Arina.id - Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Sebab, pada peristiwa ini umat Muslim mendapat perintah shalat lima waktu, ibadah pokok yang juga menjadi salah satu rukun Islam. Umat Muslim meyakini malam peristiwa ini sebagai momen sakral yang memiliki kemuliaan sangat tinggi. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat terkait tempat Nabi Muhammad memulai Isra, perjalanan spiritual dari Masjidi Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem.
Setidaknya ada empat lokasi yang diperdebatkan ulama, yaitu di Al-Hatim, rumah Nabi sendiri, Syi’ib Abi Thalib, dan rumah Ummu Hani. Berikut penulis jelaskan landasan argumen masing-masing. Perbedaan pendapat ini disampaikan oleh sejumlah ulama seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Muhammad bin Yusuf asy-Syami dalam Subulul Huda war Rasyad, dan Imam Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib al-Ladduniyah.
Hijr Ismail
Pendapat pertama mengatakan Nabi Muhammad memulai perjalanan Isra dari Al-Hatim atau Hijr Ismail. Landasan argumennya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Malik bin Sha'sha'ah berikut:
عن مالك بن صعصعة رضي الله عنهما أن نبي الله صلى الله عليه وسلم حدثهم عن ليلة أسري به بينما أنا في الحطيم وربما قال في الحجر مضطجعا إذ أتاني آت فقد قال وسمعته يقول فشق ما بين هذه إلى هذه فقلت للجارود وهو إلى جنبي ما يعني به قال من ثغرة نحره إلى شعرته وسمعته يقول من قصه إلى شعرته فاستخرج قلبي ثم أتيت بطست من ذهب مملوءة إيمانا فغسل قلبي ثم حشي ثم أعيد ثم أتيت بدابة دون البغل وفوق الحمار أبيض... (رواه البخاري)
Artinya, “Dari Malik bin Sha'sha'ah RA, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ menceritakan kepada kami tentang malam di mana beliau di-Isrā’kan. Beliau mengatakan: 'Saat aku sedang berbaring di al-Ḥaṭīm' ─dan mungkin beliau juga mengatakan 'di al-Ḥijr─ tiba-tiba datang seseorang kepadaku. Beliau berkata: 'Dibelah antara bagian ini dan bagian ini.' Aku bertanya kepada al-Jarūd yang ada di sampingku, 'Apa maksudnya?' Beliau menjawab: 'Dari tempat celah tenggorokan sampai ke bagian rambutnya.'
Aku mendengarnya berkata: 'Dari bagian leher sampai rambutnya.' Kemudian, hatiku diambil dan dibawa ke sebuah baskom emas yang penuh dengan iman. Hatiku dicuci, kemudian diisi kembali, lalu diletakkan kembali di tempatnya. Kemudian aku dibawa dengan sebuah kendaraan yang lebih kecil dari keledai namun lebih besar dari keledai putih...'” (HR Bukhari)
Diketahui, Al-Hatim adalah area setengah lingkaran yang terletak di sisi utara Ka'bah. Pada zaman Nabi Muhammad, lokasi ini dianggap sebagai bagian dari Ka'bah, tetapi karena keterbatasan pembangunan pada zaman sebelumnya, area ini tidak dapat dimasukkan dalam Ka'bah secara fisik. Meskipun begitu, area ini masih dianggap sebagai bagian dari Ka'bah secara spiritual.
Area ini juga disebut sebagai tempat yang penuh berkah, sebab doa-doa yang dipanjatkan di sana dianggap sangat mustajab (terkabul). Terkadang lokasi ini disebut juga Al-Hijr atau Hijr Ismail.
Rumah Sendiri
Pendapat kedua menyebutkan Rasulullah memulai Isra dari rumah sendiri. Dasar argumennya adalah hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : كَانَ أَبُو ذَرٍّ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فُرِجَ عَنْ سَقْفِ بَيْتِي وَأَنَا بِمَكَّةَ ، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَفَرَجَ صَدْرِي ، ثُمَّ غَسَلَهُ بِمَاءِ زَمْزَمَ ، ثُمَّ جَاءَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مُمْتَلِئٍ حِكْمَةً وَإِيمَانًا ، فَأَفْرَغَهُ فِي صَدْرِي ، ثُمَّ أَطْبَقَهُ ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي ، فَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ، فَلَمَّا جِئْتُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا... (رواه البخاري)
Artinya, “Dari Anas bin Mālik, beliau berkata: "Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Atap rumahku dibuka saat aku berada di Makkah, lalu Jibril datang, membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air Zamzam, kemudian membawa baskom dari emas yang penuh dengan hikmah dan iman, dituangkan ke dalam dadaku, kemudian ditutup. Lalu, beliau memegang tanganku dan mengangkatku ke langit dunia. Ketika aku sampai di langit dunia...'” (HR Bukhari)
Dalam hadits tersebut secara jelas disebutkan bahwa pada malam peristiwa Isra, atap rumah Nabi Muhammad terbuka. Lalu Jibril turun menemuinya dan membersihkan hatinya dengan cara membedah dadanya, kemudian mencucinya dengan air zamzam yang berada di wadah emas.
