejumlah jamaahnya.

Berita kepulangan Abu Yazid menjadi viral di kalangan masyarakat Bustham, mereka pun bersiap untuk menyambut kedatangan ulama besar yang berasal dari negerinya. Tentu saja, hal ini akan membuat Abu Yazid sibuk melayani mereka sehingga bisa menghambat kewajiban dalam merawat ibunya.

Benar saja, saat tiba di Bustham, sudah banyak masyarakat yang menunggunya. Abu Yazid tidak bangga dengan antusias masyarakat, ia justru malah mempermalukan diri sendiri agar mereka tidak memberikan penghormatan berlebih dan ia pun bisa leluasa menemui ibunya.

Untuk itu Abu Yazid mengeluarkan sepotong roti dan memakannya dengan tenang. Masyarakat pun kemudian mulai berpaling dari Abu Yazid karena kebetulan saat itu adalah bulan Ramadhan. Mereka menganggap Abu Yazid tidak layak dijadikan panutan karena tidak berpuasa.

“Kalian lihat mereka, aku sedang melaksanakan rukhsah puasa karena perjalanan jauh tapi mereka malah berpaling dariku,” ucap Abu Yazid kepada jamaahnya.

Selanjutnya, Abu Yazid dengan sabar menunggu malam tiba. Di tengah malam, ia mulai melangkah menuju rumah ibunya. Ketika sudah sampai, ia tidak langsung masuk melainkan berdiri cukup lama dan mendengarkan suara ibunya yang sedang berwudhu dan akan shalat. Saat itu, Abu Yazid mendengar rintihan doa ibunya.

“Ya Allah, periharalah dia yang terbuang, baguskanlah perilakunya, tanamkanlah kebaikan hati para guru kepadanya," ucap ibunya berdoa memohon kepada Allah.

Abu Yazid pun menangis mendengar doa ibunya tersebut. Ia pun mengetuk pintu karena tidak tahan lagi ingin segera bersimpuh pada ibunya.

“Siapa itu?” tanya ibunya mendengar suara ketukan pintu. 

“Orang yang terbuang,” jawab Abu Yazid.

Sambil menangis tersedu, sang ibu pun berjalan menuju pintu dengan perlahan untuk menyambut kedatangan anaknya yang selama ini sangat ia rindukan.

“Wahai Thaifur,” ucap sang ibu pada Abu Yazid.

“Penglihatanku telah kabur karena banyak menangis akibat berpisah denganmu dan punggungku pun telah bungkuk akibat menanggung beban itu. Alhamdulillah saat ini Allah telah memberikan anugerah-Nya sehingga aku bisa bertemu denganmu,” ungkap ibunya mencurahkan rasa rindu pada Abu Yazid.

Akhirnya Abu Yazid pun bisa melaksanakan perintah untuk menjaga dan merawat ibunya yang telah menelan pahitnya perpisahan cukup lama.

Kisah ini memberikan gambaran tentang pentingnya menjaga dan merawat orang tua, terlebih kepada ibu. Kesuksesan seseorang sulit terwujud jika tidak ada dukungan doa dan ridla dari orang tua. Untuk itu, umat Islam diperintahkan untuk menyayangi dan merawat orang tua. Perintah ini turun karena secara alamiah manusia cenderung enggan untuk merawat orang tua. Hal ini berbeda kepada anak, setiap orang tua secara otomatis akan menyayangi, menjaga, dan merawat anaknya. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo