Dark
Light
Dark
Light

Kompleksitas dan Keagungan Surat Al-Fatihah

Kompleksitas dan Keagungan Surat Al-Fatihah

Bayangkanlah, sebuah benda atau perkara yang memiliki kandungan makna seluas samudera dan mempunyai nilai keindahan melebihi indahnya mutiara di dalam samudra tersebut. Jika sudah, bayangkan juga bagian kecil dari benda atau perkara tersebut yang (sebetulnya) telah mewakili pesan yang disampaikan dari keseluruhannya.

Jika perkara yang Anda bayangkan adalah gunung dan mata air sebagai bagian kecilnya, bisakah Anda menjelaskan bagaimana mata air tersebut mewakili seluruh keindahan gunung tersebut? Pun, jika yang tergambar dalam benak Anda adalah sesosok perempuan idaman dengan spesifikasi lengkap, maka telapak tangan dan kedua mata bulatnya tidaklah bisa mewakili seluruh keindahan dirinya secara terperinci (sila baca keterangan fikih mengenai kesunahan melihat telapak dan wajah calon istri, juga hikmah di balik kesunahan tersebut).

Di saat Anda bersusah payah mengumpulkan ingatan dan membayangkan perkara indah di dunia, kemampuan perkara-perkara parsial yang mampu mewakili seluruh bagiannya justru ada pada satu surat pendek dalam Al-Qur'an. Surat ini, selain wajib kita baca setiap sholat, juga dieksploitasi ulama luar negeri bernama ‘syekh’ ‘Ashim beberapa waktu lalu. Surat itu bernama Al-Fatihah.

Ia mengingkari tradisi khas Ahlusunah yang membaca surat Al-Fatihah di awal setiap perkumpulan dan pada situasi dan kondisi lainnya serta menggolongkannya sebagai perbuatan bid’ah. Padahal, Allah swt memosisikan surat Al-Fatihah (yang disebut dengan sab’ul matsani) sejajar dengan Al-Qur'an secara utuh:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung. [QS Hijr: 87].

Egalisasi (penyamarataan) surat Al-Fatihah dan Al-Qur'an ini mengacu pada huruf wawu athaf yang berfaedah muthlaq al-jam’i. Allah swt menyebutkan surat Al-Fatihah yang disebut secara eksklusif dan disusul dengan diksi Al-Quran yang merujuk pada keseluruhannya.

Taruhlah contoh ketika seseorang berkata: “Saya memberikan hadiah buku kepada Selamet dan teman-teman satu kelasnya.” Tentu penutur telah mengkhususkan Selamet. Padahal, sah-sah saja jika penutur hanya menyebutkan bagian kelas tanpa menyebutkan nama Selamet.

Dari ayat di atas, banyak kitab tafsir mengemukakan bahwa semua surat selain Al-Fatihah berfungsi sebagai semacam keterangan lebih lanjut dari apa yang telah dijelaskan Al-Fatihah secara umum. Hal ihwal ilahiah (ketuhanan) telah diperkenalkan ayat pertama hingga ketiga. Persitiwa hari akhir diceritakan ayat keempat. Ayat kelima menampik keangkuhan diri manusia sekaligus meyakini keterhubungan segala perkara dengan qada dan kadar-Nya. Ayat keenam dan tujuh, selain menjelaskan qada dan qadar, juga menjelaskan perihal kenabian (dhamir 'na' dalam "اهدنا" tidak merujuk pada Allah, melainkan kepada Nabi Muhammad).

Maka demikian, mulai surat Al-Baqarah hingga Al-Nas, keberadaan mereka semua menjelaskan lebih lanjut empat pokok Al-Quran yang disinggung dalam surat Al-Fatihah tadi. Itulah kenapa sebagian ulama menyebutnya surat Alwafiyah, yang berarti memiliki kompleksitas tertentu.

Lebih lanjut, pada rentetan argumen atas hukum wajib membaca Al-Fatihah dalam sholat, Imam Fakhruddin Al-Razi dengan tegas mengklaim bahwa hadits-hadits Nabi telah menunjukkan keunggulan surat Al-Fatihah dari surat-surat lainnya. Dan di halaman lain di kitab tafsir yang sama, Al-Razi memaparkan bahwa Nabi Muhammad saw mengistikamahkan diri membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat.

Memang, beberapa alasan di balik penamaan surat Al-Fatihah mengindikasikan keterikatan Al-Fatihah dengan sholat (di mana syekh ‘Ashim berdalih dengan mengkhususkan kewenangan membaca Al-Fatihah hanya pada sholat). Namun apakah keterikatan tersebut lazim adanya? Apakah keterikatan tersebut membuat Al-Fatihah tidak layak dibaca dengan penuh khidmat selain dalam sholat? Bukankah Imam Jalaluddin Al-Suyuthi di dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa surat Al-Fatihah menjadi pembuka setiap mushaf yang dirisalahkan pada nabi-nabi, dan sebagai pembuka proses belajar mengajar?

Tentunya, tidak mengacuhkan hadits Al-Fatihah lainnya, hanya dengan bertumpu pada hadits yang mewajibkan bacaan Al-Fatihah di dalam sholat sangatlah tidak masuk akal. Bayangkan betapa rempong dan kacaunya hadits Nabi bahwa, Al-Fatihah adalah obat dari segala penyakit, jika surat Al-Fatihah hanya diperbolehkan dibaca dalam sholat. Mendoakan orang sakit, orang yang telah meninggal, dan mendoakan keselamatan perjalanan, misalnya, harus diwujudkan dengan perbuatan yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam itu. Ribet, to?

Ini belum soal bagaimana Ibn Al-Qayim membuat satu judul bab dalam kitabnya, Madarij Al-Salikin, bahwa Al-Fatihah benar-benar mampu mengobati, tak hanya penyakit hati tapi juga fisik manusia. Jelas bahwa Ibn Al-Qayim bermaksud meneguhkan adanya jaminan kewarasan spiritual dan kesehatan badan di dalam surat Al-Fatihah itu sendiri.

Bahkan secara empiris, Ibn Al-Qayim berhasil mengobati penyakitnya yang tak kunjung sembuh setelah mencari dokter di sekeliling kota Makkah, hanya dengan membaca surat Al-Fatihah dalam penuh penghayatan dan kepercayaan pada-Nya. Ibn Al-Qayim menuturkan bahwa keampuhan surat Al-Fatihah sebagai obat bertangguh pada kuatnya keinginan orang yang membacanya, atau pada kompatibilitas orang yang dibacakan.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa setelah Al-Fatihah diturunkan, iblis ketar-ketir. Mujahid (seorang tabiin) melanjutkan, ketika para setan datang kepada iblis dan melaporkan turunnya surat yang membuatnya overthinking itu, iblis mengakui bahwa pahala bacaan surat Al-Fatihah adalah jaminan tidak masuk neraka Jahanam. Lalu, salah satu setan bertanya pada iblis,

“Apa yang engkau perintahkan pada kami, Tuanku?”

Lalu iblis menjawab, “Pergilah, berusahalah sekuat mungkin agar hati manusia melalaikannya. Jangan sampai mereka memperbanyak membaca Al-Fatihah, sehingga mereka tidak memiliki balasan, melainkan siksaan dan azab.”

Walhasil, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengklaim bahwa syekh 'Ashim adalah wakil dari iblis untuk menyampaikan kekhawatiran para iblis. Semoga kita bisa terus mendawamkan bacaan surat Al-Fatihah dalam sholat dan juga di luar sholat. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Sofiyulloh
Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Angkatan Mizab Lirboyo. Akun Instagram: @holluyifos


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo