Dark
Light
Dark
Light

Kisah Panjang Perintah Shalat Lima Waktu

Kisah Panjang Perintah Shalat Lima Waktu

Perintah untuk mendirikan shalat disampaikan Allah SWT langsung pada Nabi Muhammad. Disarikan dari tafsir Ibnu Katsir, artikel ini mengisahkan perjalanan panjang menerima titah yang menjadi tiang agama Islam itu. 

 

Ketika mengomentari ayat yang mendokumentasikan  peristiwa isra dan mi'raj, Ibnu Katsir banyak mengutip hadis untuk menjelaskan ayat tersebut. Pada tafsir Quran surat Al-Isra' ayat 1, Ibnu Katsir meriwayatkan seperti dalam terjemahan berikut;

Riwayat sahabat Anas ibnu Malik r.a. : Imam Abu Abdullah Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman (yakni Ibnu Bilal), dari Syarik ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Anas ibnu Malik menceritakan malam hari yang ketika itu Rasulullah SAW mengalami Isra dari Masjid Ka'bah (Masjidil Haram). 

Sebelum Nabi  Muhammad menerima wahyu, disebutkan ada tiga orang datang kepadanya. Saat itu, Nabi Muhammad sedang tidur di Masjidil Haram. Orang pertama dari ketiga orang itu berkata, "yang manakah dia itu?" Orang yang pertengahan menjawab, "Orang yang paling pertengahan dari mereka. Dialah orang yang paling baik." Orang yang terakhir berkata, "ambilah yang paling baik dari mereka." 

Hanya itulah yang terjadi malam tersebut. Nabi Muhammad tidak melihat mereka, hingga menurut penglihatan hatinya -- mereka datang lagi di malam lainnya. Demikianlah para nabi meski mata mereka terlelap tapi hati mereka tidak tidur.  

Mereka tidak mengajak Nabi Muhammad bicara, melainkan langsung membawanya dan membaringkannya di dekat sumur zamzam. Urusan selanjutnya ditangani Malaikat Jibril yang ada bersama mereka. Kemudian Jibril membelah bagian antara tenggorokan sampai bagian ulu hatinya. Kemudian, dengan menggunakan air zamzam, dia mencuci isi dada dan perutnya. 

Semua itu dilakukan tangannya sendiri. Sehingga bersihlah bagian dari tubuh Nabi Muhammad. Jibril kemudian membawa sebuah piala emas yang di dalamnya terdapat sebuah wadah kecil terbuat dari emas, wadah itu berisikan iman dan hikmah yang disisihkan Jibril ke dalam dada dan kerongkongan Nabi dan menutup bedahannya. Setelah itu Jibril membawanya naik ke langit pertama. 

Setelah Jibril mengetuk salah satu pintu langit pertama, malaikat penghuni langit pertama bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Orang yang bersamaku adalah Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab "Ya." Mereka berkata, "Selamat datang untuknya." Semua penduduk langit pertama menyambut gembira kedatangannya.

Para penduduk langit tidak mengetahui perihal yang diinginkan oleh Allah di bumi hingga Allah sendiri yang memberitahukan kepada mereka. Di langit pertama, Nabi Muhammad bersua dengan Nabi Adam AS. Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Ini adalah bapakmu, Adam." Nabi Muhammad mengucap salam pada Adam. Setelah menjawab salamnya, Adam pun berkata, "Selamat datang, wahai anakku, sebaik-baik anak adalah engkau." 

Di langit pertama itu Nabi Muhammad tiba-tiba melihat ada dua buah sungai yang mengalir. "Hai Jibril, apakah nama kedua sungai ini?" tanyanya pada Jibril. "Kedua sungai ini adalah Nil dan Eufrat, yakni sumber keduanya." ujar Jibril seraya membawanya pergi ke sekitar langit itu. Di sana tiba-tiba Nabi Muhammad melihat sungai lain, yang di atasnya terdapat sebuah gedung dari mutiara dan zabarjad.  Nabi Muhammad menyentuhkan tangannya ke sungai itu, yang airnya sangat wangi seperti minyak kesturi. Lalu ia bertanya, "Hai Jibril, sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah Sungai Kautsar yang disimpan Tuhanmu untukmu."

Jibril membawanya naik ke langit yang kedua, para malaikat penjaga langit bertanya tentang hal yang sama seperti yang dilontarkan penjaga langit pertama, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka pun menyambutnya, "Selamat atas kedatangannya." 

Pertanyaan yang sama diutarakan para penjaga langit di lapis-lapis berikutnya. Langit yang ketiga, keempat, kelima, keenam, hingga di langit lapis terakhir.  Pada tiap lapis langit, terdapat nabi-nabi yang nama masing-masingnya disebutkan oleh Jibril. Perawi hadis berkata bahwa ia ingat nama-nama mereka, antara lain: Nabi Idris di langit yang kedua, Nabi Harun di langit yang keempat, dan nabi lainnya di langit yang kelima; perawi tidak ingat lagi namanya.

Nabi Ibrahim di langit yang keenam. Sedangkan Nabi Musa berada di langit yang ketujuh. Itu terjadi  berkat keutamaan yang dimilikinya, yaitu pernah diajak berbicara langsung oleh Allah. Musa berkata "Wahai Tuhanku, saya tidak menduga bahwa Engkau akan mengangkat seseorang lebih tinggi di atasku." 

Jibril membawanya naik di atas itu sampai ke tingkatan yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali Allah. Nabi Muhammad sampai di Sidratul Muntaha dan berada dekat dengan Tuhan yang Mahaperkasa lagi Mahaagung. Maka ia makin bertambah dekat, sehingga jadilah ia (Nabi Muhammad) dekat dengan-Nya. Sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.

Perjalanan untuk Menerima Perintah Sholat

Allah memberikan wahyu, antara lain ialah, "Aku wajibkan lima puluh kali sholat setiap siang dan malam hari atas umatmu." Kemudian Jibril membawanya turun sampai ke tempat Musa berada, lalu Musa menahannya dan berkata, "Hai Muhammad, apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu untukmu?" Nabi Muhammad menjawab, "Tuhanku telah memerintahkan kepadaku sholat lima puluh kali setiap siang dan malam hari."

Musa berkata, "Sesungguhnya umatku tidak akan mampu mengerjakannya, sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buatmu dan buat umatmu." Nabi Muhammad menoleh kepada Jibril, seakan-akan beliau meminta saran darinya. 

Dan Jibril menjawab, "Baiklah jika kamu menghendakinya." Maka Jibril membawanya lagi naik kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahasuci, lalu Nabi Muhammad memohon kepada Allah yang berada di tempat-Nya, "Wahai Tuhanku berikanlah keringanan buat kami, karena sesungguhnya umatku tidak akan mampu memikulnya." Allah memberikan keringanan sepuluh salat kepadanya. 

Nabi kembali kepada Musa yang kemudian menahannya. Musa pun terus menerus membuatnya bolak-balik menuju Tuhannya, untuk meminta keringanan hingga akhirnya jumlah shalat yang diperintahkan sebanyak lima waktu. 

Namun, Musa tetap menahannya kembali dan berkata, "Hai Muhammad, demi Allah, sesungguhnya aku telah membujuk Bani Israil, umatku, untuk mengerjakan yang lebih sedikit dari lima waktu, tetapi mereka kelelahan, akhirnya mereka meninggalkannya. Umatmu lebih lemah, tubuh, hati, badan, penglihatan, dan pendengarannya; maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan kepada-Nya buatmu."

Setiap kali mendapat saran dari Nabi Musa, Nabi Muhammad selalu menoleh kepada Jibril untuk meminta pendapatnya, dan Malaikat Jibril dengan senang hati menerimanya, akhirnya pada kali yang kelima Jibril membawanya naik dan ia berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku adalah orang-orang yang lemah, tubuh, hati, pendengaran, penglihatan, dan jasad mereka, maka berilah keringanan lagi buat kami." 

Tuhan Yang Mahaperkasa, Mahasuci, lagi Mahatinggi berfirman, "Hai Muhammad."Nabi menjawab, "Labbaikawasa'daika (saya penuhi seruan-Mu dengan penuh kebahagiaan)." Allah berfirman, "Sesungguhnya keputusan yang ada pada-Ku ini tidak dapat diubah lagi, persis seperti apa yang telah Aku tetapkan atas dirimu di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). Maka setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan. Dan kewajiban shalat itu telah tercatat lima puluh kali di dalam Ummul Kitab, sedangkan bagimu tetap lima kali." 

Nabi Muhammad kembali kepada Musa dan Musa berkata "Apakah yang telah engkau lakukan?" Nabi ﷺ menjawab, "Allah telah memberikan keringanan bagi kami, Dia telah memberikan kepada kami setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan yang semisal." 

Musa berkata, "Sesungguhnya, demi Allah, saya telah membujuk Bani Israil untuk mengerjakan yang lebih ringan dari itu, tetapi mereka meninggalkannya. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan buat dirimu juga." 

Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Musa, sesungguhnya demi Allah saya malu kepada Tuhanku, karena terlalu sering bolak-balik kepada-Nya." Musa berkata, "Kalau begitu, turunlah engkau dengan menyebut nama Allah." 

Perawi melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi Muhammad terbangun, dan dia berada di Masjidil Haram." Demikianlah menurut lafaz yang diketengahkan oleh Imam Bukhari di dalam Kitabut Tauhid, bagian dari kitab sahihnya. 

Pendapat Para Perawi Hadits

Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam Sifatun Nabi, dari Ismail ibnu Abu Uwais, dari saudaranya (yaitu Abu Bakar Abdul Hamid), dari Sulaiman ibnu Bilal. Imam Muslim meriwayatkannya dari Harun ibnu Sa'id dari Ibnu Wahb dari Sulaiman, yang di dalam riwayatnya Sulaiman memberikan tambahan, ada pula yang dikuranginya, serta ada yang didahulukan dan yang dibelakangkan. 

Pada kenyataannya memang seperti apa yang dikatakan oleh Imam Muslim, karena sesungguhnya Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu Namir kacau dalam hadis ini dan hafalannya buruk, ia tidak dapat menyusunnya dengan baik; seperti yang akan dijelaskan kemudian dalam hadis-hadis lain, insya Allah.

Di antara perawi ada yang menganggap peristiwa ini terjadi di saat Nabi Muhammad sedang tidur, karena menyelaraskannya dengan apa yang terjadi sesudah itu. Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan di dalam hadis syarik adanya suatu tambahan yang hanya ada pada riwayatnya, sesuai dengan pendapat orang yang menduga bahwa Nabi Muhammad melihat Allah dalam peristiwa ini.  

Yang dimaksudkan ialah apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, "Kemudian Dia mendekat," yakni Tuhan Yang Mahaperkasa mendekat kepadanya (Nabi ﷺ), "lalu bertambah mendekat lagi, maka jadilah Dia dekat kepadanya (Muhammad ﷺ) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi." 

Selanjutnya Imam Baihaqi mengatakan bahwa pendapat Aisyah dan Ibnu Mas'ud serta Abu Hurairah yang menakwilkan ayat-ayat ini bahwa Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya merupakan pendapat yang paling sahih. 

Pendapat yang dikatakan oleh Imam Baihaqi dalam masalah ini adalah pendapat yang benar, karena sesungguhnya Abu Zar r.a. pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Nur, mana mungkin aku dapat melihatnya. Menurut riwayat yang lain disebutkan: Saya hanya melihat nur (cahaya). (Diketengahkan oleh Imam Muslim) Firman Allah: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. (An-Najm: 8) Sesungguhnya yang dimaksudkan hanyalah Malaikat Jibril a.s., seperti yang ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui Siti Aisyah Ummul Muminin dan Ibnu Mas'ud. Wallahu  A'lam bi al-shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Hidhir Adib
Alumni Ma'had Aly UIN Maliki Malang


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo