Dark
Light
Dark
Light

3 Tingkatan Berserah Diri kepada Allah menurut Syekh Abdul Qadir: Tawakal, Taslim, dan Tafwidh

3 Tingkatan Berserah Diri kepada Allah menurut Syekh Abdul Qadir: Tawakal, Taslim, dan Tafwidh

Manusia adalah makhluk lemah yang tidak punya daya dan upaya di hadapan Allah. Pada hakikatnya, semua energi yang menggerakkan manusia untuk menjalani aktivitas dan rutinitas di dunia ini berasal dari-Nya. Maka ketika beraktivitas hendaknya mengingat keadaan tersebut sekaligus berserah diri kepada Allah.

Dalam ajaran Islam, berserah diri kepada Allah dikenal dengan istilah tawakal. Menurut Syekh Abdul Qadir, tawakal adalah memasrahkan sepenuhnya segala urusan kepada Allah, menyucikan diri dari kesombongan ikhtiar dan pengelolaan.

وحقيقة التوكل: تفويض الأمور إلى الله عز وجل، والتنقي عن ظلمات الاختيار والتدبير، والترقي إلى ساحات شهود الأحكام والتقدير، فيقطع العبد ألا تبديل للقسمة، فما قسم له لا يفوته، وما لم يقدر له لا يناله، فيسكن قلبه إلى ذلك، ويطمئن إلى وعد مولاه، فيأخذ من مولاه

Artinya: “Hakikat tawakal adalah menyerahkan semua urusan kepada Allah, menyucikan diri dari gelapnya ikhtiar dan pengelolaan (tadbir), dan naik derajat menyaksikan ketentuan dan takdir. Orang yang bertawakal meyakini tidak ada perubahan pada bagian-bagian (yang telah ditentukan Allah), bagian yang telah ditetapkan (Allah) tidak akan hilang, dan bagian yang tidak ditakdirkan tidak akan didapatkan, sehingga hatinya merasa tenang dengan hal tersebut dan yakin dengan janji Tuhannya, lalu mengambil (bagian) langsung dari Allah.” (Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-Ghunyah li Thâlibi Tharîqil Ḫaq [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997] Juz II, halaman 317)

Syekh Abdul Qadir Jailani kemudian menyebutkan, ada 3 tingkatan yang berkenaan dengan berserah diri kepada Allah, yaitu tawakal, taslim, dan tafwidh. Menurutnya, ketiga bentuk kepasrahan diri itu memiliki sejumlah ciri sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama.

1. Tawakal

Tawakal merupakan tingkatan dasar seorang mukmin dalam berserah diri kepada Allah. Pada fase ini, seorang hamba akan menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah sekaligus membersihkan hatinya dari rasa mampu dalam mengatur urusannya sendiri. Tawakal adalah sifatnya para nabi, orang beriman, dan kelompok umum. 

Syekh Abdul Qadir kemudian mengutip sejumlah pendapat ulama terkait ciri orang yang tawakal, di antaranya adalah hatinya merasa tenang karena bersandar pada janji Allah, menyadari bahwa hasil yang didapat merupakan pemberian dari-Nya, berpikir hanya untuk hari ini dan tidak khawatir dengan hari esok, jika diberi bersyukur dan jika dicegah bersabar, serta tidak menggantungkan diri pada makhluk. Pada maqam ini yang diserahkan adalah hasil dari ikhtiar yang telah dilakukan.

2. Taslim

Ketika sudah bisa istiqamah dalam tawakal, seorang mukmin bisa naik pada tingkatan berserah diri yang lebih dalam, yaitu taslim. Pada fase ini, seorang hamba tidak hanya menyerahkan segala urusannya melainkan juga pilihan dirinya sendiri. Artinya, ia masih punya keinginan dan kehendak tapi bisa menundukkan kehendaknya dan menerima apa pun yang ditetapkan oleh Allah. Taslim adalah sifatnya Nabi Ibrahim, wali-wali Allah, dan orang khusus. 

Syekh Abdul Qadir kemudian mengutip sejumlah pendapat ulama terkait ciri orang yang taslim, di antaranya adalah menilai bahwa takdir Allah adalah yang terbaik dan memandang sama dan setara terhadap pemberian dan penolakan dari Allah. Pada maqam ini yang diserahkan kepada Allah adalah penilaian dan pilihan pribadi.

3. Tafwidh

Tafwidh adalah tingkatan puncak dalam berserah diri kepada Allah. Pada fase ini, seorang hamba tetap berusaha tapi sudah tidak menggantungkan hatinya pada hasil karena apa pun hasilnya itu merupakan pemberian dari Allah dan ia pun rida dengan semua ketetapan dari-Nya. Menurut Syekh Abdul Qadir, tafwidh adalah sifatnya Nabi Muhammad, orang-orang yang bertauhid, dan kelompok khususil khusus. 

Syekh Abdul Qadir kemudian menjelaskan ciri orang yang tafwidh, di antaranya adalah hilangnya ketakutan maupun harapan kepada makhluk dan hatinya pun selalu bersama Allah. Pada maqam ini, kehendak seorang hamba tidak lagi menjadi pusat perhatian, karena hatinya telah rida dengan semua keputusan Allah.

Dengan demikian, tawakal, taslim, dan tafwidh memiliki kesamaan yaitu berserah diri kepada Allah. Namun demikian, ada ciri khas dari ketiga maqam tersebut, yaitu pada kedalaman penyerahannya. Tawakal lebih fokus pada memasrahkan hasil dari ikhtiar, taslim memasrahkan keinginan pribadi, dan tafwidh ditandai dengan sikap rida dan tenang dengan semua ketetapan Allah. Wallahu a’lam.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo