Dark
Light
Dark
Light

3 Keutamaan Hajar Aswad Berdasar Hadits Nabi

3 Keutamaan Hajar Aswad Berdasar Hadits Nabi

Arina.id — Hajar Aswad merupakan salah satu bagian penting dari Ka’bah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Batu mulia yang berasal dari surga ini bukan sekadar simbol, melainkan mempunyai keutamaan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW. 

Selain menjadi saksi bagi orang yang menyentuhnya dengan kebenaran, Hajar Aswad juga dipercaya mampu menghapus dosa dan menyembuhkan penyakit. Artikel ini akan menguraikan tiga keutamaan utama Hajar Aswad menurut sabda Rasulullah ﷺ.

1. Menghapus Dosa

Salah satu keutamaan Hajar Aswad adalah menghapus dosa-dosa manusia. Menurut Ibnu Hutaibah dalam Syarh Kitab Al-Jami’ li Ahkamil Hajji wal ‘Umrati waz Ziyarati (juz 10, h. 12), hal ini berkaitan dengan konteks masa awal-awal Islam di Makkah. 

Sebelum Islam datang, Ka’bah dipenuhi berhala yang disembah oleh penduduk setempat. Begitu Islam datang dan banyak yang menjadi Muslim, Hajar Aswad yang merupakan batu dari surga berwarna putih menjadi hitam karena menghapus dosa-dosa kemusyrikan masyarakat saat itu. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ."

Artinya, “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Hajar Aswad diturunkan dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa anak cucu Adam yang menjadikannya hitam’.

Mempertegas hadits di atas, sabda Rasulullah di bawah ini menjelaskan bahwa seandainya warna Hajar Aswad tidak berubah, dalam arti berwarna putih bercahaya sebagaimana warna asalnya, maka ia akan memancarkan cahaya yang sinarnya mampu menerangi dari arah timur hingga barat. Berikut haditsnya: 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الرُّكْنُ وَالْمَقَامُ يَاقُوتَتَانِ مِنْ يَوَاقِيتِ الْجَنَّةِ طَمَسَ اللَّهُ نُورَهُمَا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَأَضَاءَتَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ."

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam Ibrahim adalah dua batu permata dari permata-permata surga. Allah telah menghapus cahayanya, dan seandainya tidak demikian, niscaya keduanya akan menerangi antara timur dan barat.”

2. Mampu Menyembuhkan Berbagai Macam Penyakit

Salah satu khasiat Hajar Aswad adalah mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karena berasal dari surga, batu ini mampu memberikan kesembuhan bagi siapapun yang menyentuhnya. Hanya saja, sejak cahayanya redup den berwarna hitam karena dosa-dosa manusia, maka khasiat tersebut hilang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah berikut:

"الرُّكْنُ وَالْمَقَامُ يَاقُوتَتَانِ مِنْ يَوَاقِيتِ الْجَنَّةِ، طَمَسَ اللَّهُ نُورَهُمَا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَأَضَاءَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، وَلَوْلَا مَا مَسَّهُمَا مِنْ خَطَايَا بَنِي آدَمَ مَا مَسَّهُمَا مِنْ ذِي عَاهَةٍ إِلَّا شُفِيَ، وَمَا عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْجَنَّةِ غَيْرُهُ."

Artinya, “Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam Ibrahim adalah dua batu permata dari permata-permata surga. Allah telah menghapus cahayanya, dan seandainya tidak demikian, niscaya keduanya akan menerangi antara timur dan barat. Jika bukan karena dosa-dosa yang menyentuhnya dari anak cucu Adam, tidak ada orang yang sakit menyentuhnya kecuali akan sembuh. Dan tidak ada bagian dari surga di bumi kecuali keduanya.

3. Memberi Syafa’at

Salah satu keutamaan yang dimiliki oleh Hajar Aswad adalah akan memberi syafa’at atau pertolongan di akhirat kelak bagi siapapun yang pernah mengusapnya. Kelak, batu tersebut akan berbicara dan menjadi saksi serta penolong bagi orang-orang yang pernah menyentuh atau mengusapnya. Hal ini sebagaimana disinggung dalam hadits berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجَرِ: "وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا، وَلَهُ لِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ، يَشْهَدُ عَلَى مَنِ اسْتَلَمَهُ بِالْحَقِّ."

Artinya, “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda tentang Hajar Aswad, “Demi Allah, sungguh Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dengan dua mata yang dapat melihat dan lisan yang dapat berbicara, yang akan bersaksi atas siapa saja yang menyentuhnya dengan kebenaran.

Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan kita untuk mencium Hajar Aswad. Sehingga salah satu kesunnahan saat thawaf bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji adalah menciumnya. Dasar anjuran ini adalah hadits berikut:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الحَجَرِ الأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ ، فَقَالَ : إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

Artinya, “Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya, kemudian berkata: “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudarat. Seandainya aku tidak melihat Nabi ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Muttafaq ‘Alaih)

Berkaitan dengan hadits tersebut, Syekh Badruddin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarh Sahihil Bukhari menjelaskan:

وَقَالَ التِّرْمِذِيّ: الْعَمَل على هَذَا عِنْد أهل الْعلم يستحبون تَقْبِيل الْحجر، فَإِن لم يُمكنهُ وَلم يصل إِلَيْهِ اسْتَلم بِيَدِهِ، وَقيل يَده، وَإِن كَانَ لم يصل إِلَيْهِ استقبله إِذا حَاذَى بِهِ وَكبر، وَهُوَ قَول الشَّافِعِي انْتهى.

Artinya, “At-Tirmidzi berkata: “Amalan ini menjadi kesepakatan di kalangan para ulama. Mereka menganjurkan mencium Hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan dan tidak dapat menyentuhnya, maka ia cukup mengusapnya dengan tangan, lalu mencium tangannya. Jika tidak mampu menjangkaunya, cukup menghadap ke arahnya saat sejajar dengannya dan bertakbir. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i.”

Sebagai penutup, Hajar Aswad bukan sekadar batu mulia di sudut Ka’bah, tetapi memiliki keutamaan spiritual yang besar dalam Islam. Dari kemampuannya menghapus dosa, menyembuhkan penyakit, hingga menjadi saksi kebenaran di Hari Kiamat, Hajar Aswad menunjukkan betapa agungnya syiar Islam di Baitullah. Menghormatinya dengan cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah bentuk ketaatan dan penghormatan terhadap warisan suci yang berasal dari surga.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo