Arina.id - Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan individualistik ini, kisah pengorbanan dan empati seringkali terdengar asing. Kita sibuk mengejar kenyamanan pribadi, lupa bahwa ada hikmah dan nilai-nilai luhur yang pernah dicontohkan generasi terbaik umat ini. Salah satunya adalah kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang rela menahan lapar dan tidak makan selama tiga hari demi memberi makan pada fakir miskin, karena mereka adalah orang-orang yang lebih membutuhkan.
Kisah penuh teladan ini disampaikan oleh banyak sumber, di antaranya oleh Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib. Kata Ar-Razi, kisah ini menjadi asbabun nuzul bagi ayat Al-Qur’an berikut:
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ٨ اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا ٩
Artinya, “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan: 8-9)
Dalam riwayat Ibnu Abbas, diceritakan bahwa Hasan dan Husain (dua cucu Nabi Muhammad saw) sedang jatuh sakit. Ali, Fatimah, dan pembantu mereka bernama Fiddah bernazar berpuasa tiga hari jika Allah menyembuhkan kedua anak tersebut. Inilah awal mula ujian keikhlasan mereka.
Setelah Hasan dan Husain sembuh, mereka menunaikan nazar itu. Namun, karena tidak memiliki makanan, Ali meminjam gandum dari seorang Yahudi bernama Syam’un. Fatimah membuat roti dari gandum itu dan mereka bersiap berbuka. Tapi saat makanan disajikan, datang seorang miskin yang memohon makanan. Tanpa ragu, makanan itu diberikan. Mereka hanya berbuka dengan air putih malam itu.
Keesokan harinya, hal serupa terjadi. Ketika waktu berbuka tiba, datang seorang anak yatim meminta makanan. Kembali, Ali dan keluarganya menyerahkan makanan itu dan berpuasa lagi hanya dengan air. Pada hari ketiga, seorang tawanan perang datang meminta makan. Sekali lagi, keluarga ini lebih memilih memberi daripada menikmati makanan halal yang mereka usahakan sendiri.
Dalam kondisi yang sangat lapar dan lemah, Ali membawa kedua putranya ke hadapan Nabi. Tubuh Hasan dan Husain gemetar seperti anak burung karena tiga hari tanpa makanan. Melihat kondisi itu, Nabi sangat tersentuh. Ia kemudian menemui Fatimah yang sedang beribadah. Beliau mendapati putrinya itu dalam keadaan sangat kurus dan lemah. Saking kurusnya, dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa perutnya menempel ke punggung.
Duka Nabi semakin dalam. Saat itu, malaikat Jibril datang dan membacakan ayat-ayat dari Surat Al-Insan. Ayat-ayat tersebut secara gamblang menggambarkan kejadian yang baru saja dialami keluarga Ali. Allah menyanjung mereka sebagai orang-orang yang memberi makan dengan ikhlas semata-mata karena mengharap ridha-Nya. Mereka berkata, “Kami memberi kalian makan hanya karena Allah, kami tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih.” (Ar-Razi, 1981: juz 30, h. 243-244)
***
Dari kisah ini, kita belajar bahwa keikhlasan bukan sekadar memberi, tapi memberi tanpa berharap imbalan duniawi. Dalam kondisi yang sangat membutuhkan, mereka justru memberikan kepada orang lain. Ini bukan tindakan emosional yang spontan, tapi cerminan kedalaman iman dan keteguhan jiwa. Ali dan keluarganya tidak berperilaku demikian karena ingin dipuji, tapi karena Allah lebih mereka cintai daripada roti yang ada di hadapan mereka.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa kepedulian sosial adalah bagian dari ibadah. Memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang bukan hanya soal kemanusiaan, tapi juga bentuk nyata dari ketakwaan. Dalam keadaan lapar pun, mereka tidak kehilangan rasa kemanusiaan. Bahkan dalam ujian terberat (saat kita bisa saja berdalih untuk mendahulukan diri sendiri), Ali justru menanamkan nilai “mendahulukan orang lain yang lebih membutuhkan.”
Apa yang dilakukan keluarga ini adalah bentuk konkret dari ayat Al-Qur'an: “Mereka mendahulukan orang lain walau mereka sendiri sangat membutuhkan.” (QS. Al-Hasyr: 9). Dalam dunia yang sering menormalisasi egoisme dan kompetisi, kisah ini bagaikan oase. Ia mengajarkan bahwa kebaikan sejati lahir dari kesediaan berkorban, bukan dari kelimpahan. Keberkahan bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa banyak yang dibagikan.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa kasih sayang dalam Islam tidak mengenal batas. Orang yang diberi makan bukan hanya kaum Muslimin, tapi juga tawanan perang (non-Muslim). Ini pesan besar bahwa Islam mengajarkan kebaikan tidak pandang bulu. Ali tidak bertanya latar belakang sang tawanan, ia hanya tahu bahwa ada mulut lapar yang harus diberi makan. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana Islam mendidik umatnya untuk mencintai tanpa syarat.
Akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang keluarga Ali bin Abi Thalib, tapi tentang kita semua. Tentang bagaimana seharusnya kita memaknai hidup, mengelola empati, dan mendidik jiwa. Saat dunia semakin kering dari ketulusan, kisah ini adalah oase keteladanan. Mari meneladani Ali, Fatimah, dan keluarganya. Bukan hanya sebagai kisah masa lalu, tapi sebagai pedoman hidup hari ini.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


