Dark
Light
Dark
Light

Kala yang Mati Merukunkan yang Hidup

Kala yang Mati Merukunkan yang Hidup

Pembacaan kitab Maulid Simtuddurar mengakhiri rangkaian semarak acara peringatan haul ke-113 Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi di Masjid Riyadh Solo Jawa Tengah pada Kamis malam, 24 Oktober 2024. Lautan manusia di sekitar Jl Kapten Mulyadi perlahan mulai surut, seiring dengan deru suara mesin mobil dan bus yang membawa para jemaah untuk pulang ke daerahnya masing-masing.

Banyak dari warga Solo yang masih bertanya: Siapa gerangan tokoh yang membuat puluhan ribu manusia berkumpul bersama tanpa diundang? Lalu, mengapa pula Kota Solo menjadi sahibulbait (tuan rumah) penyelenggaraan acara tahunan ini?

Memang, tokoh yang dihauli, Habib Ali Al-Habsyi, adalah seorang ulama yang berasal dari negara Yaman. Ini mungkin menjadi salah satu faktor, mengapa justru para jemaah yang mengikuti acara haul ini, justru kebanyakan datang dari luar Solo, seperti Malang, Pasuruan, Bangkalan dan Martapura.

Pada tahun 1920-an, salah satu putra Habib Ali yang bernama Habib Alwi hijrah ke Indonesia untuk berdakwah. Setelah berkeliling ke berbagai daerah di Tanah Air, ia kemudian menetap di Solo dan mendirikan Masjid Riyadh yang terletak di Kampung Gurawan Pasar Kliwon. Habib Alwi inilah yang kemudian merintis berbagai kegiatan di Masjid Riyadh dan kemudian diteruskan oleh para putranya, di antaranya yang terkenal yakni Habib Anis. Salah satunya kegiatan yang diselenggarakan sejak masa Habib Alwi, yakni peringatan haul ayahnya, Habib Ali, yang masih terus diperingati hingga sekarang.

Pengingat Kematian
Fenomena semarak acara haul ini sebetulnya merupakan sebuah hal yang dapat kita temui di beberapa daerah di Indonesia. Ismail F. Alatas dalam Journal of Indonesian Islam (2007: 268-276) menyebutkan bahwa tradisi haul menjadi satu acara yang digemari di wilayah Indonesia. Setidaknya ada puluhan bahkan ratusan acara haul yang diselenggarakan, yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara.

Haul berasal dari bahasa Arab yang berarti setahun. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), haul memiliki makna peringatan hari wafat seseorang yg diadakan setahun sekali (biasanya disertai selamatan arwah). Peringatan haul diadakan dengan tujuan utama mendoakan ahli kubur agar mendapat rahmat dan ampunan dari Allah swt.

Kegiatan haul dalam agama Islam, berdasarkan pada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi r.a, Rasulullah saw selalu berziarah ke makam para syuhada di Bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur'an Surah ar-Ra'd ayat 24, Salamun 'alaikum bima shabartum fani'ma uqba ad-daar (Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu). Hadist inilah yang menjadi dasar diperbolehkan peringatan haul atau sejenisnya.

Lalu apa pentingnya diadakan sebuah peringatan haul? Penulis mencatat setidaknya ada tiga hal yang bisa kita petik, hikmah dari peringatan haul. Pertama. acara haul sejatinya mengingatkan kita akan kematian (dzikrul maut). Kata 'mengingat', secara logika tentu hanya dapat dilakukan bagi orang yang pernah mengalaminya, sedangkan kita sendiri belum pernah mengalami kematian.

Oleh karena itu, dengan memperingati untuk kemudian mengangen-angen sebuah peristiwa kematian yang telah menimpa pada orang lain, kita menjadi lebih baik dalam memaknai tujuan kehidupan. Bahwa kita semua pasti akan mengalami kematian. Dus, sebagai orang yang beriman, kita meyakini bahwa setelah kematian ada fase lain yang akan menunggu kita. Maka, untuk menghadapinya kita mesti mempersiapkan bekal.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani ra di dalam kitab Ash-Shaghir, Nabi saw pernah ditanya oleh seorang sahabat. "Siapakah di antara orang-orang Mukmin yang paling cerdas?" Rasulullah saw menjawab, "Orang yang paling banyak ingat mati di antara mereka, dan orang yang paling baik persiapannya untuk kehidupan selanjutnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas." Orang tersebut dikatakan cerdas, sebab ia tahu dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat merupakan alam yang kekal selamanya. Maka, ia menggunakan kehidupan ini sebagai sarana untuk menanam kebaikan, agar kelak juga dapat memanen kebaikan.

Kebermanfaatan
Hikmah berikutnya dari penyelenggaraan haul adalah kebermanfaatan. Pada acara haul, biasanya akan dibacakan sebuah manaqib (riwayat hidup) seseorang. Di dalamnya terdapat banyak keteladanan yang dapat kita ambil. Salah satu teladan tersebut yakni manfaat yang telah mereka berikan untuk orang lain. Seseorang yang diperingati haulnya, menurut Abdul Rozaq Shofawi (2010), dikarenakan telah memberikan banyak jasa kepada agama ataupun masyarakat.

Di dalam lingkup yang paling terkecil sekalipun seperti keluarga, seorang anak akan terus mengingat jasa dari kedua orangtuanya, atau para guru yang dikenang, sebab jasa mereka dalam menyebarkan ilmu kepada para muridnya.

Bahkan, meskipun orang-orang tersebut telah meninggal, masih saja dapat menebar kemanfaatan dan keberkahan untuk orang lain. Lihat saja di berbagai makam Walisongo misalnya, banyak orang yang mendapat cipratan berkah (baik orang yang berjualan, jasa transportasi dan sebagainya) dari para aulia tersebut. Tentunya, para wali tadi hanya menjadi wasilah (sarana) datangnya rezeki, yang diberikan Allah swt.

Ketiga. Peringatan haul dapat mempersatukan sebuah kaum. Seperti yang terlihat pada haul Habib Ali, masyarakat dari berbagai lapisan duduk bersama dalam sebuah majelis, mereka makan dengan lahap dalam satu nampan bersama; tak peduli kaya-miskin, tua-muda, alim-awam.

Mereka juga berasal dari berbagai suku daerah yang berbeda-beda; Jawa, Madura, Banjar, Arab, Cina, Sunda, Betawi dan sebagainya. Kerukunan inilah yang tak ternilai harganya. Hal terakhir ini pula mungkin bisa menjadi semacam tamparan bagi kita: Bahwa orang yang mati saja dapat merukunkan orang yang hidup. Lalu kenapa justru yang hidup tidak mampu rukun?

 

=============      

Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama RI.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

M Ajie Najmuddin
Pengaji Sejarah NU


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo