Dark
Light
Dark
Light

Malik bin Dinar, dan Kisah Ulama Berhaji Tiap Tahun namun Dimurkai Allah

Malik bin Dinar, dan Kisah Ulama Berhaji Tiap Tahun namun Dimurkai Allah

Malik bin Dinar, salah seorang sufi terkemuka di abad kedua Hijriyah mengisahkan peristiwa saat ia menunaikan ibadah haji. Dikisahkan Malik, usai melakukan rangkaian ibadah haji, ia tidur di malam hari dan bermimpi yang membuatnya ketakutan.

Kisah mimpi Malik bin Dinar ini diungkap oleh Abu Hafs Umar bin Hasan An-Naisaburi As-Samarqandi dalam kitab Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadits (Beirut: Darul Kutub al-Alamiyah, 2001) halaman 38-39.

Dalam mimpi tersebut, terdengar oleh Malik bin Dinar sebuah hatif (suara tanpa rupa) yang membuatnya terkejut hingga terbangun dan ketakutan.

"Wahai Malik, sampaikan kabar gembira pada penduduk Ar-Raqim bahwa mereka telah diampuni Allah, kecuali Abdurrahman bin Muhammad Al-Balkhi," bunyi suara dalam mimpi Malik bin Dinar.

Setelah mencari informasi tentang sosok Abdurrahman bin Muhammmad Al-Balkhi, Malik bin Dinar kemudian mengetahui bahwa sosok tersebut adalah seorang ulama yang dikenal saleh.

"Dia itu orang berilmu, zuhud, terkenal ahli ibadah, rajin membaca Al-Quran, menyantuni anak yatim, dan melaksanakan haji setiap tahun," ucap seseorang pada Malik bin Dinar.

Setelah mengantongi alamatnya, Malik kemudian bergegas menemui Abdurrahman Al-Balkhi. Ternyata orang yang ia cari ini terlihat masih muda, wajahnya cerah namun badannya kurus kering dan berpakaian kain wol yang sudah kumuh.

"Assalamualaikum...," ucap Malik.

"Waalaikumsalam... Kamu siapa?" tanya Abdurrahman Al-Balkhi.

"Aku salah seorang penduduk Bashrah," jawab Malik.

Jawaban Malik tersebut membuat Abdurrahman menangis sejadi-jadinya.

"Sepertinya kamu adalah Malik bin Dinar yang akan mengabariku tentang kemurkaan Allah," 

Belum sempat Malik menceritakan mimpinya, Abdurrahman malah langsung mengisahkan tragedi kelam yang membuatnya dimurkai Allah.

"Wahai Malik, dulu, di malam pertama Ramadhan aku minum arak hingga mabuk. Saat itu, ayahku mengetahuinya kemudian marah-marah dan membentakku."

Mungkin karena mabuk, sambung Abdurrahman, aku langsung menampar wajah ayahku. Ayahku menangis dan berkata:

"Allah tidak akan meridlaimu, wahai Abdurrahman,"

Keesokan harinya, kata Abdurrahman, ibuku pun mengetahui tragedi itu. Seketika aku langsung menghanguskan semua arak yang kusimpan. 

"Untuk menebus kesalahanku, aku memerdekakan budak, bersedekah, dan berhaji setiap tahun," kata Abdurrahman.

Malik bin Dinar kemudian mengetahui bahwa ayah Abdurrahman ini ternyata masih hidup. Tidak menunggu lama, ia pun langsung menemuinya.

Saat bertemu dengan ayah Abdurrahman, Malik merasa terkejut saat melihatnya. Dia adalah seorang kakek yang wajahnya cerah, tubuhnya lembut dan wangi, di tangannya ada mushaf yang sedang ia baca dengan suara bindeng.

Usai beruluk salam, kakek ini langsung memeluk Malik dan seketika Malik merasa heran.

"Dari mana engkau mengetahui namaku, kek?" tanya Malik.

"Tadi malam aku memohon kepada Allah agar mempertemukanku denganmu," jawabnya.

"Ada keperluan apa kamu ke sini?" 

Dengan bahasa diplomatis, Malik pun mengutarakan maksudnya. Intinya, ia mengharapkan agar kakek ini mengampuni dosa masa lalu anaknya, Abdurrahman.

"Katakan pada Abdurrahman, aku sudah memaafkan dia. Aku pun akan segera menemuinya," ucap sang kakek.

Malik pun kembali menemui Abdurrahman dan menyampaikan kabar gembira ini. Saking bahagianya, Abdurrahman pingsan tak sadarkan diri hingga ajalnya semakin mendekat.

Disaksikan ayah dan ibunya serta masyarakat setempat, Abdurrahman mengucapkan kalimat syahadat di hembusan nafas terakhirnya. Ia pun husnul khatimah.

Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah dari Malik bin Dinar ini, yaitu tentang pentingnya memiliki ridla kedua orang tua. Banyaknya amal ibadah termasuk ibadah haji sekali pun, seolah menjadi hampa tanpa diiringi ridla dari orang tua. 

Rasulullah Saw bersabda:

رِضَا اللّٰهِ فِـى رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، وَ سُخٔطُ اللّٰهِ فِـة سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ 

Artinya: "Ridha Allah ada pada ridhanya kedua orang tua dan murka Allah ada pada murkanya kedua orang tua." (HR Tirmidzi).

Selanjutnya, bagi seorang anak yang punya kesalahan pada orang tua hendaknya tidak segan untuk memohon ampun padanya. Jika hal itu tidak bisa dilakukan karena terhalang oleh rasa malu, segan, takut, dan sebagainya, bisa meminta bantuan pihak ketiga agar bersedia melakukan mediasi, sebagaimana yang dilakukan Malik bin Dinar.

Selain itu, kisah ini juga mengingatkan pada sosok Al-Qamah, sahabat Nabi yang tersiksa saat sakaratul maut akibat durhaka pada ibunya. Setelah mendapat ridla dari ibunya, Al-Qamah pun bisa wafat dengan tenang. Wallahu a‘lam


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo