Beberapa hari yang lalu, kita menyaksikan umat Islam berbondong-bondong menunaikan ibadah haji mencapai puncak prosesi dengan menjalanan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah. Selain termasuk dalam rukun haji yang wajib ditunaikan, wukuf di Arafah merupakan ibadah yang memiliki jejak dakawah Rasulullah SAW dan menjadi bagian penting dalam sejarah kenabian.
Pada tahun ke-10 Hijriah (632 M), Nabi Muhammad SAW melaksanakan Haji Wada’ (haji terakhir) sebelum akhirnya beliau wafat tiga bulan sesudahnya, tepatnya pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah di usianya yang ke 63 tahun.
Haji Wada’ menjadi haji terakhir Nabi SAW karena setelah tahun ke-10 Hijriah, Nabi SAW memang tidak pernah lagi menunaikan ibadah haji. Dalam haji terakhirnya, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah yang menggetarkan di Lembah Urana pada 9 Zulhijah tahun ke-10 Hijriah.
Menurut beberapa Riwayat disebutkan bahwa Haji Wada’ diikuti oleh lebih dari 100 ribu umat Islam. Sebagian Riwayat juga menyebut bahwa setidaknya 140 ribu umat Islam turut melaksanakan ibadah haji bersama Rasulullah SAW Ketika itu.
Pokok Isi Khutbah Nabi SAW dalam Haji Wada’
Prosesi puncak dalam melaksanakan ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi, “al-hajju ‘arafah” yang bermakna bahwa inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah.
Amin Duwaidar dalam buku Suwar Min Hayah ar-Rasul sebagaimana dinukil Mohammad Natsir dalam Fiqhud Dakwah (1977) melukiskan peristiwa Haji Wada’ sebagai berikut:
“Pagi hari, sesudah shalat shubuh, berangkatlah Rasulullah SAW dari Mina menuju ke Padang Arafah. Rasulullah SAW menunggang Unta beliau, Alqashwa, diiringi oleh ribuan umat yang sama-sama melakukan ibadah haji. Sambil berjalan, mereka bertakbir dengan suara bergelombang, berirama, bersahut-sahutan dan menyerukan talbiyah (terjemahannya): ‘Inilah kami, ya Tuhan kami, inilah kami, memenuhi panggilan dan perintah-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, dan nikmat, adalah bagi-Mu, dan Engkaulah yang menguasai segala sesuatu. Tidak ada yang menyekutui kekuasaan-Mu….!’
Sesampainya di Tengah-tengah Lembah di Arafah, di sebuah ketinggian, Rasulullah SAW menghentikan unta yang ditungganginya. Di dekat Rasulullah SAW sudah berdiri Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf, pemilik suara keras dan lantang yang akan bertugas mengulang kata-kata Nabi SAW agar terdengar oleh seluruh jamaah yang berkumpul di sana. Dengan tetap duduk di atas unta agar seluruh jamaah dapat melihat, Nabi Muhammad SAW memulai khutbatul wada’ dengan kalimat syukur kepada Allah SWT."
KH. Ahmad Chodri Romli dalam karyanya Ensiklopedia Haji & Umrah: Ensiklopedia Terlengkap Lintas-Mazhab Seputar Haji dan Umrah dari A sampai Z (2028), mengatakan bahwa terdapat beberapa pesan Nabi dalam khutbahnya. Berikut ini adalah beberapa pesan tersebut:
- Penegasan bahwa semua umat Islam bersaudara
- Larangan bagi umat Islam mengambil harta dan hak orang mukmin lainnya
- Wasiat Rasulullah SAW agar umat Islam memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
- Perintah bagi umat Islam agar menunaikan Amanah
- Penghapusan segala macam amalan dan tradisi jahiliyah
- Pengampunan atas tuntutan “utang darah” di zaman jahiliyah
- Penegasan tentang keharaman riba
- Perintah kepada suami-isteri agar saling memenuhi haknya
Redaksi Khutbah Rasulullah SAW
Beberapa kitab hadiTs telah mencantumkan penggalan-penggalan isi khutbatul wada’ Nabi Muhammad SAW. Namun, redaksi lengkap isi khutbah Nabi SAW dalam Haji Wada’ dapat dilihat dalam kitab Sunan Abi Dawud dan Sirah Nabawiyyah Riwayat Ibnu Hisyam.
Berikut ini adalah terjemahan isi khutbah wada’ yang disampaikan oleh Rasulullah SAW:
“Segala puji adalah bagi Allah. Kita memuja dan memuji Dia dan memohon pertolongan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung pada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita dan dari segala perbuatan yang buruk. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka takkan ada siapapun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tak ada siapa pun yang dapat menunjukkan jalan baginya.
Aku naik saksi, bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Maha Esa Ia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku naik saksi, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Wahai manusia, dengarkanlah pesanku baik-baik.
Aku akan menyampaikan kepadamu satu keterangan (sebagai wasiat), karena sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini di tempat aku berdiri (sekarang) ini.
“Wahai manusia, Sesungguhnya darahmu (jiwamu), harta bendamu dan kehormatanmu adalah suci dan haram (dilarang diganggu), sebagaimana suci dan haramnya bulan ini (bulan haji), sampai kamu kelak menghadap Tuhan. Sungguh kamu pasti akan menemui (menghadap) Tuhan, di mana Ia pasti akan menanyakan tentang segala amal perbuatanmu.
Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!)
Maka barangsiapa ada amanat di tangannya, hendaklah disampaikannya kepada orang yang memberikan amanat itu kepadanya.
Ingatlah, tak seorang pun yang melakukan tindak pidana melainkan ia sendiri yang bertanggungjawab atasnya. Tidak ada anak bertanggungjawab terhadap tindak pidana ayahnya, pun juga tidak seorang ayah bertanggungjawab terhadap tindak pidana anaknya.
Wahai manusia, dengarkanlah kata-kataku ini dan pahamkan semuanya.
Sesungguhnya seorang Muslim dan Muslim lainnya adalah umat yang bersaudara. Tidak ada sesuatu yang halal bagi seorang muslim dari saudaranya melainkan apa yang telah direlakan kepadanya. Maka janganlah kamu menzalimi dirimu sendiri.
Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!).”
Khutbah Wada’ mendeklarasikan prinsip-prinsip Islam tentang persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang ras, suku bangsa dan warna kulit. Pada bagian lain khutbah yang monumental itu ditekankan beberapa hal, yaitu:
“Sesungguhnya riba sudah dihapuskan. Tapi kamu akan memperoleh modal saham kamu. Maka janganlah kamu berlaku zalim agar kamu pun tidak dizalimi orang.
Wahai segenap manusia! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Esa (Satu), dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa itulah. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuhlah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah.
Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!).
Wahai manusia, takutlah kepada Allah. Kerjakanlah shalat yang lima waktu, lakukanlah puasa, berhajilah ke Baitullah dan tunaikanlah zakat hartamu dengan sukarela serta patuhlah atas apa yang aku perintahkan. Kamu pasti kelak akan bertemu dengan Tuhanmu, dan Ia pasti akan menanyakan kepadamu tentang segala perbuatanmu.
Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!)
Sesungguhnya zaman itu beredar, musim berganti.
Wahai segenap manusia! Sesungguhnya setan itu sudah putus harapan akan (terus) disembah-sembah di negerimu ini. Akan tetapi sesungguhnya dia puas dengan ditaati dalam hal-hal selain daripada itu (disembah), yakni dalam perbuatan-perbuatan yang kamu (sebenarnya) benci, maka waspadalah terhadap tipu daya (setan) yang akan merugikan agamamu.”
Rasulullah berwasiat kepada seluruh umat Islam agar senantiasa berbuat baik, menghormati dan melindungi kaum wanita serta menjaga kemurnian garis keturunan.
Sebagai klimaks, Rasul menegaskan, “Camkanlah perkataanku ini, wahai manusia! Sesungguhnya telah kusampaikan kepadamu, dan sesungguhnya aku sudah meninggalkan untuk kamu sekalian sesuatu, yang bila kamu berpegang teguh kepadanya, pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni sesuatu yang terang dan nyata, Kitabullah (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya.”
Rasulullah menutup Khutbah Wada’ dengan pernyataan dan pertanggungjawaban terbuka kepada Allah,
“Wahai Tuhanku! Persaksikanlah, persaksikanlah wahai Tuhanku.
Maka hendaklah yang telah menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga barangsiapa yang menyampaikan akan lebih mendalam memperhatikannya daripada sebagian yang mendengarkannya. Mudah-mudahan bercucuranlah rahmat Allah dan berkat-Nya atas kamu sekalian!”
Sesudah menyampaikan khutbah perpisahan, Rasulullah SAW turun dari untanya Alqashwa. Setelah menunaikan shalat dzuhur dan ashar yang dijama’ secara berjamaah, Rasulullah menuju suatu tempat Bernama Sakhrat, di sanalah turun wahyu surat Al-Maidah ayat 3 yang menandai penutup risalah kenabian.
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Di antara sahabat Nabi SAW yang menyimak wahyu tersebut adalah Abu Bakar As-Shiddiq, beliau menangis dengan terisak berderai air mata. Bahkah, para sahabat menangkap isyarat bahwa sosok manusia yang dicintai Allah SWT dan para umatnya itu tak lama lagi akan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya setelah menunaikan dakwahnya dalam menyampaikan risalah dan membumikan ajaran Allah di bumi selama 23 tahun.
Editor: Muhammad Faizin


