Arina.id - Mengapa aku tak kunjung punya momongan? Mengapa rezeki seolah begitu sulit menghampiriku? Mengapa aku belum bisa kuliah, padahal sudah berusaha keras? Mengapa, Tuhan? Mengapa ini semua terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering kali muncul dalam hati saat kita dihadapkan pada realita kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan. Kita merasa sudah berusaha, berdoa, dan bersabar, tapi hasilnya masih jauh dari keinginan.
Tak perlu khawatir dan berlarut larut dalam kesedihan. Percayalah, ada kebaikan dalam setiap ketentuan-Nya. Bukankah Tuhan Maha Rahman dan Rahim. Ia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah berusaha keras menggapai tujuan. Berhentilah sejenak dan renungkan, mungkin ada hikmah yang tersembunyi di balik semua skenario-Nya
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Hadid ayat 22-23:
ما أَصابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَاّ فِي كِتابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَها إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلى ما فاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِما آتاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتالٍ فَخُورٍ.
Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri”
Ayat ini menurut Syaikh Wahbah Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir menjelaskan bahwa semua yang terjadi di dunia ini, baik maupun buruk, telah ditentukan dan ditulis oleh-Nya di Lauhul Mahfuz. Ini bertujuan agar kita tidak bersedih atas kenikmatan dunia yang terlewat, pun juga kita tidak sombong atas nikmat yang telah kita dapatkan.
Oleh karenaya jangan terlalu bersedih atas apa yang tidak kita peroleh, karena jika sesuatu telah ditakdirkan, pasti itu akan terjadi. Jangan pula terlalu bangga atas apa yang Allah berikan kepada kita, karena semua itu adalah ketetapan Allah dan rezeki dari-Nya untuk kita.
إِذَا كَانَ ٱلْكُلُّ مَكْتُوبًا مُّقَدَّرًا لَا مَرَدَّ لَهُ، هَانَتِ ٱلْمَصَائِبُ عَلَى ٱلنَّاسِ، وَكَانَ عَلَيْهِمُ ٱمْتِثَالُ ٱلْأَمْرِ، فَلَا يَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَهُم مِّنَ ٱلرِّزْقِ، وَلَا يَفْرَحُوا بِمَا أُوتُوا مِنَ ٱلدُّنْيَا.
Artinya: ”Jika segala sesuatu telah tertulis dan ditakdirkan serta tidak dapat dihindari, maka musibah akan terasa lebih ringan bagi manusia. Mereka pun harus menerima perintah-Nya, sehingga mereka tidak bersedih atas rezeki yang terlewat dan tidak terlalu berbahagia dengan apa yang diberikan kepada mereka di dunia."(Tafsir Munir, juz 27 halaman 329)
Al-Ghazali dalam kitabnya Al Arba’in Fi Ushuliddin ketika membahas perihal ketetapan Tuhan (Qada’ dan Qadar) menulis satu kisah menarik yang membuktikan bahwa setiap takdir yang telah ditentukan pasti ada kebaikan bagi hambaNya.
Berikut kisahnya:
وَرُوِيَ أَنَّ نَبِيًّا كَانَ يَتَعَبَّدُ فِي جَبَلٍ، وَكَانَ بِقُرْبِهِ عَيْنٌ، فَاجْتَازَ بِهَا فَارِسٌ وَشَرِبَ، وَنَسِيَ عِندَهَا صُرَّةً فِيهَا أَلْفُ دِينَارٍ، وَجَاءَ آخَرُ فَأَخَذَ الصُّرَّةَ، ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ فَقِيرٌ عَلَى ظَهْرِهِ حَزْمَةٌ مِنْ حَطَبٍ، فَشَرِبَ وَاسْتَلْقَى لِيَسْتَرِيحَ، فَرَجَعَ الْفَارِسُ فِي طَلَبِ الصُّرَّةِ فَلَمْ يَرَهَا، فَأَخَذَ الْفَقِيرَ فَطَالَبَهُ وَعَذَّبَهُ فَلَمْ يَجِدْ عِندَهُ فَقَتَلَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ: إِلَـٰهِ مَا هَذَا؟ الَّذِي أَخَذَ الصُّرَّةَ ظَالِمٌ آخَرُ، وَسَلَّطْتَ هَذَا الظَّالِمَ عَلَى الْفَقِيرِ حَتَّى قَتَلَهُ: فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: اشْتَغِلْ بِعِبَادَتِكَ، فَلَيْسَ مَعْرِفَةُ أَسْرَارِ الْمُلْكِ مِنْ شَأْنِكَ، إِنَّ هَذَا الْفَقِيرَ كَانَ قَدْ قَتَلَ أَبَا الْفَارِسِ فَمَكَّنْتُهُ مِنَ الْقَصَاصِ، وَإِنَّ أَبَا الْفَارِسِ كَانَ قَدْ أَخَذَ أَلْفَ دِينَارٍ مِنْ مَالِ آخِذِ الصُّرَّةِ، فَرَدَّدْتُهُ إِلَيْهِ مِنْ تَرَكَتِهِ
Artinya: "Diriwayatkan bahwa ada seorang Nabi yang sedang beribadah di sebuah gunung. Di dekat tempat ibadahnya terdapat sebuah sumber air. Suatu hari, seorang kesatria lewat dan minum dari sumber air itu, lantas ia lupa membawa tasnya yang berisi seribu dinar. Datanglah orang lain dan mengambil tas tersebut. Kemudian, datanglah seorang miskin yang membawa seikat kayu, minum, dan beristirahat sejenak.
Kesatria itu kembali mencarinya tetapi tidak menemukan tas tersebut, lalu ia menganiaya si miskin dan membunuhnya. Nabi yang sedang beribadah di sebuah gunung itu pun lantas bertanya kepada Allah: “Ya Allah, peristiwa macam apa ini? Orang yang mengambil tas itu adalah seorang yang zalim, dan Engkau mengizinkan orang zalim ini untuk membunuh si miskin!?”
Allah pun mewahyukan kepada Nabi tersebut: “Sudahlah, fokuslah dengan ibadahmu. Memahami rahasia-Ku bukanlah urusanmu. Sesungguhnya, si miskin itu telah membunuh ayah si kesatria, sehingga Aku memberinya kesempatan untuk melakukan pembalasan. Dan ayah si kesatria itu telah mengambil seribu dinar dari harta si pengambil tas tersebut.”
Sebagai penutup, memang benar meyakini bahwa setiap takdir dari Allah mengandung kebaikan bukanlah hal yang mudah, terutama saat dihadapkan dengan ujian yang berat. Tapi percayalah, segala yang Allah tentukan tidak pernah sia-sia. Ada pelajaran, ada hikmah, dan ada kebaikan yang menunggu kita, meski belum tampak di depan mata. Di sinilah iman kita diuji, apakah kita mampu berserah dengan sepenuh hati pada kebijakan-Nya atau justru putus asa sembari mempertanyakan ketetapan-Nya. Wallahu a’lam bis shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


