Dark
Light
Dark
Light

3 Etika Membaca Shalawat Nabi di Bulan Sya’ban menurut Imam Nawawi

3 Etika Membaca Shalawat Nabi di Bulan Sya’ban menurut Imam Nawawi

Sya’ban merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Bulan ini memiliki banyak keutamaan dan menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan amal saleh. Salah satu anjuran utama dalam bulan Sya’ban adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. 

Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban menyebutkan bahwa pada bulan ke-8 dalam kalender Hijriah ini turun ayat yang menganjurkan umat Muslim untuk memperbanyak shalawat (Muhammad, 2003: h. 25). Ayat yang dimaksud adalah firman Allah Swt. dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ۝٥٦

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Ayat ini menegaskan pentingnya bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Kata shallu (bershalawatlah kalian) dalam ayat ini berbentuk fi’il amar (kata perintah), yang menunjukkan adanya anjuran bagi seluruh umat Islam untuk memperbanyak shalawat. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi, membaca shalawat juga memiliki berbagai keutamaan, di antaranya mendatangkan keberkahan, menghapus dosa, serta menjadi wasilah agar doa-doa dikabulkan oleh Allah swt.

3 Etika Membaca Shalawat Nabi

Untuk memperoleh pahala lebih maksimal, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjabarkan sejumlah etika dalam bershalawat. Meskipun dengan membaca shalawatnya saja sudah memiliki banyak pahala, akan tetapi akan jauh lebih sempurna jika kita juga memperhatikan sejumlah etikanya. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan hal ini secara khusus dalam bab Kitabus Shifati Shalati ‘alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (An-Nawawi, 1997: juz 1, h. 134-135).

1. Menyertakan Lafaz Salam
Saat membaca shalawat, hendaknya kita menyertainya dengan lafaz salam. Artinya, tidak hanya membaca misalnya  صلّى الله عليه (shallallahu ‘alaihi), tetapi juga harus dilengkapi menjadi صلّى الله عليه وسلم (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Atau, jangan hanya membaca صل وبارك عليه (shalli wa barik ‘alaih), tapi dilengkapi menjadi صل وسلم بارك عليه (shalli wa sallim wa barik ‘alaih). 

Imam An-Nawawi menjelaskan:

إذا صلَّى على النبيّ صلى الله عليه وسلم فليجمعْ بين الصلاة التسليم، ولا يقتصرْ على أحدهما، فلا يقل "صلّى الله عليه" فقط، ولا "عليه السلام" فقط.

Artinya, “Jika seseorang bershalawat kepada Nabi ﷺ, hendaklah ia menggabungkan antara shalawat dan salam, dan tidak hanya menyebut salah satunya. Maka janganlah ia hanya mengatakan "Shallallahu ‘alayh" saja, dan jangan pula hanya mengatakan "‘Alayhis-salam" saja.”

2. Membaca dengan Lantang
Selanjutnya, kita dianjurkan untuk melantangkan suara saat membaca shalawat dan salam kepada Nabi. Namun demikian, volume suaranya tidak terlalu lantang sehingga terkesan kurang takzim atau justru mengganggu orang lain. Imam An-Nawawi menjelaskan:

يُستحبّ لقارىء الحديث وغيره ممّن في معناه إذا ذكر رسولَ الله صلى الله عليه وسلم أن يرفَعَ صوته بالصلاة عليه والتسليم، ولا يبالغ في الرفع مبالغة فاحشة.

Artinya, “Dianjurkan bagi pembaca hadis dan selainnya yang serupa dengannya, ketika menyebut Rasulullah ﷺ, untuk mengeraskan suaranya dalam membaca shalawat dan salam kepadanya, namun tidak berlebihan dalam meninggikannya secara berlebihan.”

3. Disertakan dalam Doa
Salah satu manfaat membaca shalawat dan salam kepada Nabi adalah mempercepat dikabulkannya doa. Oleh karena itu, saat berdoa kita dianjurkan untuk mengawali dan mengakhiri doa tersebut dengan shalawat dan salam. Imam An-Nawawi menjelaskan anjuran ini dalam Al-Adzkar dengan mendasarinya pada hadits berikut:

عن فَضَالة بن عُبيد رضي الله عنه، قال: سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلًا يدعو في صلاته لم يمجّدِ الله تعالى، ولم يصلّ على النبيّ صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وسلم: "عَجِلَ هَذَا" ثم دعاه، فقال له أو لغيره: "إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ فَلْيَبْدأ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ سُبْحانَهُ وَالثَّناءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي على النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شاءَ" قال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Artinya, “Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah Ta’ala dan tanpa bershalawat kepada Nabi ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang ini tergesa-gesa." Kemudian beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya atau kepada yang lain, "Jika salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji dan menyanjung Rabbnya, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu setelah itu ia boleh berdoa dengan apa yang ia kehendaki.” Imam at-Tirmidzi berkata: Hadis ini hasan sahih.”

Hadits di atas dikuatkan dengan riwayat berikut:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: إن الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تُصلِّيَ على نبيّك صلى الله عليه وسلم.

Artinya, “Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Sesungguhnya doa terhenti antara langit dan bumi, tidak ada yang naik darinya sedikit pun hingga engkau bershalawat kepada Nabimu ﷺ."

Mengakhiri pengutipan dua hadits di atas, An-Nawawi menegaskan, para ulama sepakat bahwa saat kita berdoa hendaknya diawali dan diakhiri dengan hamdalah serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. An-Nawawi menyampaikan:

أجمع العلماء على استحباب ابتداء الدعاء بالحمد لله تعالى والثناء عليه، ثم الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكذلك يختم الدعاء بهما، والآثار في هذا الباب كثيرة معروفة.

Artinya, “Para ulama telah sepakat tentang dianjurkannya memulai doa dengan memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawat kepada Rasulullah ﷺ. Demikian pula, doa dianjurkan untuk diakhiri dengan keduanya. Terdapat banyak riwayat yang dikenal dalam bab ini.”

Dengan demikian, mari jadikan bulan Sya’ban sebagai momen yang tepat untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw. Tidak hanya dengan memperbanyak baca shalawat kepadanya, tetapi juga meneladani dan mengaplikasikan sifat-sifat luhur beliau dalam kehidupan sehari-hari.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo