"Seorang budak layaknya seorang yang merdeka jika ia ridha, dan seorang yang merdeka layaknya seorang budak jika ia masih meninta-minta."
(Syekh Sayid Muhammad Syatha Dimyati)
***
Qana'ah berarti merasa cukup, rela, dan menerima dengan lapang dada atas rezeki yang diberikan Allah. Secara sederhana, qana'ah adalah sikap hati yang bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, tanpa merasa kekurangan atau ingin lebih dari apa yang dibutuhkan.
Ajaran qana'ah sangat ditekankan dalam Islam karena mengajarkan umat untuk selalu merasa puas dan bahagia atas apa yang Allah karuniakan, baik dalam hal rezeki, keadaan, maupun nasib.
Nabi Muhammad SAW dalam hal ini senantiasa mengajarkan umatnya untuk selalu bersikap qana'ah dalam menjalani kehidupan. Sikap ini diajarkan Nabi baik melalui perkataan maupun tindakan sehari-harinya. Nabi SAW hidup dengan sangat sederhana meskipun beliau memiliki kesempatan untuk hidup mewah.
Penggambaran qana'ah bisa kita simak dalam syair yang disusun oleh Syekh Sayid Muhammad Syatha Dimyati:
أَلْعَبْدُ حُرٌّ إِنْ قَنِعَ © وَالْحُرُّ عَبْدٌ إِنْ طَنَعَ
فَاقْنَعْ وَلَا تَطْنَعْ فَمَا © شَيْئٌ يَشِيْنُ سِوَى الطَّمَعُ
Artinya: “Seorang budak layaknya seorang yang merdeka jika ia ridha, dan seorang yang merdeka layaknya seorang budak jika ia masih meninta-minta.” Maka ridhalah dan jangan meminta-minta, karena sesungguhnya tidak ada perangai yang lebih jelek selain daripada thama’ (mengharap kepada selain Allah)." (Syekh Sayid Muhammad Syatha Dimyati, Kifayatul Atqiya, [Indonesia: Dar Ihya], hal. 18-19).
Bersikap Qana'ah untuk Menggapai Kebahagiaan
Seringkali dalam hidup ini, kita sebenarnya sudah memiliki banyak harta namun tak kunjung merasa bahagia. Hati kita senantiasa diliputi oleh kehampaan. Dahulu saat susah, kita mati-matian berusaha memperbanyak harta dengan harapan semoga kebahagiaan itu akan kita rasakan ketika memiliki banyak harta. Nyatanya, semakin kita mengejar harta, semakin hampa rasa di dada.
Qana'ah dalam hal ini adalah sikap mulia yang menyadari bahwa segala nikmat adalah berasal dari Allah SWT dan karenanya kita senantiasa merasa cukup atas nikmat tersebut. Dalam sebuah hadits riwayat Ubaidillah bin Mihshan al-Anshari, Nabi memberikan pelajaran kepada kita tentang sikap qana'ah atas apapun nikmat pemberian Allah hingga seolah kita mendapatkan dunia seisinya:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Artinya: “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141).
Hadits ini menunjukkan bahwa sesungguhnya dengan tiga nikmat saja, yakni nikmat aman, sehat, dan kenyang, manusia sudah hidup cukup hingga seolah ia telah memiliki dunia dan seisinya. Asalkan, ia mengedepankan sikap qana'ah dalam hatinya.
Bagi Rasulullah, seseorang yang memiliki sikap qana'ah, adalah orang yang sangat beruntung karena dia seolah telah memegang kunci kebahagiaan. Dalam riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ
Artinya: ”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138)
Tips Meraih Sikap Qana'ah
Masih dari riwayat Ibnu Majah, Rasulullah juga memberikan beberapa tips agar seorang muslim bisa merasakan sikap qana'ah. Yakni:
« انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ ». قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ « عَلَيْكُمْ »
Artinya: ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan - Abu Mu’awiyah menambahkan- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138)
Dengan selalu melihat orang yang kondisinya berada di bawah kita, maka kita akan memiliki kekuatan untuk merasa bersyukur atas apa yang Allah karuniakan kepada kita.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa mengacu pada konsep qana'ah, seseorang dikatakan sebagai orang kaya bukan berdasarkan atas kekayaan harta, namun berdasarkan pada kekayaan hatinya:
« لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »
Artinya: ”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, Tirmidzi no. 2373, Ibnu Majah no. 4137)
Banyak contoh seseorang yang memiliki banyak harta namun hidupnya selalu merasa gelisah karena dalam hatinya terdapat sikap tamak, selalu tidak puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya sebagai rezeki. Ia bahkan tidak lagi mempedulikan dari mana harta yang ia dapatkan itu berasal. Entah halal atau haram. Sikap demikian sesungguhnya menunjukkan kefakiran orang tersebut.
Sementara seseorang yang kaya hati berarti ia selalu merasa bersyukur dan menerima atas apa yang Allah anugerahkan kepada dirinya. Hatinya bersih dari rasa tamak dan rakus.
Contoh Sikap Qana'ah Nabi
Dalam menjalani kehidupan, Rasulullah SAW sebagai suri tauladan umat manusia, senantiasa memberikan contoh sikap qana'ah. Diantaranya ialah:
- Rasulullah memilih hidup sederhana. Istri-istri beliau sering mendapati perut beliau kosong, makan roti kasar yang sederhana, tinggal di rumah yang sederhana, tidur menggunakan alas tipis yang sederhana dan menjahit pakaian serta sandal beliau sendiri.
- Beliau mencukupkan diri dengan memakan hasil usaha sendiri. Tidak mau memakan harta zakat atau baitul mal yang susungguhnya jikapun beliau menggunakan harta tersebut, niscaya tidak ada umat yang protes. Beliau bahkan seringkali bersedekah dan menghadiahkan banyak harta untuk kepentingan para Sahabatnya, terlebih untuk kepentingan dakwah Islam.
- Beliau selalu rajin bekerja dan berusaha mencapai hasil terbaik. Sebagaimana kita ketahui profesi beliau adalah berdagang. Padahal sesungguhnya beliau bisa saja meminta kepada Allah untuk memberikan kekayaan kepada beliau tanpa bekerja, namun beliau tetap memilih bekerja keras.
- Sepanjang hidupnya, beliau sama sekali tidak pernah mengeluh dan selalu menerima atas takdir Allah yang berlaku dalam kehidupan beliau.
- Beliau selalu bersyukur dan merasa cukup atas apapun nikmat Allah yang diberikan kepada beliau. Dengan hal tersebut, maka beliau tidak pernah merasa iri serta dengki dengan apa yang telah didapatkan oleh orang lain. Ini karena beliau selalu merasa bahwa apa yang beliau dapatkan dari Allah adalah anugerah terbaik.
- Seringkali sesungguhnya Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau kenikmatan duniawi. Namun beliau selalu menolaknya karena tidak tertarik oleh tipu daya dunia.
Demikian ajaran Nabi kepada umatnya agar senantiasa bersikap qana'ah demi meraih kehidupan yang bahagia. Semoga kita selalu bisa mengamalkan ajaran beliau. Wallahu a’lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


