Arina.id - Ahad malam pada 7 September 2025 bertepatan dengan 14 Rabi’ul Awal 1447 H, diperkirakan akan terjadi gerhana bulan total. Gerhana ini terjadi pada pukul 23.27 WIB dengan fase awal total pukul 00.31 WIB, puncak gerhana pukul 01.11 WIB, dan berkahir pada pukul 00.31 WIB.
Gerhana bulan bagi umat Islam tidak hanya sekedar sebuah fenomena alam, tetapi merupakan sebuah tanda bukti dari sekian tanda bukti kebesaran Allah SWT. Gerhana juga merupakan sebuah fenomena yang dalam Islam memiliki amalan peribadatan tersendiri.
Terdapat beberapa hadits dalam Sahih Bukhari yang menyebutkan beberapa amalan Rasulullah ketika sedang terjadi gerhana, baik gerhana matahari atau gerhana bulan.
1. Sholat Gerhana Berjamaah
Tradisi peribadatan umat Islam ketika momentum gerhana yang paling sering dilakukan adalah sholat gerhana secara berjamaah. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah dalam Sahih Bukhari no. 993 sebagai berikut:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا، حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
Artinya: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena meninggalnya seseorang. Ketika kalian melihat gerhana maka sholatlah, dan berdoalah hingga cahaya kembali terang."
Rasulullah juga memperpanjang sujudnya ketika sedang sholat gerhana, sebagaimana riwayat Abdullah bin Umar dari Aisyah yang menceritakan sujud Nabi ketika sholat gerhana matahari berjamaah dalam Hadits Imam Bukhari no. 1003 berikut:
قَالَ: وَقَالَتْ عَائِشَةُ رضي الله عنها: مَا سَجَدْتُ سُجُودًا قَطُّ كَانَ أَطْوَلَ مِنْهَا
Artinya: "Ibnu Umar berkata, Aisyah berkata, aku sama sekali tidak pernah sujud selama ini."
2. Berkhutbah Setelah Sholat Berjamaah
Membacakan khutbah gerhana setelah sholat gerhana berjamaah adalah kesunahan tersendiri selain sholat gerhana. Asma meriwayatkan hadits dalam Sahih Bukhari no. 1012 sebagai berikut:
فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ فَحَمِدَ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: (أَمَّا بَعْدُ)
Artinya: "Rasulullah berpindah dari tempat sholatnya, sedangkan cahaya matahari telah muncul kembali, kemudian beliau berkhutbah, dan memuji Allah dengan pujian-pujian yang layak, lalu mengatakan “Amma Ba’du”.
3. Memperbanyak Dzikir, Doa, dan Istighfar
Peristiwa gerhana seharusnya menjadi momentum interospeksi diri seorang Muslim dan kesempatan untuk memperbanyak dzikir, doa, dan permohonan ampunan kepada Allah. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa dalam Sahih Bukhari no. 1010 berikut:
هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ، لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِا عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
Artinya: "Rasulullah bersabda: “tanda bukti kebesaran Allah ini yang telah Allah tunjukkan kepada kita bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Akan tetapi, Allah memperingatkan kepada hamba-hamba-Nya. Ketika kalian melihatnya, maka bersiaplah untuk berdzikir, kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan beristighfar kepada-Nya."
4. Bersedekah
Rasulullah juga menganjurkan untuk bersedekah ketika momentum gerhana, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dalam Sahih Bukhari no. 997 berikut:
ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنخسفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا)
Artinya: "Kemudian Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda bukti kebesaran Allah SWT. dari sekian tanda buktinya. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Oleh karena itu, ketika kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada-Nya, bertakbirlah kepada-Nya, dan laksanakan sholat, serta bersedekah.”
Selain bersedekah, Rasulullah juga memerintahkan untuk memerdekakan budak ketika momentum gerhana, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Asma dala Sahih Bukhari no. 1006 berikut:
لَقَدْ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالْعَتَاقَةِ فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ.
Artinya: "Sungguh Rasulullah telah memerintahkan untuk memerdekakan budak ketika gerhana matahari."
5. Berlindung dari Siksa Kubur
Rasulullah juga memerintahkan untuk berdoa kepada Allah, meminta perlindungan dari siksa kubur ketika selesai melaksanakan sholat gerhana. Sebagaimana hadits Aisyah yang menceritakan khutbah Rasulullah setelah selesai sholat gerhana matahari dalam Sahih Bukhari no. 1002 berikut:
وَانْصَرَفَ، فَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ أَمَرَهُمْ أَنْ يَتَعَوَّذُوا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Artinya: "Kemudian Rasulullah berpindah dari tempat sholatnya, dan bersabda segala yang dikehendaki Allah untuk disabdakan, kemudian beliau memerintahkan mereka (para jamaah) untuk meminta perlindungan dari siksa kubur." Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


