Saat ini kita sedang berada bulan Rabiul Awal, bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pasalnya, bulan ini menjadi saksi kelahiran sosok yang sangat agung dan mulia, Nabi Muhammad SAW. Ia adalah utusan Allah yang membawa rahmat bagi seluruh alam, baik Muslim maupun non-Muslim. Kehadiran Nabi Muhammad tidak hanya mengubah sejarah umat manusia, tetapi juga menginspirasi jutaan hati di seluruh dunia.
Sejatinya, banyak tokoh dan sejarawan yang memberikan kesaksian tentang kebesaran Nabi Muhammad dan kemuliaan perilakunya. Mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang penuh dengan integritas, kebaikan hati, dan kepemimpinan yang luar biasa. Tak hanya dihormati oleh umat Islam, tapi juga oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang yang mengagumi akhlak dan kontribusinya bagi peradaban manusia.
Nabi Muhammad adalah sosok yang tidak hanya dipuji karena ajarannya, tetapi juga karena akhlak mulianya yang tak terlukiskan. Menurut Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum, halaman 440, kesempurnaan akhlak Nabi begitu luar biasa sehingga kata-kata pun tak mampu menggambarkannya.
Rasulullah mampu menyentuh hati setiap orang yang mengenalnya, hingga mereka rela berkorban untuk melindungi dan memuliakan Nabi. Tak ada seorang pun di dunia yang pernah disayangi seperti beliau. Sampai orang-orang bersedia mengorbankan segalanya demi Nabi Muhammad, bahkan jika harus mengorbankan nyawa. Cinta dan hormat itu tumbuh bukan hanya karena ajaran Nabi, tetapi juga karena beliau adalah manusia yang mencapai tingkat kesempurnaan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
Simak penjelasan berikut:
كان النبي صلى الله عليه وسلم يمتاز من كمال خلقه وكمل خلقه بما لا يحيط بوصفه البيان، وكان من أثره أن القلوب فاضت بإجلاله، والرجال تفانوا في حياطته وإكباره، بما لا تعرف الدنيا لرجل غيره، فالذين عاشروه وأحبوه إلى حد الهيام، ولم يبالوا أن تندق أعناقهم ولا يخدش له ظفر، وما أحبوه كذلك إلا لأن أنصبته من الكمال الذي يعشق عادة لم يرزق بمثلها بشر- وفيما يلي نورد ملخص الروايات في بيان جماله وكماله مع اعتراف العجز عن الإحاطة.
Artinya: “Nabi Muhammad memiliki akhlak yang sempurna, dan kesempurnaan akhlaknya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Hal ini menyebabkan hati manusia dipenuhi rasa hormat kepada beliau, dan para pria rela berkorban untuk melindungi dan memuliakan beliau. Hal ini tidak pernah terjadi pada orang lain di dunia. Orang-orang yang pernah mengenal dan mencintai beliau hingga tingkat yang sangat tinggi, dan mereka tidak peduli jika leher mereka patah atau kuku beliau tergores. Mereka mencintai beliau dengan demikian karena beliau telah menerima bagian dari kesempurnaan yang biasanya dicintai manusia, dan tidak ada manusia lain yang pernah mendapatkannya.” (Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, [Beirut; Dar Hilal, 1427 H] halaman 440)
Sementara itu, Karen Armstrong mendeskripsikan sosok Rasulullah dalam buku Muhammad; A Prophet for Our Time, halaman 24 sebagai Nabi Muhammad yang lahir dari klan Hasyim, klan terhormat yang ada di Makkah. Kakek buyutnya adalah seorang pedagang pertama yang memulai perdagangan mandiri dengan rute Suriah dan Yaman. Pada masa itu, Klan Hasyim juga memiliki tugas penting untuk menyediakan air bagi para peziarah selama haji. Namun, di masa kemudian, klan ini mengalami kesulitan.
Ayah Nabi Muhammad, bernama Abdullah, meninggal sebelum kelahirannya. Sementara ibunya, Aminah, hidup dalam kondisi sulit. Nabi Muhammad diasuh oleh seorang wanita dari suku Badui yang miskin dan tinggal bersamanya hingga usia enam tahun. Setelah kembali ke Makkah, ibunya meninggal, meninggalkan dampak yang mendalam pada Muhammad. Inilah yang menjadikan Nabi Muhammad menaruh perhatian besar terhadap nasib anak-anak yatim.
Kendati hidup dalam keadaan yatim dan piatu di Makkah, Muhammad muda dikenal sebagai sosok yang sangat disukai. Ia memiliki penampilan fisik yang menarik dengan tubuh yang kokoh, rambut dan janggut lebat yang keriting, serta ekspresi wajah yang memancarkan pesona. Kepribadiannya tegas dan sepenuh hati dalam menjalani segala tugas yang dilakukannya.
Nabi Muhammad begitu fokus hingga tidak peduli pada hal-hal kecil di sekitarnya, seperti jubahnya yang tersangkut. Muhammad selalu memberikan perhatian penuh ketika berbicara dengan orang lain, dan menanamkan rasa percaya diri kepada orang-orang sekitarnya. Ini yang kemudian menjadikan Nabi Muhammad muda dikenal sebagai "al-Amin", yang berarti "Yang Terpercaya."
Meskipun Muhammad dihormati di kalangan masyarakat Makkah, statusnya sebagai yatim piatu menjadi hambatan dalam hidupnya. Ia pernah mengajukan diri untuk menikahi sepupunya, Fakhitah, namun pamannya, Abu Thalib, menolak secara halus dengan alasan bahwa Muhammad belum mampu mendukung seorang istri secara finansial. Sebagai gantinya, Abu Thalib mengatur pernikahan yang lebih menguntungkan bagi Fakhitah, menempatkan Muhammad dalam posisi yang sulit, meskipun ia tetap dihormati karena sifatnya yang jujur dan dapat diandalkan.
Sementara itu, Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad, halaman 105 menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pribadi yang sangat rendah hati. Meskipun dihormati oleh banyak orang, Nabi tetap bersikap seperti biasa dan tidak menunjukkan sikap sombong. Ketika seseorang mengajak bicara, Nabi selalu mendengarkan dengan seksama, memutar seluruh tubuhnya ke arah orang tersebut sebagai bentuk penghargaan. Pembicaraannya sedikit, tetapi selalu serius dan sungguh-sungguh. Meski begitu, Nabi tetap menyempatkan diri untuk bercanda, namun candaannya selalu didasarkan pada kebenaran.
Selain sifat rendah hatinya, Nabi Muhammad dikenal sangat penyabar. Ketika marah, Nabi tidak pernah menunjukkan kemarahannya secara berlebihan. Hanya keningnya yang terkadang berkeringat sebagai tanda ia menahan emosi. Sifatnya yang lapang dada, baik hati, dan menghargai orang lain membuat beliau mudah bergaul dengan siapa saja. Kepribadiannya yang bijaksana dan murah hati membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman dan dihargai.
Di balik kelembutan sikapnya, Nabi Muhammad juga dikenal sebagai pribadi yang tegas dan memiliki tujuan yang jelas. Beliau tidak pernah ragu-ragu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Kombinasi antara kelembutan, ketegasan, dan ketulusan inilah yang membuat orang-orang yang pertama kali melihatnya merasakan rasa hormat, sementara mereka yang mengenalnya lebih dalam akan tumbuh rasa cinta yang mendalam terhadapnya.
Selanjutnya, Michael H. Hart mengakui Nabi Muhammad sebagai sosok paling berpengaruh dalam sejarah dunia dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Micheal Hart, di bukunya halaman 4 menuliskan bahwa pilihannya untuk menempatkan Muhammad di puncak daftar mungkin mengejutkan atau dipertanyakan oleh sebagian orang. Namun, pilihan itu sudah tepat, sebab Nabi Muhammad adalah satu-satunya tokoh dalam sejarah yang mencapai kesuksesan luar biasa baik dalam bidang agama maupun duniawi.
Nabi Muhammad berasal dari latar belakang yang sederhana. Ia tidak hanya mendirikan dan menyebarkan agama besar dunia, Islam, tetapi juga menjadi pemimpin politik yang sangat efektif. Meskipun telah lebih dari tiga belas abad berlalu sejak kematiannya, pengaruh Nabi Muhammad tetap kuat dan terus meluas hingga saat ini.
Banyak tokoh besar dalam sejarah lahir di pusat-pusat peradaban yang maju, tetapi Muhammad dilahirkan pada tahun 570 di Makkah, sebuah kota di Arab Selatan yang saat itu dianggap terbelakang, jauh dari pusat perdagangan, seni, dan ilmu pengetahuan. Kehidupan Muhammad penuh tantangan, terutama setelah ia menjadi yatim piatu pada usia enam tahun. Namun, kondisi ekonomi Muhammad membaik setelah menikahi seorang janda kaya pada usia dua puluh lima tahun, meskipun pada waktu itu belum ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi tokoh besar.
Nabi Muhammad mulai menerima wahyu dari Allah pada usia empat puluh tahun yang kemudian mengubah hidupnya secara drastis. Setelah tiga tahun berdakwah secara diam-diam, ia mulai menyampaikan pesan Islam secara terbuka pada tahun 613, meskipun mendapat perlawanan dari para penguasa Makkah.
Pada tahun 622, ia melakukan Hijrah ke Madinah yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Di sana, ia menjadi pemimpin politik yang kuat, memimpin umat Muslim dalam serangkaian pertempuran melawan pasukan dari Makkah, hingga akhirnya menaklukkan kota tersebut pada tahun 630. Ketika wafat pada tahun 632, Nabi Muhammad telah menjadi penguasa seluruh Arab Selatan, menyatukan berbagai suku Arab di bawah ajaran Islam.
Editor: Muhammad Faizin


