Arina.id - Hari Asyura yang bertepatan dengan 10 Muharram merupakan salah satu momen istimewa bagi umat Islam. Selain terdapat sejumlah peristiwa penggugah iman, momen Asyura juga menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbanyak amal baik, salah satunya adalah berbagi kepada sesama. Syekh Abu Bakar Syatha dalam I'anatuth Thalibin menyampaikan:
وَمَنْ سَقَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ شَرْبَةَ مَاءٍ، سَقَاهُ ٱللَّهُ يَوْمَ ٱلْعَطَشِ ٱلْأَكْبَرِ كَأْسًا لَا يَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا، وَكَأَنَّمَا لَمْ يَعْصِ ٱللَّهَ طَرْفَةَ عَيْنٍ.
Artinya, "Barangsiapa memberi minum seteguk air pada hari Asyura, maka Allah akan memberinya minum pada hari dahaga terbesar (hari kiamat) dengan secawan yang setelah itu ia takkan merasa haus selamanya, seolah-olah ia tak pernah bermaksiat kepada Allah meski sekejap mata pun." (Abu Bakar, 1997: juz 2, h. 302)
Berkaitan dengan anjuran bersikap dermawan pada hari Asyura ini, Syekh Abu Bakar menyampaikan kisah yang cukup mencengangkan, yaitu seorang non-Muslim yang memeluk Islam karena memberi makan kepada fakir miskin dan mendapat jaminan surga, sementara seorang Muslim yang enggan bersedekah pada hari itu justru mendapat balasan sebaliknya. Mari simak kisahnya.
Kisah ini dimulai dari seseorang yang tak punya apa-apa selain iman dan harapan. Seorang pria miskin bersama keluarganya menjalani puasa Asyura, namun tak memiliki secuil makanan pun untuk berbuka. Ia keluar rumah menuju ke pasar, melangkah dengan tekad untuk mencarikan sesuatu agar anak-anaknya tak tidur dalam keadaan lapar di hari yang penuh berkah itu.
Dengan wajah penuh harap dan tubuh yang letih, ia menyusuri lorong pasar. Di sana, ia melihat seorang pedagang Muslim tengah duduk di tokonya yang megah dan mewah. Di sekelilingnya bertumpuk emas dan perak, barang dagangannya pun serba mahal. Si miskin mendekatinya, memberi salam, lalu berkata pelan, memohon satu dirham saja untuk membeli makanan berbuka bagi anak dan istrinya.
Permintaannya sederhana dan tulus, yaitu satu dirham, disertai janji akan mendoakan sang pedagang di hari Asyura yang penuh kemuliaan. Namun sayangnya, pedagang itu justru memalingkan wajahnya dan tidak memberinya apa-apa. Tak ada senyum, tak ada empati, hanya dingin dan acuh. Si miskin pun pergi dengan langkah berat, hatinya remuk, dan air mata perlahan mengalir di pipinya.
Tak jauh dari situ, seorang tetangganya yang kebetulan seorang non-Muslim melihat kejadian itu. Ia turun dari tokonya, menyusul si miskin, lalu bertanya,
“Apa yang kau bicarakan dengan tetanggaku?” tanya pedagang non-Muslim itu.
Si miskin menjelaskan bahwa ia hanya meminta satu dirham untuk buka puasa, tapi malah ditolak. Ia juga menyebut bahwa hari itu adalah hari Asyura yang istimewa.
“Apa itu hari Asyura?” tanya si non-Muslim yang mulai penasaran.
Maka si miskin pun menjelaskan keutamaan hari itu dalam ajaran Islam. Betapa banyak keutamaan dan rahmat Allah yang turun pada hari tersebut. Mendengar penjelasan itu, tanpa ragu si non-Muslim langsung mengambil sepuluh dirham dari sakunya dan memberikannya kepada si miskin.
“Ambillah ini. Belanjakan untuk keluargamu demi menghormati hari mulia ini.” katanya sambil menyodorkan uang dirham.
Hati si miskin langsung cerah. Ia pulang ke rumah dengan penuh kebahagiaan. Dengan uang itu, ia bisa membelikan makanan yang layak untuk keluarganya. Senyum kembali merekah di wajah anak-anaknya. Malam itu mereka tidur dalam kenyang dan dilingkupi berkah dan syukur yang melimpah. Semua itu berkat kemurahan hati seorang non-Muslim yang tak mengenal Asyura, tapi meresapi maknanya lewat empati.
Sementara itu, pedagang Muslim yang menolak memberi si miskin mengalami malam yang sangat berbeda. Ia bermimpi seolah hari kiamat telah tiba. Ia berada dalam kehausan dan kesusahan yang luar biasa. Dalam kegundahan itu, ia melihat sebuah istana megah dari mutiara putih dan pintu-pintu yakut merah. Ia meminta air kepada penghuni istana, berharap seteguk saja.
Terdengar jawaban dari istana itu;
“Istana ini dulunya milikmu. Tapi karena kau menolak si miskin yang hatinya hancur, namamu dihapus dari tempat ini. Kini, nama itu telah diganti dengan nama tetanggamu (si non-Muslim yang mengobatinya dengan sedekah sepuluh dirham).” Pedagang itu terbangun dengan tubuh gemetar dan hatinya dipenuhi penyesalan yang menyesakkan.
Keesokan harinya, dengan rasa sesal yang membuncah, ia mendatangi si non-Muslim dan berkata,
“Kau adalah tetanggaku, dan aku punya hak atasmu. Aku mohon, juallah pahala sepuluh dirham yang kau berikan kemarin. Akan kubayar seratus dirham sebagai gantinya.”
Namun, si non-Muslim menolaknya tegas.
“Demi Allah, tidak akan kujual walau seratus ribu dinar. Bahkan masuk ke gerbang istana itu pun takkan kuizinkan.”
Sang pedagang Muslim pun terperanjat.
“Siapa yang memberitahumu tentang mimpi itu?” tanyanya.
Dengan tenang, si non-Muslim menjawab,
“Dia yang berkata pada sesuatu "kun fayakun" (jadilah!’ maka jadilah).”
Dan di saat itulah, dengan suara lirih tapi penuh keyakinan, ia mengucap dua kalimat syahadat. Ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. (Abu Bakar, 1997: juz 2, h. 302)
***
Kisah ini begitu menggugah hati. Ia tidak hanya menunjukkan kedahsyatan sedekah dan keutamaan hari Asyura, tapi juga mengajarkan bahwa iman bisa tumbuh dari empati. Seorang non-Muslim yang tak mengenal hari Asyura justru merasakan berkahnya karena hatinya terbuka untuk berbagi. Sementara seorang muslim yang tahu keutamaannya malah mengabaikan peluang untuk berbuat baik.
Sungguh, keimanan tak cukup hanya di mulut. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Memberi, menolong, dan menyayangi. Hari Asyura menjadi saksi bahwa satu perbuatan kecil bisa mengubah nasib dunia dan akhirat. Bagi si miskin, sepuluh dirham itu adalah penyelamat. Bagi si non-Muslim, ia adalah jalan menuju hidayah dan pintu surga yang abadi.
Berapa banyak dari kita yang telah mendengar keutamaan hari Asyura, tapi melewatkannya begitu saja? Berapa banyak kesempatan berbagi yang kita sia-siakan, padahal bisa jadi itu adalah tiket menuju ampunan dan rahmat Allah? Kisah ini adalah teladan yang mengajak kita menilai kembali kepekaan hati kita terhadap penderitaan orang lain.
Jangan tunggu menjadi kaya untuk memberi. Kebaikan bukan soal jumlah, tapi ketulusan. Bahkan satu dirham pun bisa menjadi pembeda antara kemuliaan dan kerugian. Di hari-hari istimewa seperti Asyura, mari buka hati dan tangan. Karena bisa jadi, satu sedekah kecil yang kita anggap remeh, justru menjadi cahaya yang menerangi jalan kita di akhirat kelak.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