Syi’ib Abi Thalib
Pendapat kedua mengatakan bahwa Nabi Muhammad memulai Isra dari Syi’ib Abi Thalib. Hal ini berdasarkan riwayat Qatadah sebagaimana dikutip oleh As-Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur berikut:
وأخرج ابن أبي حاتم عن قتادة في قوله : سبحان الذي أسرى بعبده ليلا . قال : أسري به من شعب أبي طالب.
Artinya, “Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan dari Qatādah dalam penafsiran ayat: "Maha Suci Allah yang telah meng-Isrā’kan hamba-Nya di malam hari," beliau berkata: "Beliau di-Isrā’kan dari Syi‘b Abī Ṭālib." (As-Suyuthi, 2015: juz 4, h. 288)
Diketahui, Syi'ib Abi Thalib adalah sebuah lembah atau wilayah yang terletak di Makkah. Tempat ini adalah saksi sejarah penting sebab merupakan tempat yang menjadi lokasi persembunyian keluarga Nabi Muhammad, terutama setelah mereka mengalami pemboikotan sosial dan ekonomi oleh kaum Quraisy. Pemboikotan ini dimulai sekitar tahun 7-10 tahun setelah kenabian, ketika kaum Quraisy memutuskan untuk memisahkan Nabi dan pengikutnya dari masyarakat Makkah. Kisah pemboikotan ini cukup populer dalam sejumlah riwayat dan kitab-kitab sejarah Islam.
Rumah Ummu Hani
Pendapat keempat mengatakan bahwa Nabi Muhammad memulai Isra dari rumah Ummu Hani. Hal ini berdasarkan riwayat yang Imam ath-Thabrani sebagaimana dikutip oleh Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib al-Ladduniyah berikut:
وفي حديث أم هانئ عند الطبراني أنه «بات في بيتها» ، قالت : ففقدته من الليل فقال : إن جبريل أتاني.
Artinya, “Dalam riwayat dari Umm Hāni’ yang diriwayatkan oleh al-Ṭabarānī, beliau berkata: "Nabi ﷺ bermalam di rumahku. Aku tidak menemukannya pada malam itu, lalu beliau berkata: 'Jibril datang kepadaku.'" (Al-Qasthalani, 2004: juz 3, h. 23)
Diketahui, Ummu Hani adalah sepupu Nabi Muhammad. Ia adalah saudara perempuan dari Ali bin Abi Thalib. Ali sendiri merupakan menantu Rasulullah karena menjadi suami salah satu putrinya, Siti Fatimah. Nama asli Ummu Hani adalah Hindun binti Abi Talib.
Harmonisasi Pendapat Ibnu Hajar
Menyikapi perbedaan pendapat ini, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengambil kesimpulan bahwa meskipun sejumlah riwayat tersebut meyebutkan tempat yang berbeda terkait lokasi Nabi Muhammad memulai Isra, akan tetapi jika ditelaah lebih cermat sebenarnya tidak ada perbedaan sama sekali.
Ibnu Hajar memberikan solusi komprehensif dengan menyebutkan kemungkinan Nabi Muhammad memang bermalam di rumah Ummu Hani yang secara kebetulan lokasinya berada di dekat Syi‘ib Abi Thalib. Atap rumah tersebut terbelah, dan Nabi dibawa ke Masjidil Haram oleh Malaikat Jibril. Dari masjid, beliau dinaikkan ke atas Buraq. Boleh jadi penyebutan “rumahku” sebagaimana disinggung dalam riwayat Anas bin Malik karena Nabi sudah menganggap rumah Ummu Hani sebagai rumah sendiri. (Ibnu Hajar: 2001, Juz 7, h. 243)
Sebagai penutup, penting ditegaskan bahwa para ulama sering menyederhanakan penyebutan Masjidil Haram untuk menyebut lokasi awal Nabi melakukan Isra. Sebab, pada waktu itu Masjidil Haram mencakup area yang lebih luas, termasuk rumah-rumah di sekitarnya. Oleh karena itu dalam surat Al-Isra ayat 1 disebutkan Nabi melakukan Isra dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


